Benarkah Olahraga Saat Sakit Bikin Cepat Sembuh? Ini Kata Dokter

Benarkah Olahraga Saat Sakit Bikin Cepat Sembuh? Ini Kata Dokter

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 14:23
share

Berolahraga saat tubuh sedang kurang fit atau sakit seringkali dianggap sebagai langkah ampuh untuk mempercepat proses penyembuhan. Banyak orang meyakini bahwa olahraga yang dicap sebagai aktivitas sehat mampu meningkatkan imunitas secara instan untuk melawan penyakit yang sedang dirasakan.

Namun, anggapan tersebut ternyata keliru. Memaksa tubuh tetap berolahraga saat sakit justru membuat proses recovery atau penyembuhan berjalan jauh lebih lambat, bahkan berisiko membuat infeksi sistemik menjadi semakin parah.

Baca juga: 4 Kebiasaan Buruk Gen Z Pemicu Penyakit Jantung, Jangan Anggap Sepele!

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi dalam unggahan video di akun Instagramnya mengatakan bahwa saat sakit, imunitas tubuh kita sedang menurun serta mengalami tekanan atau stres. Sehingga, memerlukan energi tambahan dari istirahat untuk melakukan penyembuhan (recovery) dari infeksi sistemik saat sakit.

“Itu fakta, ketika kita sakit imunitas kita itu lagi drop, dan tubuh kita lagi kena pressure atau stres. Sehingga tubuh tuh memerlukan energi tambahan untuk me-recover infeksi sistemik tersebut. Apalagi kalau penyakitnya tuh berat kayak DBD, demam tifoid, diare, keracunan,” ujarnya.Ia menjelaskan, jika seseorang tetap memaksakan berolahraga, maka beban tubuh dalam melakukan recovery akan semakin berat dan justru melambat sehingga membuat durasi waktu sembuh menjadi lebih lama. Bahkan, dampak buruknya adalah menyasar organ-organ lain.

Baca juga: Mana Lebih Sehat, Tidur 8 Jam atau Deep Sleep Lebih Lama?

“Kalau misalkan dia kena infeksi sistemik dan memaksakan untuk olahraga, itu bebannya tambah berat. Bisa kena di infeksinya lebih lama, atau bisa kena ke organ lainnya yang lebih parah,” jelasnya.

Diamemberikan contoh kasus yang cukup ekstrem namun realistis, di mana seseorang nekat melakukan aktivitas fisik berat seperti lari maraton dalam kondisi tubuh yang demam dan kurang istirahat. Kondisi tersebut sangat rentan memicu dua penyakit fatal sekaligus.

“Contoh, ada orang demam, terus tidurnya cuma dua jam, lalu dia nekat half marathon di pagi. Dia akan kena dua penyakit itu, bisa riskan rhabdomyolysis sama acute kidney injury,” papar dr. Tirta.Baca juga: Probiotik Berpotensi Jadi Terapi Pendamping Jerawat, Apa Kata Penelitian?

Lebih lanjut, ia membeberkan bagaimana mekanisme terjadinya rhabdomyolysis suatu kondisi pemecahan jaringan otot yang sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa ketika tubuh kehabisan seluruh cadangan energinya.

“Rhabdomyolysis tuh ketika seseorang dalam kondisi pressure kuat, tubuh udah kehilangan cadangan energi, glikogen habis, fat habis, yang dipecah tuh adalah massa otot. Nah, massa otot kalau dipecah munculnya jadi sel otot yang pecah, jadinya rhabdomyolysis. Hancur itu, mati, kematian ending-nya,” tegas dia.

Tidak hanya rhabdomyolysis, bahaya lain yang mengintai akibat pemaksaan kondisi fisik tersebut adalah munculnya gangguan ginjal akut mendadak yang fatal. “Terus yang kedua acute kidney injury, ketika ginjal berhenti bekerja secara dadakan, ending-nya kematian,” pungkasnya.

Topik Menarik