Pembelajaran Lapangan: Mengubah Inspirasi Menjadi Inovasi Desa Wisata
Benny LiantoRektor Universitas SurabayaKetua Tim Pemberdayaan Desa Binaan Desa Belik, Trawas, Mojokerto
KEINDAHAN ALAM tidak otomatis membuat sebuah desa wisata berkembang. Hutan bambu, persawahan, udara pegunungan, kesenian tradisional, kuliner lokal, dan keramahan masyarakat memang menjadi modal penting. Namun, tanpa tata kelola yang baik, pelayanan yang profesional, produk yang kreatif, dan keterlibatan masyarakat, seluruh potensi tersebut hanya akan menjadi kekayaan desa yang belum menghasilkan nilai tambah.
Banyak pengelola desa wisata telah mengikuti pelatihan mengenai pelayanan prima, pemasaran digital, konservasi, pengembangan produk, dan community-based tourism. Persoalannya, pengetahuan yang diperoleh di dalam ruangan tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi tindakan.
Pengelola mungkin telah memahami pentingnya pelayanan prima, tetapi belum melihat bagaimana wisatawan disambut sejak tiba hingga meninggalkan destinasi. Mereka mengetahui pentingnya partisipasi masyarakat, tetapi belum memahami bagaimana pemerintah desa, BUMDes, Pokdarwis, Karang Taruna, kelompok PKK, dan pelaku UMKM membagi peran secara nyata.
Kesenjangan antara mengetahui dan melakukan inilah yang perlu dijembatani melalui experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Dalam konteks pengembangan desa wisata, salah satu bentuknya adalah pembelajaran lapangan.
Pembelajaran lapangan membuat peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan. Mereka melihat, merasakan, bertanya, membandingkan, merefleksikan, dan mendiskusikan praktik pengelolaan destinasi secara langsung. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar, “Apa yang dilihat?”, melainkan “Pengetahuan apa yang dibawa pulang dan perubahan apa yang dilakukan setelah kembali ke desa?”
Belajar dengan Mengalami
Riset terbaru menunjukkan bahwa experiential learning tidak cukup dipahami sebagai kegiatan mengunjungi suatu tempat. Pengalaman baru menjadi pembelajaran apabila peserta memperoleh kesempatan untuk mengamati praktik nyata, melakukan refleksi, membentuk pemahaman, dan mencoba menerapkannya.Riset yang dilakukan oleh Zhao dan Liu (2026) menegaskan bahwa experiential learning yang berkelanjutan tidak lahir dari kegiatan praktik yang terpisah dan sesaat. Pembelajaran harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang ditopang oleh arahan yang terstruktur, interaksi antarpeserta, refleksi, pendampingan, dan keterlibatan yang berkelanjutan.
Meskipun penelitian tersebut dilakukan dalam pendidikan manajemen pariwisata, prinsipnya relevan untuk pemberdayaan pengelola desa wisata. Satu kali kunjungan dapat menimbulkan kekaguman, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan. Inspirasi baru memiliki arti ketika diolah melalui diskusi, diterjemahkan menjadi rencana, diuji dalam tindakan, dan dievaluasi hasilnya.
Pembelajaran lapangan juga memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan yang sulit disampaikan melalui modul. Banyak pengetahuan dalam pengelolaan wisata bersifat tacit knowledge atau pengetahuan yang melekat pada pengalaman pelakunya.
Cara menghadapi keluhan wisatawan, membangun kedisiplinan warga, mengatur pembagian pendapatan, menjaga kebersihan, atau menyelesaikan konflik tidak selalu dapat dipahami hanya dengan membaca prosedur.
Penelitian Zhang et al. (2024) mengenai transfer pengetahuan kepada masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata pedesaan menunjukkan bahwa pengalaman sebelumnya, kesesuaian pengetahuan, teknologi, serta hubungan antarpelaku memengaruhi keberhasilan transfer pengetahuan.
Temuan ini menegaskan pentingnya memilih lokasi pembelajaran yang sesuai dengan potensi dan persoalan desa peserta. Desa yang memiliki hutan bambu, misalnya, akan memperoleh pembelajaran lebih relevan dari destinasi yang telah berhasil mengembangkan konservasi, budidaya, kerajinan, kuliner, dan pengalaman wisata berbasis bambu. Relevansi tersebut memudahkan masyarakat menghubungkan apa yang dilihat dengan sumber daya yang dimiliki. Pembelajaran juga tidak berlangsung secara individual. Pang et al., (2024) memperkenalkan konsep communities of learning and practice.
