Pakta Pertahanan Turki-Pakistan-Arab Saudi Setara dengan Pasal 5 NATO
Pakta pertahanan bersama yang ditandatangani antara Turki, Pakistan, dan Arab Saudi secara teknis sama dengan perjanjian pertahanan bersama Pasal 5 NATO. Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Hakan Fidan.
Namun, Menlu Fidan menegaskan bahwa pakta pertahanan bersama tersebut tidak menargetkan Iran.
Baca Juga: Menhan Pakistan usai Bentuk Aliansi dengan Arab Saudi dan Turki: Lawan Israel!
Fidan mengatakan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ingin melihat aliansi tersebut diperluas, dan Mesir merupakan salah satu kandidat potensial untuk bergabung.
Sekadar diketahui, tiga kekuatan regional tersebut telah menandatangani pakta yang secara resmi dikenal sebagai "Mecca Joint Defense Agreement (Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah)" pada Jumat pekan lalu.Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Dalam pernyataan bersama, mereka menyatakan bahwa kesepakatan tersebut bertujuan memperkuat pencegahan kolektif terhadap segala tindakan agresi dan menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.Berbicara kepada kantor berita Anadolu, Fidan mengatakan aliansi baru ini tidak ditujukan untuk melawan Iran atau negara lain mana pun, melainkan berfungsi sebagai komitmen umum untuk mendukung keamanan ketiga sekutu tersebut.
Dia menambahkan bahwa pihak-pihak sekutu akan memutuskan melalui konsultasi mengenai tingkat, bentuk, dan format dukungan yang akan diminta jika terjadi serangan, namun tidak ada negara yang akan dianggap sebagai ancaman selama negara anggota tidak diserang.
Turki, yang memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO, menyatakan bahwa pakta tersebut terbuka untuk diperluas ke negara-negara kawasan lainnya dan tidak bertujuan menggantikan aliansi mana pun yang sudah ada.
"NATO adalah aliansi militer raksasa yang beranggotakan 32 negara. Kami memulainya di sini sebagai tiga negara dan harus mengambil langkah-langkah yang sangat sederhana namun konkret," ujarnya, yang menambahkan bahwa upaya untuk merampungkan pakta tersebut telah berlangsung selama dua tahun delapan bulan, sebagaimana dikutip dari Al Arabiya English, Senin (10/8/2026).
Dia menambahkan bahwa sebuah komite menteri—serupa dengan yang ada di NATO—akan dibentuk sebagai bagian dari aliansi ini, begitu pula dengan sekretariat jenderal yang berbasis di Arab Saudi, namun rincian operasionalnya akan ditetapkan pada pertemuan komite yang pertama."Visi presiden kami adalah agar kami tidak hanya terbatas pada tiga negara, melainkan berkembang dan menyatukan seluruh negara (di kawasan ini) di bawah naungan yang sama," katanya.
Menurutnya, Mesir berpotensi bergabung dengan pakta tersebut setelah masalah-masalah teknis tertentu diselesaikan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Turki, Arab Saudi, Pakistan, dan Mesir membentuk sebuah kelompok untuk menangani isu-isu regional, khususnya terkait perang dengan Iran. Turki menyatakan bahwa kelompok tersebut—yang dijuluki R4—bertujuan memperkuat kemitraan mereka melalui mekanisme yang konkret.
Fidan juga mengatakan bahwa Turki perlu dilibatkan dalam koalisi internasional untuk melindungi pelayaran di Laut Merah dari serangan Houthi, karena keselamatan pelayaran menyangkut kepentingan Ankara.










