Orang Tua Harus Tahu! Ini Bahaya Paparan Abu Vulkanik bagi Kesehatan Anak

Orang Tua Harus Tahu! Ini Bahaya Paparan Abu Vulkanik bagi Kesehatan Anak

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 7 September 2026 - 18:40
share

Abu vulkanik dari hasil erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini telah beterbangan ke sejumlah wilayah seperti Lampung, Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Hal tersebut menjadi ancaman kesehatan sendiri bagi masyarakat. Dalam hal ini, anak-anak menjadi salah satu kelompok rentan yang patut diperhatikan.

Mengutip paparan Dokter Spesialis Anak, Dr. dr. Yogi Prawira dalam unggahan di akun Instagram Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ancaman paparan abu vulkanik pasca erupsi gunung berapi tidak bisa disamakan dengan debu lanskap perkotaan biasa.

Baca juga: Harga Masker KN95 Naik 10 Kali Lipat, Warganet Geram Pesanan Dibatalkan Sepihak

Partikel abu vulkanik kaya akan kandungan silika dan kristalin yang sangat agresif terhadap saluran pernapasan anak-anak. Kerentanan fisik dan psikologis anak menjadikan kelompok usia ini membutuhkan perlindungan ekstra saat bencana erupsi melanda.

Dampaknya tidak sekadar memicu batuk ringan. Bagi anak-anak yang memiliki riwayat asma, paparan partikel halus ini berisiko tinggi memicu kekambuhan akut hingga memperberat serangan sesak napas. Dalam jangka panjang, paparan kronis abu vulkanik dapat memicu Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis, yakni bentuk peradangan paru berat akibat penumpukan partikel silika.

Baca juga: Masker N95 dan KN95 Mahal, Dokter Bagikan Tips Pakai Masker Bedah

Tidak hanya fisik, tekanan situasi bencana juga berdampak pada kesehatan mental anak, memicu stres, kecemasan, hingga gejala gangguan stres pascatrauma atau PTSD subklinis.

Namun jangan khawatir, ada beberapa langkah perlindungan utama yang bisa dimulai dari dalam rumah, yaitu dengan meminimalkan kontak langsung. Orang tua diimbau menunda seluruh aktivitas luar ruang dan memindahkan permainan anak ke dalam rumah.

Pintu serta jendela harus ditutup rapat, bahkan celahnya dapat ditutup dengan lakban jika diperlukan. Kebersihan lantai sebaiknya dijaga dengan cara mengepel basah, bukan menyapu kering yang justru memicu abu berterbangan kembali. Sumber air minum dan tandon juga harus ditutup rapat, serta bahan makanan seperti buah dan sayur wajib dicuci lebih teliti sebelum dikonsumsi.

Perlindungan fisik saat terpaksa beraktivitas di luar rumah harus disesuaikan dengan usia anak. Anak usia lebih besar disarankan menggunakan masker standar N95 atau KN95 yang menutup rapat area hidung dan mulut.

Sebaliknya, penggunaan masker N95 sangat tidak direkomendasikan untuk bayi dan balita karena berisiko tinggi memicu sesak, sehingga isolasi mandiri di dalam ruangan menjadi pilihan terbaik bagi mereka.

Penggunaan masker bedah berlapis atau kain lembab masih bisa menjadi alternatif darurat jika masker standar sulit didapatkan. Khusus bagi anak penderita asma, orang tua wajib menyiagakan obat pelega napas sesuai petunjuk dokter.

Area mata dan kulit anak juga tak boleh luput dari perhatian. Jika mata anak mengalami iritasi atau perih akibat debu vulkanik, pertolongan pertama yang benar adalah membilasnya dengan air bersih mengalir dan tidak menguceknya. Penggunaan lensa kontak pada remaja harus segera dihentikan, lalu digantikan dengan goggle atau kacamata renang jika harus keluar rumah. Pakaian lengan panjang yang menutup seluruh tubuh menjadi syarat mutlak, diikuti dengan kewajiban mandi dan berganti pakaian setiap kali selesai beraktivitas dari luar.

Selain itu, pendekatan komunikasi yang tenang dari orang tua menjadi kunci penting agar anak tetap merasa aman tanpa timbul rasa panik. Penyampaian informasi perlu disesuaikan dengan tingkat usia, misalnya menggunakan analogi sederhana seperti gunung yang sedang batuk untuk balita, atau menjelaskan alasan sains secara logis bagi anak usia sekolah.

Sementara pada remaja, keterlibatan aktif dalam menyiapkan tas siaga bencana dapat memberikan rasa memiliki kontrol. Memvalidasi perasaan takut anak serta membatasi konsumsi tayangan bencana yang menakutkan di media sosial sangat membantu menjaga kestabilan emosi keluarga.

Di sisi lain, orang tua diminta tetap waspada terhadap tanda-tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis segera. Rujukan ke puskesmas atau rumah sakit harus dilakukan jika anak mengalami napas cepat, bibir atau ujung jari tampak kebiruan, batuk terus-menerus, iritasi mata yang tak kunjung membaik, hingga kondisi bayi yang lemas dan malas menyusu.

Untuk pemantauan kondisi terkini, masyarakat diimbau selalu merujuk pada informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Topik Menarik