Pariwisata perlu dikembangkan melalui komunitas pembelajaran yang menghubungkan masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah, dan pelaku industri. Hubungan tersebut diperlukan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan dan memperlancar kolaborasi serta transfer pengalaman.
Dengan demikian, pembelajaran lapangan bukan perjalanan untuk mengumpulkan foto. Pembelajaran lapangan merupakan ruang perjumpaan antarpelaku, tempat pengalaman dari satu destinasi dipelajari, dianalisis, dan diolah menjadi solusi bagi destinasi lainnya.
Tiga Tahun Pembelajaran Desa Belik
Pengalaman Desa Belik, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menunjukkan bagaimana pembelajaran lapangan dapat dirancang secara bertahap. Selama tiga tahun, kebutuhan pembelajaran berkembang dari penguatan pola pikir dan tata kelola menuju penciptaan produk, nilai tambah ekonomi, kreativitas, serta diferensiasi pengalaman wisata.Pada 2024, pembelajaran lapangan dilakukan di Desa Penglipuran, Bali. Lokasi ini dipilih karena mampu memperlihatkan hubungan antara kelembagaan, aturan, kedisiplinan masyarakat, kebersihan, pelayanan, pengelolaan UMKM, dan pelestarian budaya.
Di Penglipuran, peserta tidak hanya melihat desa yang bersih dan tertata. Mereka dapat mengamati bagaimana aturan dipatuhi, pelayanan diberikan secara konsisten, usaha masyarakat dihubungkan dengan aktivitas wisata, dan budaya ditempatkan sebagai identitas destinasi.
Pembelajaran tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga oleh organisasi masyarakat yang mampu bekerja secara disiplin dan berkelanjutan. Hasil pembelajaran kemudian diperkuat melalui pelatihan pelayanan prima, penerapan Sapta Pesona, pendampingan kelembagaan, serta pelibatan Karang Taruna.
Potensi pencak silat dan bantengan mulai ditempatkan sebagai bagian dari identitas wisata Desa Belik. Kelompok sadar wisata juga dibentuk untuk memperkuat pengelolaan destinasi
Pada 2025, pembelajaran lapangan diarahkan pada pengelolaan bambu dan pariwisata berbasis masyarakat. Peserta mengunjungi Hutan Bambu Bulaksalak, Desa Wisata Nglanggeran, dan Desa Wisata Karangasem di Muntuk, Yogyakarta.
Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Desa Belik memiliki hutan bambu seluas kurang lebih 3,5 hektare yang didominasi bambu petung. Kawasan itu menjaga sumber air sekaligus menjadi daya tarik utama Petung Park.
Karena itu, pembelajaran harus mempertemukan masyarakat dengan destinasi yang mempunyai persoalan dan sumber daya yang relevan. Di Desa Bulaksalak, peserta mempelajari pembibitan, pengawetan, pemanfaatan bambu, kuliner berbahan rebung, serta penyelenggaraan pasar tradisional di bawah rumpun bambu.
Di Nglanggeran, peserta mengamati bagaimana masyarakat menjadi pelaku utama melalui sistem transportasi lokal, pemandu wisata, paket perjalanan, homestay, dan produk oleh-oleh. Sementara itu, di Desa Karangasem memberikan gambaran mengenai bagaimana bambu diolah menjadi puluhan jenis kerajinan bernilai ekonomi. Pembelajaran tersebut mengubah cara pandang terhadap bambu. Bambu tidak lagi hanya dilihat sebagai tanaman yang tumbuh di sekitar sumber air. Bambu dapat menjadi bahan baku produk, sumber edukasi, atraksi wisata, identitas desa, dan penggerak ekonomi masyarakat.
Perubahan cara pandang kemudian diterjemahkan melalui pelatihan dan pendampingan. Masyarakat memperoleh keterampilan mengolah bambu menjadi tusuk sate dan kerajinan, sedangkan kelompok PKK mengembangkan kuliner berbahan rebung.
Nilai tambahnya dapat dihitung secara konkret. Satu batang bambu yang sebelumnya bernilai sekitar Rp30.000 dapat menghasilkan kurang lebih sembilan kilogram tusuk sate. Dengan harga sekitar Rp20.000 per kilogram, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp180.000.
