Menteri PU Kebut Pemulihan Infrastruktur Pascabencana di Sumatera hingga NTT

Menteri PU Kebut Pemulihan Infrastruktur Pascabencana di Sumatera hingga NTT

Nasional | sindonews | Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:36
share

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mempercepat penanganan infrastruktur terdampak bencana dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Dody mendorong jajaran Kementerian PU bergerak sejak fase awal bencana untuk membuka akses jalan, memulihkan air bersih, hingga memastikan fasilitas dasar kembali berfungsi.

Langkah itu terlihat dalam penanganan gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, pada pertengahan Agustus 2026. Saat turun ke Nagekeo, Dody meminta pemerintah daerah segera menyampaikan titik-titik kerusakan tanpa harus menunggu seluruh proses pendataan rampung. Menurut Dody, informasi awal diperlukan agar tim teknis dan alat berat dapat lebih cepat bergerak ke lokasi terdampak.

“Kami hadir pada setiap bencana, karena arahan Pak Presiden sudah jelas bahwa kita tidak boleh berduka berlama-lama, secepatnya kita harus bangkit. Jadi saya mohon diberikan data lengkapnya, titik-titiknya. Sehingga kami bisa menurunkan tim segera, bisa berkoordinasi dengan kepala-kepala dinas, bisa langsung mengecek satu per satu dan langsung bekerja,” katanya, Sabtu (22/8/2026).

Baca juga: Perbaikan Lembah Anai Pascabencana Sumatera Barat Rampung

Dorongan untuk bergerak cepat itu diikuti penanganan di lapangan. Hingga 16 Agustus, sembilan ruas jalan nasional yang terdampak gempa telah kembali fungsional. Delapan ruas berada di jalur Trans Flores dari Labuan Bajo menuju Ende dan Maumere, sementara satu lainnya ruas Ruteng-Reo-Kedindi.Sebanyak 40 titik longsoran dan empat titik patahan badan jalan ditangani. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTT mengerahkan tujuh ekskavator dan empat loader ke berbagai lokasi terdampak. Meski akses utama dapat dibuka, Dody tetap menghadapi pekerjaan di sejumlah titik. Salah satunya ruas Krica-Lidi sepanjang 4,1 kilometer di Desa Pulue yang memiliki sedikitnya 10 titik longsor.

Dua ekskavator dan satu kendaraan pikap dikerahkan. Hingga 19 Agustus, tim gabungan berhasil menembus salah satu titik longsor dan pembersihan masih terus dilakukan. Penanganan Dody tidak berhenti pada konektivitas jalan. Pemulihan layanan dasar, terutama air bersih, ikut menjadi prioritas.

Lihat video: Pemulihan Infrastruktur Dasar di Aceh Tamiang

Di Kabupaten Ende, jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Inpres 2024 IKK Nangaba rusak akibat gempa. Perbaikan dimulai pada 16 Agustus dan rampung pada malam berikutnya. Air kemudian kembali mengalir hingga sambungan rumah warga.

Di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, sekitar 7.000 warga di delapan desa membutuhkan dukungan air bersih. Empat tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter dikirim ke lokasi. Penanganan tidak hanya dilakukan untuk kebutuhan darurat. Pemerintah juga menyiapkan survei geolistrik guna mencari sumber air tanah baru sehingga pasokan air dapat diperkuat dalam jangka lebih panjang.

Dody juga mendorong pemeriksaan fasilitas publik. Personel yang diterjunkan untuk memeriksa bangunan terdampak ditambah dari tiga menjadi 14 orang. Rumah Sakit Komodo, kantor pemerintahan, rumah ibadah, dan fasilitas umum menjadi bagian dari bangunan yang diperiksa. Kerusakan jaringan irigasi ikut menjadi perhatian. Di Daerah Irigasi Mbay Kiri Lanjutan, saluran tersier rusak sepanjang 250 meter dan patah pada tiga titik. Sekitar 175 hektare lahan terdampak.

