5 Adab Bermedia Sosial dalam Islam, dari Tabayyun hingga Menebar Kebaikan

5 Adab Bermedia Sosial dalam Islam, dari Tabayyun hingga Menebar Kebaikan

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:34
share

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Beragam informasi, hiburan, hingga komunikasi dapat diakses dengan mudah hanya melalui layar ponsel.

Namun, kemudahan tersebut juga perlu diiringi dengan sikap bijak. Dalam Islam, setiap aktivitas seorang Muslim tidak terlepas dari tuntunan akhlak, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan, memverifikasi informasi, serta menghindari perkataan dan perbuatan yang dapat merugikan orang lain. Karena itu, bermedia sosial sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan adabdan etika, tetapi juga nilai-nilai moral dan ajaran agama.

Lima Adab Bermedia Sosial yang Perlu Diperhatikan:

1. Mencari dan Membagikan Informasi yang Bermanfaat

Media sosial sebaiknya dimanfaatkan untuk memperoleh pengetahuan dan informasi yang memberikan manfaat. Seorang Muslim hendaknya tidak menghabiskan waktunya hanya untuk hal-hal yang tidak memberikan nilai positif.

Baca juga:Fenomena Medsos : Ngemis Online pun Marak, Bagaimana Hukumnya Menurut Islam?Mencari ilmu juga merupakan bagian dari amal yang memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR Muslim).

Karena itu, media sosial dapat menjadi sarana untuk belajar, memperluas wawasan, dan mendapatkan informasi yang bermanfaat.

2. Tabayyun Sebelum Menyebarkan Informasi

Salah satu adab penting dalam bermedia sosial adalah melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Di era digital, informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Jika tidak berhati-hati, seseorang bisa ikut menyebarkan berita bohong atau informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS Al-Hujurat: 6).

Ayat tersebut menjadi pengingat agar seorang Muslim tidak terburu-buru menerima dan menyebarkan sebuah informasi.

3. Tidak Menebarkan Kebencian dan Berita Palsu

Media sosial tidak seharusnya menjadi tempat untuk menyebarkan kebencian, fitnah, maupun berita palsu. Perilaku tersebut termasuk akhlak tercela dan bertentangan dengan ajaran Islam.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta." (QS An-Nahl: 105).

Karena itu, seorang Muslim perlu mempertimbangkan dampak setiap unggahan, komentar, maupun informasi yang dibagikan kepada orang lain.

4. Menjaga Lisan dan Kata-Kata

Meskipun komunikasi dilakukan melalui tulisan, prinsip menjaga lisan tetap berlaku di media sosial. Jangan sampai jari seseorang menuliskan sesuatu yang tidak pantas, menyakiti hati orang lain, menghina, atau memicu pertengkaran.Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya menjaga ucapan. Dalam sebuah hadis disebutkan:

"Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu." (HR Ahmad).

Pesan tersebut relevan diterapkan di media sosial. Tidak semua hal harus dikomentari dan tidak semua informasi perlu ditanggapi.

5. Menjadikan Media Sosial sebagai Sarana Menebar Kebaikan

Media sosial juga dapat menjadi sarana dakwah dan menyebarkan kebaikan. Konten positif, edukasi, nasihat, maupun informasi yang bermanfaat dapat memberikan pengaruh baik kepada masyarakat.

Dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar atau majelis ilmu. Di era digital, media sosial dapat menjadi salah satu sarana untuk mengajak orang lain kepada kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda:"Barang siapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." (HR Muslim).

Karena itu, setiap Muslim hendaknya menggunakan media sosial secara bijak. Sebab, apa yang ditulis, diunggah, dan disebarkan di ruang digital bukan hanya meninggalkan jejak di dunia maya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pertanggungjawaban amal di hadapan Allah SWT.

Baca juga:Fenomena Medsos : Ajang Pamer Amal, Bolehkah?

Topik Menarik