17 Peneliti UGM Masuk Daftar Worlds Top 2 Scientists 2026
17 peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) masuk dalam daftar World’s Top 2 Scientists 2026. Top 2 World Scientists merupakan daftar yang dikeluarkan oleh peneliti dari Stanford University dengan data penerbit ilmiah Elsevier.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia mengapresiasi prestasi dan inovasi yang dilakukan 17 peneliti UGM yang berhasil masuk dalam daftar Top 2 ilmuwan berpengaruh dunia. Ova meyakini capaian tersebut adalah salah satu tanda atas kualitas pendidikan, riset, dan publikasi yang dilakukan peneliti dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Mahasiswi UNEJ Raih Peneliti Terbaik IRN 2025–2026 Berkat Inovasi Keju Nabati
“Segenap capaian ini senantiasa akan menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di masa depan,” katanya, dikutip dari laman UGM, Sabtu (17/10/2026).
Dari 17 daftar peneliti UGM yang masuk daftar ilmuwan berpengaruh di dunia tersebut, umumnya mengembangkan penelitian dengan fokus yang beragam, mulai dari pemanfaatan material ramah lingkungan dan pemetaan ekosistem pesisir hingga peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak.
Baca juga: 19 Dosen Unpad Masuk Daftar Top 2 Ilmuwan Dunia 2026
17 Peneliti UGM Masuk Daftar World’s Top 2 Scientists 2026
1. Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D. (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan)2. Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., Sp.A(K)., Ph.D. (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan)3. dr. Sumadi Lukman Anwar, M.Sc., Ph.D., Sp.B., Subsp.Onk. (K) (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan)
4. Prof. Dr. Ir. Ragil Widyorini, S.T., M.T., IPU. (Fakultas Kehutanan)
5. Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For. (Fakultas Kehutanan)
6. Dr. Yehezkiel Steven Kurniawan, S.Si., M.Eng. (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)
7. Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng. (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)
8. Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng. (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)
9. Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si. (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)10. Prof. Drs. Jumina, Ph.D. (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)
11. apt. Eka Noviana, Ph.D. (Fakultas Farmasi)
12. Prof. Dr. apt. Abdul Rohman, S.F., M.Si. (Fakultas Farmasi)
13. Muhammad Akhsin Muflikhun, S.T., MSME., Ph.D. (Fakultas Teknik)
14. Prof. Dr. Ir. Kusmono, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng. (Fakultas Teknik)
15. Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. (Fakultas Kedokteran Gigi)16. Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc. (Fakultas Geografi)
17. Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris (Fakultas Geografi).
Penelitian Indah Kartika Murni untuk Deteksi Dini Penyakit Anak
Salah satu peneliti UGM yang masuk dalam daftar tersebut adalah Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., Sp.A(K)., Ph.D. dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. Penelitiannya berfokus pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak, pencegahan penyakit, serta deteksi dini gangguan kesehatan.Salah satu risetnya mengkaji keterlambatan diagnosis penyakit jantung bawaan pada anak. Penelitian terhadap sekitar 850 anak menemukan bahwa sekitar 60 persen mengalami keterlambatan diagnosis. Angka tersebut meningkat menjadi lebih dari 85 persen pada anak dengan penyakit jantung bawaan berat atau kritis.
Temuan itu mendorong penelitian skrining menggunakan pulse oximeter pada bayi baru lahir untuk membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis. Penelitian di empat rumah sakit di Yogyakarta melibatkan sekitar 1.450 bayi dan menemukan delapan bayi yang teridentifikasi memiliki kondisi tersebut melalui pemeriksaan lanjutan.
Selain itu, Indah bersama tim mengembangkan surveilans berbasis air limbah untuk memantau peredaran patogen, termasuk SARS-CoV-2 dan bakteri penyebab demam tifoid. Pendekatan ini dapat melengkapi surveilans epidemiologi konvensional karena mampu membantu memantau patogen di masyarakat, termasuk ketika orang yang terinfeksi tidak mendatangi fasilitas kesehatan.
Indah menilai tantangan penelitian kesehatan tidak hanya terletak pada penemuan ilmiah, tetapi juga penerapan hasil riset dalam pelayanan sehari-hari. Keterbatasan fasilitas, pendanaan, dan tenaga kesehatan menjadi sejumlah kendala yang perlu diatasi melalui kolaborasi lintas disiplin dan kerja sama dengan pemangku kebijakan.
Pramaditya Wicaksono Kembangkan Pemetaan Ekosistem Pesisir
Dari Fakultas Geografi, Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc., menekuni penelitian penginderaan jauh untuk memetakan keanekaragaman hayati pesisir, terutama padang lamun, terumbu karang, dan habitat bentik.Penelitiannya berkontribusi pada pengembangan peta ekosistem pesisir yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Bersama Indonesian Seagrass Mapping Partnership dan sejumlah mitra, ia turut berkontribusi dalam penyusunan peta nasional terumbu karang dan padang lamun Indonesia yang diluncurkan pada 2025.Data pemetaan tersebut dapat digunakan sebagai referensi untuk menghitung luas padang lamun nasional, mendukung pengelolaan kawasan pesisir, serta mengembangkan kajian karbon biru.
Pramaditya mengungkapkan, keterbatasan anggaran menjadi salah satu tantangan dalam penelitian pesisir karena membutuhkan biaya besar. Untuk mengatasinya, ia membangun kolaborasi dengan berbagai institusi nasional dan internasional. Meningkatnya perhatian terhadap karbon biru dan ekonomi biru juga membuka peluang bagi pengembangan penelitian padang lamun.
Ragil Widyorini Teliti Biokomposit Ramah Lingkungan
Peneliti UGM lainnya, Prof. Dr. Ir. Ragil Widyorini, S.T., M.T., IPU., dari Fakultas Kehutanan, mengembangkan teknologi hasil hutan, khususnya material komposit ramah lingkungan yang memanfaatkan serat alam, limbah pertanian, dan limbah kehutanan.Salah satu fokus penelitiannya adalah pengembangan biokomposit menggunakan bahan baku alternatif dan perekat alami bebas formaldehida. Inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah limbah sekaligus menghasilkan material yang berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Contoh penelitiannya meliputi pemanfaatan kotoran gajah menjadi produk komposit dan pengolahan kayu hasil penjarangan menjadi komposit laminasi untuk aplikasi struktural.
Ragil menilai Indonesia memiliki sumber daya alam yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku komposit. Namun, keterbatasan pendanaan, sumber daya, dan waktu menjadi tantangan dalam menghasilkan penelitian berkualitas. Karena itu, ia mendorong kolaborasi dengan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat agar hasil penelitian semakin bermanfaat.










