Tiga Sentimen Bayangi IHSG, Simak Prediksi Pekan Depan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas pada perdagangan pekan depan, dengan pelaku pasar mencermati rilis laporan keuangan emiten perbankan besar, evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support 5.185 dan resistance 5.563.
"Sepekan ke depan, kami memperkirakan pergerakan IHSG mulai terbatas dengan support 5.185 dan resistance 5.563," ujar Herditya kepada SindoNews, Minggu (25/10/2026).
Baca Juga:Aksi Jual Investor Asing Sepanjang 2026 Tercatat Tembus Rp94,87 Triliun, IHSG Terkoreksi 37,82
Ia menjelaskan terdapat tiga sentimen utama yang akan memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang pekan depan. Sentimen pertama berasal dari rilis laporan keuangan kuartalan sejumlah emiten perbankan besar yang diharapkan dapat menopang indeks di tengah terbatasnya ruang penguatan. Menurut Herditya, kinerja emiten perbankan sejauh ini masih cenderung moderat, tetapi laporan keuangan terbaru diharapkan dapat memperbaiki pergerakan IHSG.
Sentimen kedua adalah perkembangan evaluasi MSCI terhadap ekosistem pasar modal Indonesia serta langkah strategis organisasi pengatur mandiri atau self-regulatory organizations (SRO) dalam merespons persoalan tersebut. Pelaku pasar akan mencermati apakah perkembangan dan langkah yang ditempuh mampu memberikan sentimen positif bagi pasar saham domestik.Dari eksternal, perhatian investor tertuju pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Konsensus pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan atau Federal Funds Rate (FFR) pada pertemuan mendatang.
Baca Juga:IHSG Hari Ini Ditutup Terangkat Naik ke 5.387, Transaksi Sentuh Rp15,9 T
Meski demikian, arah kebijakan moneter The Fed masih dibayangi tekanan inflasi global. Herditya menilai bank sentral AS masih bersikap hawkish dan membuka kemungkinan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali pada 2026, sehingga perkembangan keputusan dan sinyal kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian pelaku pasar.