Proses pengolahan tersebut berpotensi meningkatkan nilai ekonomi bambu hingga enam kali lipat. Inspirasi lapangan juga diterjemahkan menjadi Pasar Pring Sewu, wisata edukasi bambu, pembibitan dan pengawetan bambu, serta rancangan paket wisata yang memadukan kegiatan pertanian dan peternakan.
Wisatawan tidak hanya diarahkan untuk melihat pemandangan, tetapi juga memperoleh pengalaman seperti mengenal bambu, memberi makan kambing, dan memerah susu. Inilah pembeda antara kunjungan dan pembelajaran.
Kunjungan berakhir ketika peserta pulang, sedangkan pembelajaran berlanjut ketika pengetahuan menghasilkan keputusan, prototipe, produk, dan kegiatan ekonomi baru. Dimensi ekonomi tersebut tetap disandingkan dengan konservasi.
Desa Belik membentuk Pengurus Hutan Bambu yang bertugas mengatur pemotongan bambu dan menjaga keberlanjutan sumber air. Masyarakat mempertahankan aturan lokal mengenai pengambilan bambu dan rebung.
Ritual Dawuhan juga terus dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas keberadaan sumber air. Hutan bambu dengan demikian tidak hanya diposisikan sebagai aset ekonomi. Kawasan tersebut memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan spiritual.
Inovasi tidak boleh merusak fondasi yang justru menjadi sumber kehidupan dan identitas masyarakat. Pada 2026, pembelajaran lapangan kembali dilakukan di Bali.
Kebutuhannya telah berubah. Apabila pembelajaran tahun pertama menekankan tata kelola, maka pembelajaran tahun ketiga diarahkan pada kreativitas, desain pengalaman, pemanfaatan budaya, dan inovasi destinasi.
Di Desa Wisata Budaya Batuan, peserta melihat bagaimana warisan seni yang telah hidup selama berabad-abad dipertahankan sekaligus dihadirkan sebagai pengalaman wisata. Di Batubulan, peserta mengamati keterlibatan masyarakat dalam pertunjukan Tari Barong dan pengembangan kerajinan pahat batu. Kunjungan ke Alas Harum Bali dan Nuanu Creative City memperluas wawasan mengenai desain ruang, pengemasan pengalaman, kreativitas, serta pemanfaatan teknologi untuk menarik wisatawan generasi baru. Pelajaran tersebut menjadi bahan untuk memperkuat Petung Park, Pasar Pring Sewu, pelayanan pengunjung, paket wisata, dan suvenir khas Desa Belik.
Rangkaian tiga tahun itu memperlihatkan kurva pembelajaran yang semakin berkembang. Tahun pertama membangun pola pikir, tata kelola, dan kelembagaan. Tahun kedua mendorong pengembangan produk dan nilai tambah ekonomi.
Tahun ketiga memperluas kreativitas, desain pengalaman, dan diferensiasi destinasi. Pola tersebut sejalan dengan penelitian Weidenfeld et al., (2026) yang menjelaskan bahwa inovasi pariwisata semakin digerakkan oleh jejaring pengetahuan lintas sektor dan lintas wilayah.
Desa tidak harus menemukan seluruh jawaban seorang diri. Pengetahuan dapat mengalir melalui hubungan antardestinasi, masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha.
Mengubah Pengalaman Jadi Tindakan
Pembelajaran lapangan tidak otomatis menghasilkan inovasi. Tanpa persiapan dan tindak lanjut, kegiatan tersebut dapat berubah menjadi wisata rombongan yang hanya menghasilkan foto, dokumentasi, dan laporan perjalanan.Risiko lainnya adalah munculnya copy-paste tourism. Ketika sebuah pasar wisata ramai di daerah lain, desa tergoda membangun pasar yang sama. Ketika tempat swafoto menjadi populer, destinasi lain berlomba membuat fasilitas serupa.
Akibatnya, desa-desa menawarkan pengalaman yang seragam dan kehilangan identitas lokalnya. Pembelajaran lapangan seharusnya tidak diarahkan untuk menyalin, tetapi untuk memahami.
Pertanyaan yang diajukan tidak cukup berhenti pada, “Apa yang dilakukan destinasi tersebut?” Pertanyaan yang lebih penting ialah, “Mengapa praktik itu berhasil, kondisi apa yang mendukungnya, dan bagaimana prinsipnya dapat disesuaikan dengan kekuatan lokal?”