Rangkaian penanganan itu menunjukkan pola yang didorong Dody: akses dibuka lebih dahulu agar mobilitas kembali berjalan, sementara pemulihan air, fasilitas publik, dan infrastruktur pendukung dikerjakan secara paralel. Pola penanganan serupa sebelumnya dijalankan saat bencana melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025.

Berdasarkan data Kementerian PU per 20 Agustus 2026, seluruh 107 ruas jalan nasional terdampak di tiga provinsi tersebut telah kembali fungsional. Sebanyak 43 jembatan nasional yang terdampak juga seluruhnya kembali berfungsi.

Pada jalan daerah, 2.291 dari 2.421 ruas terdampak telah kembali fungsional atau mencapai 94,63 persen. Dari 1.184 jembatan daerah yang terdampak, tabel rinci Kementerian PU mencatat 827 telah kembali berfungsi.

Pemulihan layanan air bersih juga menunjukkan perkembangan signifikan. Sebanyak 178 SPAM yang masuk dalam data penanganan seluruhnya tercatat telah kembali fungsional, terdiri atas 71 SPAM di Aceh, 45 di Sumatera Utara, dan 62 di Sumatera Barat.Sementara untuk hunian, 1.794 dari 1.914 unit di 18 lokasi telah selesai. Sebanyak 120 unit lainnya masih ditangani di Sumatera Utara. Penanganan terhadap 702 fasilitas umum juga tercatat rampung.

Capaian tersebut menjadi bagian dari pekerjaan Kementerian PU di bawah Dody yang tidak hanya berfokus membuka kembali akses, tetapi juga mengembalikan layanan dasar masyarakat setelah bencana.

Namun, pekerjaan belum seluruhnya tuntas. Dari 31 daerah irigasi kewenangan pusat yang terdampak, 13 telah selesai ditangani. Pada daerah irigasi kewenangan daerah, dua dari 65 lokasi tercatat selesai.

Untuk bendung nasional, empat dari 14 lokasi terdampak telah selesai ditangani. Sementara tiga dari 52 bendung daerah telah rampung.

Kondisi itu membuat pekerjaan Dody berlanjut setelah fase tanggap darurat selesai. Jika pada hari-hari pertama fokusnya membuka jalan dan mengembalikan layanan dasar, tahap berikutnya adalah memastikan rehabilitasi infrastruktur tetap berjalan.Arah penanganan tersebut mulai bergerak menuju mitigasi untuk mengurangi risiko kerusakan ketika bencana kembali terjadi. Di kawasan Gunung Marapi, Sumatera Barat, pembangunan delapan sabo dam tahap pertama dimulai pada Maret 2026. Lima berada di Kabupaten Tanah Datar dan tiga lainnya di Kabupaten Agam.

Delapan sabo dam itu dirancang memiliki kapasitas tampung sedimen sekitar 440.000 meter kubik. Pemerintah merencanakan pembangunan 56 sabo dam secara bertahap di 24 sungai sepanjang 2026-2029. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk menahan material dan mengurangi dampak apabila aktivitas Gunung Marapi kembali memicu aliran material ke wilayah di bawahnya.

Dari Sumatera hingga NTT, Dody menghadapi pola tantangan yang hampir sama: bergerak cepat saat bencana terjadi, mengembalikan konektivitas dan layanan dasar, lalu menjaga pemulihan berlanjut setelah keadaan darurat berakhir.

Bagi Dody, kecepatan di hari-hari pertama menjadi penting karena akses yang terputus ikut menghambat distribusi bantuan dan pelayanan kepada masyarakat. Namun, pekerjaan tidak berhenti setelah jalan dapat kembali dilalui.

Pemulihan air bersih, hunian, irigasi, bendung hingga pembangunan infrastruktur mitigasi menjadi pekerjaan berikutnya untuk memastikan wilayah terdampak tidak hanya kembali berfungsi, tetapi juga lebih siap menghadapi ancaman berikutnya.

Topik Menarik