Hadapi El Nino, Solusi Bangun Indonesia Tekan Signifikan Pengambilan Air Baku
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk memperkuat efisiensi dan pengelolaan air di seluruh fasilitas operasional untuk menghadapi potensi musim kemarau 2026 yang lebih kering dan panjang dari kondisi normal. Upaya tersebut dilakukan melalui pengurangan penggunaan air baku, pemanfaatan kembali air, pengembangan sumber air alternatif, serta penerapan teknologi untuk mengoptimalkan distribusi air.
"Air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien," ujar Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia Edi Sarwono dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).
Baca Juga:BMKG: September 2026 Masih Jadi Fase Kritis Karhutla, El Nino Bertahan hingga 2027
Berdasarkan analisis dan prakiraan BMKG, kondisi atmosfer kering masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia seiring musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan panjang dari normal. Kondisi tersebut juga dipengaruhi fenomena El Niño yang diprakirakan bertahan hingga awal 2027 sehingga mendorong berbagai sektor meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya air.
Sebagai bagian dari Target Keberlanjutan 2030, Solusi Bangun Indonesia menargetkan pengurangan pengambilan air baku sebesar 10 dibandingkan baseline 2019. Hingga 2025, perusahaan telah mencatat penurunan pengambilan air baku sebesar 45, atau melampaui target yang ditetapkan untuk 2030.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, total pengambilan air baku turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada 2025. Pengambilan air permukaan juga berkurang sekitar 18 dari 841 megaliter menjadi 688 megaliter, sedangkan penggunaan air tanah turun sekitar 11 dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter.Di sisi lain, volume air hujan yang ditampung meningkat sekitar 9 dari 676 megaliter menjadi 734 megaliter. Pemanfaatan recycled water juga meningkat 24 menjadi 563 megaliter pada 2025, atau setara 31,7 dari total pengambilan air untuk kegiatan produksi semen di empat pabrik perusahaan.Penerapan efisiensi dilakukan sesuai karakteristik masing-masing fasilitas produksi. Pabrik Cilacap memanfaatkan air hujan yang tertampung di settling pond untuk kebutuhan produksi dan mencatat pengurangan penggunaan air baku sebesar 37 pada 2025 dibandingkan baseline 2019, sedangkan Pabrik Narogong menggunakan teknologi Programmable Logic Control (PLC) dan Internet of Things (IoT) melalui River Pump Management yang membantu mengurangi konsumsi air tawar dari sungai sebesar 82 megaliter sepanjang 2025.
Baca Juga:Mitigasi Dampak El Nino, Bantuan Beras Lanjut hingga Desember 2026
Sementara itu, Pabrik Lhoknga di Aceh memanfaatkan air hujan melalui fasilitas penampungan untuk mengurangi penggunaan air sungai. Pada 2025, fasilitas tersebut berhasil mengurangi penggunaan air baku dari sungai sebesar 100. Edi mengatakan berbagai inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan menjaga ketersediaan air bagi kegiatan operasional, lingkungan, dan masyarakat di tengah perubahan iklim.










