Singapura Jadi Surga Baru Penyimpanan Emas Orang Kaya Dunia, Tembus 800 Ton
Singapura semakin menarik minat orang kaya dunia sebagai pusat penyimpanan emas fisik di tengah perang, ketidakstabilan politik, dan ketidakpastian ekonomi global yang mendorong investor mencari tempat aman untuk menyimpan kekayaan. Negara tersebut menjadi tujuan bagi kalangan kaya dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Timur Tengah, sekaligus menantang posisi Swiss sebagai salah satu pusat penyimpanan emas dunia.
"Keluarga kaya tradisional yang selama ini menyimpan emas fisik di negara lain kini memindahkan sebagian asetnya ke Singapura. Sementara itu, keluarga yang sebelumnya tidak memegang emas fisik mulai membeli melalui bank swasta atau pedagang logam mulia untuk disimpan di Singapura," kata salah satu pendiri Farro Capital, Manish Tibrewal, dikutip dari Seoul Economic Daily, Minggu (25/10/2026).
Baca Juga:Mengapa Rusia Jual Cadangan Emas, tapi China Membelinya?
Berdasarkan estimasi pedagang logam mulia J. Rotbart & Co., jumlah emas milik swasta yang disimpan di Singapura meningkat sekitar 16 kali lipat sejak 2014 dan melampaui 800 ton pada 2025. Lonjakan permintaan tersebut turut memenuhi kapasitas fasilitas penyimpanan emas Le Freeport, yang dikenal sebagai Fort Knox of Asia, dengan sebagian besar brankas bawah tanahnya dilaporkan telah penuh.
Pengelola fasilitas penyimpanan emas lainnya, The Reserve, juga mencatat peningkatan kepemilikan emas nasabah dalam program penyimpanannya hingga tiga kali lipat dibandingkan awal 2020. Hingga September 2026, fasilitas tersebut menyimpan 8,6 ton emas, dengan sekitar 90 di antaranya dimiliki nasabah asing. Sementara itu, sekitar 40 klien Eropa dilaporkan telah memindahkan sebagian emas mereka dari Swiss ke Singapura atau memilih Singapura untuk menyimpan pembelian emas baru.
Peralihan tersebut didorong kekhawatiran terhadap defisit fiskal Amerika Serikat, inflasi, ketidakpastian suku bunga jangka panjang, serta konflik geopolitik. Di tengah berbagai risiko tersebut, investor tidak hanya mempertimbangkan kepemilikan emas sebagai aset lindung nilai, tetapi juga lokasi penyimpanan yang dinilai aman untuk menjaga kekayaan dalam jangka panjang.
Pemerintah Singapura memanfaatkan tren tersebut untuk memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan emas Asia. Otoritas Moneter Singapura (MAS) menyediakan layanan penyimpanan emas bagi bank sentral asing dan lembaga pengelola kekayaan negara, sedangkan Singapore Exchange berencana meluncurkan sistem kliring untuk transaksi emas over-the-counter pada akhir 2026. Singapura juga memperluas insentif pajak bagi dana investasi dan family office yang memenuhi persyaratan untuk berinvestasi pada logam mulia fisik.
Baca Juga:Indonesia Pangkas Ekspor Gas Pipa ke Singapura 9, Berlaku Mulai 24 Oktober
Sektor keuangan swasta turut memperluas layanan untuk menangkap permintaan dari investor internasional. Nomura International Wealth Management meluncurkan layanan penyimpanan emas fisik di Singapura setelah menerima peningkatan permintaan dari klien luar negeri, termasuk Timur Tengah. Sementara itu, Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC) mencatat kepemilikan emas nasabah pada unit perbankan privatnya, Bank of Singapore, meningkat lebih dari 40 dibandingkan akhir 2025.










