PM Jepang Menjerit Ada Kecoa di Rumah Dinas, tapi Sedih dan Kesepian usai Disingkirkan
Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi baru-baru ini berhadapan dengan seekor kecoa di rumah dinasnya. Namun, setelah serangga pengganggu itu berhasil disingkirkan, dia justru merasa “kesepian” dan “sedih”.
Pemimpin Jepang berusia 65 tahun yang dikenal aktif di media sosial itu menceritakan insiden mengejutkan tersebut ketika menjawab pertanyaan mengenai kediaman resmi perdana menteri di Tokyo.
Baca Juga: PM Jepang Sanae Takaichi Gelar Rapat Jam 03.00 Pagi, Pemimpin Oposisi: Kebijakan Gila
Melalui akun X, Takaichi mengatakan salah satu pertanyaan yang sering diterimanya adalah, “Apakah Anda sudah bertemu dengan hantu yang konon muncul di rumah dinas?"
Pertanyaan tersebut berakar dari legenda bahwa rumah dinas PM Jepang dihantui arwah orang-orang yang tewas dalam dua upaya kudeta berdarah pada 1930-an.Takaichi pindah ke rumah dinas tersebut pada Desember lalu. Bangunan berbahan batu bata dan batu itu dibuka pada 1929 dan sebelumnya merupakan kantor PM Jepang hingga kantor baru dibangun tepat di sebelahnya.
Masalah Kecoa
Menjawab pertanyaan tersebut, Takaichi mengatakan dirinya belum pernah melihat hantu di rumah dinas. Namun, dia mengaku pernah menemukan sesuatu yang membuatnya menjerit: kecoa.“Saya tidak pernah bertemu hantu, tetapi sampai baru-baru ini, saya yang berteriak setiap kali menemukan kecoa,” tulisnya dalam unggahan pada 22 Agustus.
Dia mengatakan ketika masih tinggal di asrama anggota parlemen, dirinya tidak pernah berurusan dengan kecoa.
“Bahkan setelah pindah ke rumah dinas, saya dengan hati-hati mengelap lantai di bawah meja makan, memasukkan sisa makanan ke tempat sampah kokoh yang memiliki tutup, serta mencuci dan memilah wadah plastik. Jadi, saya sangat terkejut ketika suatu hari seekor kecoa tiba-tiba berlari melewati kaki saya,” tuturnya, seperti dikutip NDTV, Selasa (25/8/2026).
Takaichi menjelaskan bahwa dirinya terpengaruh oleh konsep reinkarnasi dalam manga "Phoenix" karya Osamu Tezuka. Karena itu, dia tidak tega “membunuh serangga, termasuk kecoa.”“Untuk kecoa yang berlari melintasi kediaman resmi, saya berpikir, ‘Mungkin kehidupan ini juga merupakan bagian dari siklus panjang reinkarnasi', dan untuk sementara saya menahannya, berharap kecoa itu entah bagaimana pergi dengan sendirinya,” tulisnya.
Namun, menurut sang perdana menteri, ketika dia menceritakan masalah kecoa tersebut kepada para sekretarisnya, mereka justru terkejut.
“Ini tidak higienis. Biar saya yang menangani,” kata salah satu sekretaris dengan tegas dan kemudian mengatur “operasi tempur” untuk membasmi kecoa tersebut.
“Setelah itu, kecoa-kecoa tersebut berhenti muncul,” tulis Takaichi. “Saya merasa lega, tetapi juga sedikit kesepian, atau mungkin sedih,” imbuh dia.
Sanae Takaichi Bekerja dari Rumah
Takaichi, yang belakangan semakin sering menghabiskan waktunya di rumah dinas, pekan lalu mengatakan dirinya kini lebih sering menggunakan kediaman tersebut sebagai tempat bekerja untuk meningkatkan efisiensi.Dalam unggahan di X, Takaichi mengatakan tinggal di kediaman resmi atau “kotei” memiliki keuntungan karena lokasinya dekat dengan kantor. Dengan demikian, dia tidak perlu melakukan perjalanan dan dapat langsung bekerja ketika terjadi keadaan darurat.Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Dia mengatakan telah memperkuat fungsi perkantoran di kediaman tersebut sehingga bisa bekerja dan mengadakan pertemuan secara daring maupun langsung dengan stafnya kapan pun diperlukan, bahkan setelah jam kerja.
Dia juga membawa dokumen ke rumah untuk dibaca. “Bagi saya, kediaman resmi juga merupakan tempat kerja,” katanya.
Namun, pernyataan tersebut, ditambah pengakuannya baru-baru ini di X bahwa dirinya hanya tidur nol hingga tiga jam per malam karena harus mengurus pekerjaan rumah tangga di tengah kesibukannya sebagai perdana menteri, memicu kritik.
Para pengkritik menilai pemimpin perempuan pertama Jepang tersebut memberikan contoh yang keliru mengenai keseimbangan kehidupan dan pekerjaan serta kesetaraan gender.Tingkat dukungan terhadap perdana menteri Jepang tersebut juga dilaporkan turun dengan cepat setelah dia mendorong kebijakan yang tidak populer, seperti revisi Undang-Undang Rumah Kekaisaran untuk memperkuat sistem suksesi yang hanya memungkinkan laki-laki, sembari menunda kebijakan ekonomi untuk mengatasi kenaikan harga.
Sejumlah laporan media menyebut Takaichi menghindari sidang parlemen dan lebih banyak menghabiskan waktu di kediaman resminya pada malam hari serta akhir pekan.
Dia juga disebut jauh lebih jarang berinteraksi dengan anggota parlemen dan pejabat lain dibandingkan para pendahulunya.
Takaichi sendiri lebih sering menyampaikan komentar dan kebijakan melalui X daripada berbicara kepada media.









