Tetap Jadi Sekutu Sejati Iran, Sanksi AS kepada China Tak Akan Terwujud

Tetap Jadi Sekutu Sejati Iran, Sanksi AS kepada China Tak Akan Terwujud

Global | sindonews | Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:30
share

Ancaman AS untuk menjatuhkan sanksi terhadap entitas China terkait perdagangan dengan Iran kecil kemungkinannya akan terwujud karena adanya kombinasi hambatan diplomatik dan hukum. Itu diungkapkan Trita Parsi, wakil presiden eksekutif Quincy Institute yang berbasis di Washington.

"Jika AS kini menindak pihak China hanya beberapa minggu sebelum [Presiden China] Xi dijadwalkan tiba di Washington; menurut saya hal itu kecil kemungkinannya terjadi," ujar Parsi kepada Al Jazeera, seraya menyoroti bahwa Washington menghadapi ketegangan signifikan di kedua bidang tersebut.

Secara diplomatik, Parsi menunjukkan bahwa Beijing turut mencegah krisis ekonomi parah pada puncak konflik dengan menghentikan pembelian minyak tepat saat harga melonjak, yang menyebabkan anjloknya permintaan dan menjaga harga minyak mentah tetap di bawah USD100 per barel untuk waktu yang lama.

"Mereka melakukan ini karena tujuan China adalah memastikan krisis ini tidak memicu resesi global, yang akan berdampak buruk bagi China," kata Parsi, seraya mengisyaratkan bahwa langkah tersebut secara tidak langsung menghindarkan Washington dari guncangan energi yang akan merugikan ekonomi AS.

Selain itu, Beijing kemungkinan besar tidak akan menerima begitu saja serangan Amerika terhadap perusahaan atau kepentingan ekonominya tanpa perlawanan. "Saya menduga kita akan melihat banyak perlawanan dari pihak Tiongkok jika AS benar-benar menindak perusahaan-perusahaan China," kata Parsi.Di dalam negeri, Parsi menyebutkan bahwa Beijing juga telah mengesahkan undang-undang yang menjatuhkan sanksi bagi perusahaan Tiongkok jika mereka mematuhi sanksi asing; hal ini menambah lapisan kerumitan hukum yang semakin menghambat upaya penegakan aturan oleh Washington.

Sementara itu, tidak diragukan lagi bahwa langkah terbaru AS ini tidak akan disambut baik di Teheran, dan menempatkan negara tersebut di hadapan dilema besar.

Di satu sisi, masih ada harapan yang naik-turun mengenai keterlibatan diplomatik dan pemulihan hubungan dengan Washington. Di sisi lain, Teheran menghadapi peningkatan postur militer serta peringatan akan potensi babak konfrontasi berikutnya, perang yang menguras kekuatan (war of attrition), atau konflik yang meluas melampaui batas-batas kawasan.

Terkait secara khusus dengan reaksi dari pihak Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, baru-baru ini menulis di media sosial: “Pihak Amerika tahu bahwa tidak ada yang menanggapi gertakan mereka dengan serius. Amerika Serikat tidak berada dalam situasi ekonomi yang memungkinkan mereka untuk semakin membatasi hubungan dengan negara-negara lain.”

Ia menambahkan bahwa “mitra dagang Iran telah menegaskan kepada kami—baik melalui media maupun penyampaian pesan—bahwa mereka sama sekali tidak menanggapi pernyataan [Menteri Keuangan AS Scott Bessent] tersebut dengan serius.”

Topik Menarik