Dari Wonosobo, Workshop Pertanian Nasional Dorong KDMP Jadi Kekuatan Ekonomi Rakyat

Dari Wonosobo, Workshop Pertanian Nasional Dorong KDMP Jadi Kekuatan Ekonomi Rakyat

Nasional | sindonews | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:43
share

Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP) bersama organisasi kemasyarakatan Jaga Tunas Bumi (Jatubu) menggelar Workshop Pertanian Nasional di Restoran Krishna Garden, Wonosobo, Sabtu (8/8/2026). Acara dihadiri para tokoh aktivis nasional Andrianto selaku Dewan Penasehat GMPP, Rizal Darmaputra Akademisi, Tantan Taufik Lubis Ketua Umum DPP KNPI, 50 perwakilan kelompok tani se-Kabupaten Wonosobo, dan perwakilan dari Karesidenan Banyumas.

Acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-3 GMPP ini membahas implementasi program prioritas pemerintah, yakni Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Workshop ini menghadirkan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Mota, Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Anter Venus, serta Guru Besar Ekonomi Politik Universitas Nasional (UNAS) Jakarta Yudi Chrisnandi.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Mota menjelaskan, Koperasi Desa Merah Putih didirikan sebagai instrumen negara untuk mendampingi desa, bukan sekadar unit usaha dagang biasa seperti minimarket swasta. “Koperasi ini merupakan wujud kehadiran negara untuk mendampingi masyarakat desa dalam menggerakkan segala sektor ekonomi desa—mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga UMKM—agar menjadi kekuatan ekonomi mandiri demi kesejahteraan warga,” kata Joao Mota.

Baca juga: Masyarakat Sipil Keluhkan Akses untuk Bertemu Wakil Rakyat: Harus Melewati 5 Layered Security Check

Langkah ini ditujukan untuk mengisi ruang ekonomi pedesaan yang selama ini dikuasai oleh pemilik modal besar. Gagasan utama kedua yang disampaikan Joao Mota adalah komitmen KDMP untuk memutus jeratan tengkulak yang merugikan petani.Negara memberikan akses finansial murah secara langsung berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro dan super mikro dengan bunga 3 per tahun melalui bank-bank Himbara. Langkah ini krusial karena selama ini dana subsidi tersebut sering diselewengkan oleh oknum perantara untuk membiayai tengkulak atau pengijon yang meminjamkannya kembali kepada petani dengan bunga mencekik hingga 1 per hari.

Harapan Nyata datang dari Petani disampailan perwakilan petani. "Kami dari petani Wonosobo sangat berharap Agrinas dan Koperasi Desa Merah Putih hadir sebagai solusi nyata untuk menyerap langsung hasil komoditas hortikultura dan peternakan lokal,” katanya.

Rektor UPN Veteran Jakarta Anter Venus menekankan pentingnya strategi dan managemen komunikasi publik untuk mengatasi hambatan persepsi di masyarakat. Anter Venus memaparkan hasil analisis data digital yang menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep mulia koperasi dengan sentimen publik yang masih didominasi narasi negatif (sekitar 60) akibat ketidakpahaman.

"Niat baik saja tidak cukup di era digital saat opini bisa dibengkokkan melalui gawai. Program besar ini harus terus dikawal dan diluruskan dengan bukti prestasi nyata di lapangan serta testimoni langsung dari masyarakat desa," ujar Venus.

Guru Besar Ekonomi Politik UNAS Yudi Chrisnandi menggarisbawahi landasan hukum pembentukan koperasi serta perlunya evaluasi teknis di lapangan agar program berjalan tepat sasaran. Pendekatan Tumbuh dari Bawah (Bottom-Up). Yuddi menekankan bahwa sesuai amanat Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945, perekonomian harus disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

"Jangan sampai niat baik dari program presiden ini dilakukan dengan cara-cara yang justru menyakiti hati rakyat. Program ini harus berjalan bersih, produktif, dan terbebas dari praktik korupsi satu rupiah pun," pungkasnya.

Topik Menarik