Mahasiswa Indonesia-Jepang Ubah Limbah Jaring Ikan Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Mahasiswa Indonesia-Jepang Ubah Limbah Jaring Ikan Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 18 September 2026 - 22:03
share

Sejumlah mahasiswa Indonesia dan Jepang mengembangkan inovasi ekonomi sirkular dengan mengolah limbah jaring ikan di Tanimbar serta sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi. Kedua proyek tersebut mengintegrasikan solusi persoalan lingkungan dengan peluang pengembangan usaha berkelanjutan.

"BESTS memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk keluar dari ruang kelas dan melihat secara langsung bagaimana isu sustainability hadir dalam kehidupan masyarakat maupun dunia industri," kata Dekan Faculty of Engineering and Technology Sampoerna University, Farid Triawan dalam keterangannya, Jumat (19/9/2026).

Baca Juga:Sulap Sampah Jadi Listrik untuk 100.000 Rumah, Danantara Investasi Rp2,8 Triliun di Bogor

Salah satu inovasi bertajuk A Circular Economy Business for Fishing-Net Waste in Tanimbar dikembangkan Chintya Ramadhani, Keyzia Ariola Putri, Stivan Delon Sahertian, Tsukui Shun, dan Mardo Malawau. Proyek tersebut mengeksplorasi pemanfaatan kembali limbah jaring ikan melalui proses daur ulang untuk mendukung pengembangan jaring ikan yang lebih ramah lingkungan.

Inovasi lainnya, Eco-Fuel, digarap Harsen Ramadhan, Luthfi Ahmad, Nona Brillyanti, Koki Nakazaki, dan Hiroki Nozaki dengan mengolah limbah plastik bernilai ekonomi rendah melalui proses pirolisis menjadi bahan bakar cair alternatif. Gagasan tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan tingginya biaya bahan bakar pertanian sekaligus keterbatasan penyerapan limbah plastik dalam sistem pengelolaan sampah.

Kedua proyek dikembangkan melalui Building Entrepreneurial Mindset for Sustainable Technology and Society (BESTS) Program 2026, hasil kolaborasi Sampoerna University dan Institute of Science Tokyo, Jepang. Program tersebut memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan dan merancang solusi melalui pembelajaran lintas negara serta disiplin ilmu, dengan melibatkan perwakilan industri, termasuk INPEX Masela Ltd.Farid mengatakan pendekatan program tidak hanya berfokus pada pemahaman keberlanjutan, tetapi juga mendorong mahasiswa mengembangkan pola pikir kewirausahaan atau entrepreneurial mindset. Kemampuan tersebut mencakup mengidentifikasi peluang dari persoalan, mengembangkan solusi, dan menciptakan nilai melalui pengetahuan yang dimiliki.

Baca Juga:Gunung Sampah Longsor, 30 Orang Tewas Terkubur

Kedua proyek tersebut memperoleh apresiasi melalui Youth Innovation Award in Sustainability dari ASEAN Centre for Energy (ACE), dengan tim A Circular Economy Business for Fishing-Net Waste in Tanimbar meraih nilai tertinggi. Pengembangan gagasan ini juga dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 8, 12, dan 14, yang mencakup pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan produksi bertanggung jawab, serta perlindungan ekosistem laut.

Sementara itu, Prof. Eri Ota dari Institute of Science Tokyo menilai kolaborasi mahasiswa Indonesia dan Jepang dapat memperluas perspektif dalam memahami persoalan keberlanjutan.

"Ketika mahasiswa dari dua negara dengan latar belakang berbeda bekerja bersama, mereka dapat melihat tantangan sustainability dengan cara yang lebih luas dan menemukan pendekatan baru dalam mencari solusi," ujarnya.

Topik Menarik