Penetrasi Investasi Anak Muda RI Masih Rendah Dibanding Negara Maju

Penetrasi Investasi Anak Muda RI Masih Rendah Dibanding Negara Maju

Ekonomi | sindonews | Rabu, 9 September 2026 - 22:27
share

Penetrasi investasi di kalangan generasi muda Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara maju, termasuk Amerika Serikat (AS). Namun demikian kondisi ini dinilai menjadi peluang besar untuk meningkatkan literasi dan partisipasi investasi generasi muda di Indonesia.

Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Haryanto T. Budiman mengatakan, seluruh segmen nasabah BCA saat ini telah melakukan investasi. Namun dari sisi jumlah investor, segmen mass market menjadi yang terbesar, sementara nilai investasi paling besar berasal dari segmen nasabah kelas atas.

"Kalau dibandingkan dengan negara maju, memang kita penetrasinya masih lebih rendah. Justru ini adalah peluang yang sangat besar," kata Haryanto dalam konferensi pers BCA Wealth Summit 2026 di Jakarta, Rabu (9/92026).

Baca Juga: Mengenalkan Cara Investasi yang Mudah ke Anak Muda

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong BCA untuk menghadirkan edukasi investasi yang lebih mudah dipahami oleh generasi muda, khususnya Generasi Z. BCA juga menyesuaikan topik dalam sesi daring BCA Wealth Summit agar relevan dengan kebutuhan dan karakteristik generasi muda."Jadi mereka bisa mengerti mengenai produk-produk investasi dengan cara yang sangat mudah dimengerti. Dan ini kita ingin supaya penetrasi investasi ini semakin tinggi untuk anak-anak muda," lanjutnya.

Haryanto menilai peningkatan jumlah investor merupakan tren positif. Menurut dia, kebiasaan berinvestasi perlu mulai dibangun sejak usia muda agar dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan masyarakat dalam jangka panjang sekaligus menghindari kemungkinan menjadi korban ivestasi bodong.

"Jadi mereka bisa paham, ini loh berbagai tipe investasi yang ada di dunia saat ini. Dan kita juga ingin nasabah semakin peka dan semakin hati-hati terhadap investasi bodong, yang menjanjikan return yang tidak masuk akal, ujung-ujungnya nasabah juga yang dirugikan," ucapnya.

Baca Juga: Tips Investasi untuk Anak Muda, Agar Tidak Sekadar TrenDi sisi lain, pertumbuhan investasi tercermin dari peningkatan aset kelolaan atau asset under management (AUM) BCA. Haryanto mengatakan, AUM BCA meningkat dari Rp139 triliun pada 2022 menjadi Rp339 triliun per Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Haryanto, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap BCA sebagai institusi keuangan, tidak hanya untuk menyimpan dana melalui rekening giro, tabungan, dan deposito, tetapi juga untuk kebutuhan investasi.

"Menunjukkan bahwa kita ini dipercaya sebagai institusi keuangan. Nasabah bisa menempatkan dananya di kita dalam bentuk checking account, savings account, deposito, tapi juga dalam berinvestasi," tandasnya.

BCA Wealth Summit 2026 sendiri digelar secara hybrid. Sesi luring berlangsung pada 16-17 September 2026 dan diikuti nasabah undangan. Sementara sesi daring digelar pada 18 September hingga 2 Oktober 2026 dan dapat diakses masyarakat luas serta nasabah BCA melalui situs resmi BCA.

Topik Menarik