Medsos dalam Pandangan Al-Quran, Cermin Kualitas Keimanan

Medsos dalam Pandangan Al-Quran, Cermin Kualitas Keimanan

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:15
share

Media sosial (medsos) telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Beragam informasi, gagasan, kritik, hingga hiburan dapat disampaikan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membawa persoalan. Tidak sedikit orang menjadi korban unggahan dan komentar yang dibuat secara sembarangan.

Sebagian pengguna bahkan sengaja membuat konten kontroversial untuk mendapatkan perhatian dan menjadi viral tanpa memikirkan dampak yang mungkin ditimbulkan. Dalam perspektif Islam, penggunaan media sosialtidak hanya berkaitan dengan etikabermasyarakat, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan keimanan.

Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI) dan Dosen Fakultas Dirasat Islamiyah, Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA, menjelaskan bahwa Al-Qur'an telah memberikan tuntunan dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi, termasuk dalam menerima dan menyebarkan informasi melalui media sosial.

Sebagai Ummatu'l Qur'an atau umat Al-Qur'an, seorang Muslim dituntut untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai pedoman ketika berinteraksi di ruang digital. Salah satu prinsip utama yang diajarkan Al-Qur'an adalah tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Baca juga:Fenomena Medsos : Ngemis Online pun Marak, Bagaimana Hukumnya Menurut Islam?

Allah SWT berfirman:يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seseorang yang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya membuatmu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS Al-Hujurat: 6).

Bijak Bermedia Sosial Bagian dari Keimanan

Ayat tersebut menunjukkan bahwa cara seorang Muslim dalam menerima dan menyebarkan informasi merupakan bagian dari persoalan keimanan.

Menurut Ahmad Kusyairi, kualitas keimanan seseorang tidak hanya dapat dilihat dari ibadah ritual semata. Sikap seseorang ketika menghadapi informasi, termasuk informasi yang beredar di media sosial, juga menjadi bagian dari cerminan keimanannya.

Karena itu, seseorang yang mudah mempercayai berbagai informasi tanpa melakukan verifikasi dapat terjebak pada kesalahan. Demikian pula orang yang terbiasa mengunggah atau membagikan informasi dan komentar tanpa mempertimbangkan kebenaran serta dampaknya.Prinsip tabayyun menjadi penting agar media sosial tidak berubah menjadi sarana penyebaran fitnah, hoaks, maupun informasi yang dapat merugikan orang lain.

Dengan demikian, menggunakan media sosial secara bijak bukan sekadar persoalan etika digital, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas iman.

Medsos Bisa Menjadi Sarana Menebar Kebaikan

Media sosial pada dasarnya merupakan sarana. Dampak baik atau buruknya sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya. Seorang Muslim dapat memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan gagasan, ilmu pengetahuan, nasihat, kritik yang membangun, maupun berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, media sosial justru dapat menjadi sarana efektif untuk menyebarkan pesan positif dan mendorong perbaikan di tengah masyarakat.

Namun, setiap unggahan dan komentar tetap harus dipertanggungjawabkan. Al-Qur'an mengingatkan bahwa tidak ada ucapan manusia yang luput dari pencatatan.

Allah SWT berfirman:

"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS Qaf: 18).Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap ucapan manusia berada dalam pengawasan dan pencatatan malaikat. Dalam konteks kehidupan digital, prinsip ini dapat menjadi pengingat bahwa tulisan, komentar, dan unggahan di media sosial juga harus dipertanggungjawabkan.

Rasulullah SAW juga memberikan peringatan mengenai bahaya ucapan yang tidak dijaga. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Mu'adz bin Jabal RA pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai apakah manusia akan mendapatkan azab karena ucapan yang mereka lontarkan.

Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa banyak manusia terjerumus ke dalam neraka karena hasil dari ucapan lisannya. (HR Tirmidzi No. 2541).

Pesan tersebut menjadi pengingat agar umat Islam berhati-hati dalam berkomentar dan membuat unggahan di media sosial. Apa yang ditulis hari ini dapat menjadi jejak digital sekaligus bagian dari pertanggungjawaban seseorang di hadapan Allah SWT.

Kritik di Medsos Harus Disampaikan dengan Bijak

Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kritik. Dalam Islam, kritik yang membangun atau an-naqd al-banna' pada dasarnya diperbolehkan selama disampaikan dengan cara yang baik dan bertujuan untuk melakukan perbaikan.

Nasihat bahkan memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda:

"Agama itu nasihat." Para sahabat bertanya, "Untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin dan kaum Muslimin secara umum." (HR Muslim No. 55).Karena itu, kritik tidak selalu harus dimaknai sebagai serangan. Kritik yang disampaikan dengan niat memperbaiki dapat menjadi bagian dari amar makruf nahi mungkar.

Namun, cara menyampaikannya tetap harus diperhatikan. Kritik di media sosial sebaiknya tidak berubah menjadi penghinaan, fitnah, provokasi, atau serangan pribadi.

Kritik yang disampaikan melalui jurnal, buku, seminar, forum diskusi, maupun ruang akademik mungkin dapat dikemas secara lebih ilmiah. Namun, media sosial juga dapat digunakan sesuai dengan kapasitas dan konteks persoalan. Yang terpenting, nasihat dan kritik harus disampaikan dengan hikmah. Demikian pula, menerima nasihat dan kritik membutuhkan kelapangan dada.

Sikap dalam memberi maupun menerima nasihat dan kritik pada akhirnya dapat menjadi salah satu cermin kualitas keimanan seseorang.

Media sosial karena itu bukan sekadar ruang untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Bagi seorang Muslim, setiap aktivitas di ruang digital semestinya menjadi bagian dari upaya menjaga akhlak, menyebarkan kebaikan, serta mempertanggungjawabkan setiap perkataan dan tulisan di hadapan Allah SWT. Wallahu a'lam bish-shawab.

Baca juga:Fenomena Medsos : Ajang Pamer Amal, Bolehkah?

Topik Menarik