Penelitian Romero-Medina et al., (2024) menunjukkan bahwa penguatan pariwisata berbasis masyarakat memerlukan proses partisipatif, kemampuan mengorganisasi diri, pembagian peran, dan jejaring antarpemangku kepentingan.
Observasi lapangan dan interaksi langsung dapat membantu memahami kebutuhan masyarakat, tetapi solusi tetap harus dirancang bersama masyarakat yang akan menjalankannya. Karena itu, experiential learning untuk desa wisata perlu dirancang melalui lima tahapan: Amati, Analisis, Adaptasi, Aksi, dan Audit.
Pertama, amati praktik yang relevan. Lokasi pembelajaran harus dipilih berdasarkan masalah dan potensi desa, bukan hanya karena sedang populer.
Kedua, analisis proses di balik keberhasilan. Peserta perlu mempelajari siapa yang mengelola, bagaimana masyarakat dilibatkan, bagaimana pendapatan dibagikan, dari mana pembiayaan diperoleh, serta bagaimana konflik diselesaikan.Ketiga, adaptasi prinsip yang dipelajari dengan sumber daya, budaya, kemampuan, dan pasar lokal. Praktik yang berhasil di Bali atau Yogyakarta tidak harus dipindahkan secara utuh ke Mojokerto.
Keempat, aksi melalui proyek percontohan yang memiliki target, anggaran, jadwal, dan penanggung jawab. Tindak lanjut dapat dimulai dari satu produk baru, satu paket wisata, satu perubahan pelayanan, atau satu perbaikan tata kelola.
Kelima, audit hasil pembelajaran. Keberhasilan perlu diukur dari inovasi yang benar-benar diterapkan, peningkatan kapasitas pengelola, pertumbuhan pendapatan masyarakat, keterlibatan warga, kepuasan wisatawan, serta kondisi lingkungan dan budaya.
Perguruan tinggi dan pemerintah perlu menempatkan pembelajaran lapangan sebagai bagian dari siklus pemberdayaan, bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Sebelum berangkat, peserta perlu memetakan persoalan dan menetapkan sasaran belajar.
Selama di lokasi, mereka harus melakukan observasi dan dialog terarah. Setelah pulang, diperlukan refleksi, penyusunan rencana aksi, pendampingan, uji coba, dan evaluasi. Ukuran keberhasilannya juga harus diubah. Banyaknya peserta, jauhnya lokasi, jumlah foto, dan tebalnya laporan bukan indikator utama.
Pertanyaan terpentingnya adalah: berapa pengetahuan yang berhasil diterapkan, berapa produk dan pengalaman baru yang tercipta, berapa warga yang memperoleh manfaat, serta seberapa baik lingkungan dan kebudayaan tetap terjaga?
Pengalaman Desa Belik menunjukkan bahwa masyarakat dapat belajar dari keberhasilan destinasi lain tanpa kehilangan jati dirinya. Penglipuran memberikan inspirasi tentang tata kelola dan kedisiplinan. Bulaksalak mengajarkan pengelolaan hutan bambu. Nglanggeran menunjukkan kekuatan pariwisata berbasis masyarakat.
Karangasem memperlihatkan penciptaan nilai tambah. Batuan dan Batubulan mengajarkan cara merawat budaya sekaligus menghadirkannya sebagai pengalaman wisata. Alas Harum dan Nuanu memperluas wawasan mengenai kreativitas dan desain destinasi.
Seluruh praktik tersebut tidak perlu disalin. Inspirasi harus dipahami, disaring, disesuaikan, dan diwujudkan menjadi inovasi yang mencerminkan kekuatan Desa Belik.
Pada akhirnya, desa wisata yang berkembang bukanlah desa yang paling sering melakukan perjalanan pembelajaran. Desa wisata yang berkembang adalah desa yang mampu mengubah apa yang dilihat menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi tindakan, dan tindakan menjadi kesejahteraan masyarakat.
Perjalanan paling bermakna bukanlah perjalanan yang membawa masyarakat semakin jauh dari desanya. Melainkan perjalanan yang membuat mereka pulang dengan gagasan, keberanian, dan rencana baru untuk memajukan desanya sendiri.









