Pertama Kali sejak Perang Ukraina, Diplomat Rusia dan Jerman Cairkan Hubungan yang Penuh Permusuhan

Pertama Kali sejak Perang Ukraina, Diplomat Rusia dan Jerman Cairkan Hubungan yang Penuh Permusuhan

Global | sindonews | Minggu, 27 September 2026 - 18:30
share

Menteri luar negeri Rusia dan Jerman bertemu di New York di sela-sela Sidang Umum PBB pada hari Sabtu; ini merupakan pembicaraan pertama mereka sejak sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

Hubungan antara Moskow dan Berlin—sekutu dekat Ukraina—telah membeku sejak invasi Rusia, dan ketegangan semakin meningkat setelah insiden pesawat nirawak (drone) di Bandara Leipzig/Halle di Jerman timur pada bulan Agustus.

Sebagai tanda masih dinginnya hubungan kedua negara, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan dalam konferensi pers bahwa ia tidak mendapatkan informasi baru dari mitranya asal Jerman dalam pembicaraan tersebut—hal-hal yang disampaikan itu sebenarnya sudah pernah diungkapkan Berlin secara terbuka dalam pernyataan resmi mereka.

"Saya katakan kepadanya secara terus terang... Anda sebenarnya bisa saja menelepon saya dan berkata: 'baca saja pernyataan saya'," ujar Lavrov, dilansir Al Arabiya.

Meski demikian, para menteri tersebut membahas hubungan bilateral dan perang di Ukraina, menurut keterangan pejabat dari kedua belah pihak.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul memanfaatkan pembicaraan itu untuk mendesak Lavrov agar melakukan "segala upaya demi mencapai kesepakatan mengenai ekspor biji-bijian melalui Laut Hitam," ungkap sumber delegasi Jerman.

Pertemuan ini berlangsung di tengah upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali ekspor biji-bijian dan energi Rusia serta Ukraina melalui Laut Hitam, yang sebelumnya sangat terhambat akibat serangan terhadap kapal dan infrastruktur pelabuhan.

Dalam konferensi pers tersebut, Lavrov mengatakan bahwa Rusia telah melakukan pembicaraan dengan India, Mesir, dan Turki mengenai usulan untuk menjamin keamanan pelayaran di Laut Hitam, yang berpotensi melibatkan kesepakatan bilateral antara Rusia dan negara-negara tersebut.

"Diperlukan pembahasan terpisah dengan pihak Ukraina, bukan dengan bahasa permohonan, melainkan tuntutan," ujarnya, seraya menyalahkan Ukraina atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut.Ukraina menyatakan terbuka terhadap kesepakatan dan menganggap Rusia serta invasinya sebagai penyebab utama segala dampak buruk akibat perang ini. Wadephul mengatakan kepada Lavrov, "Waktu sangatlah krusial: mengingat adanya kekurangan pangan di banyak negara — khususnya di negara-negara Global Selatan — semua pihak harus bersedia terlibat secara konstruktif," ujar sumber dari delegasi Jerman tersebut.

Menteri asal Jerman itu juga menyampaikan kepada Lavrov bahwa "solusi pragmatis dapat membuka jalan bagi langkah-langkah konkret selanjutnya," kata sumber tersebut.

Sebagai tanda betapa sensitifnya pertemuan dengan menteri luar negeri Rusia di tengah situasi perang saat ini, Wadephul memberi tahu sekutu-sekutu Eropanya mengenai pertemuan tersebut setelahnya melalui sebuah pesan yang dilihat oleh Reuters.

"Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk menegaskan kembali posisi kami terkait perang agresi Rusia terhadap Ukraina dan menyerukan gencatan senjata segera dan menyeluruh, dengan fokus mendesak pada ekspor biji-bijian serta infrastruktur energi," tulisnya.

Pemerintah Jerman menyatakan bulan ini bahwa mereka telah menyimpulkan bahwa Rusia bertanggung jawab atas upaya serangan pesawat nirawak tersebut. Sebagai tindakan balasan, Jerman menutup sebuah konsulat dan pusat kebudayaan Rusia di Berlin.Kedutaan Besar Rusia di Berlin menepis tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "provokasi yang direkayasa" serta "gelombang baru histeria anti-Rusia di Jerman."

Wadephul memanfaatkan pembicaraan tersebut untuk mendesak Rusia agar "meninggalkan jalan eskalasi yang berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO," menurut sumber delegasi tersebut.

Wadephul mengatakan bahwa insiden seperti upaya serangan di Leipzig ataupun serangan hibrida lainnya tidak akan menggoyahkan tekad Jerman untuk mendukung Ukraina, menurut sumber-sumber delegasi.

Topik Menarik