AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
Amerika Serikat (AS) telah meluncurkan serangan udara yang menewaskan pemimpin kartel narkoba Tren de Aragua; Hector Rusthenford Guerrero Flores, yang juga dikenal sebagai Nino Guerrero, di Venezuela. Presiden Amerika Donald Trump membagikan video yang menunjukkan markas bos geng tersebut dibombardir hingga hancur berkeping-keping.
Tren de Aragua, geng kartel narkoba yang terkenal kejam, telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh pemeritah AS. Amerika bekerja sama dengan Venzuela dalam operasi mematikan tersebut.
Baca Juga: Inilah 4 Perempuan Cantik di Balik Kartel Narkoba Terkejam, Salah Satunya Punya 3 Suami
Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan Nino Guerrero telah berhasil dieksekusi. "Teroris Tren de Aragua tidak lagi memiliki tempat berlindung yang aman di Venezuela atau di tempat lain mana pun dan, di bawah kepemimpinan saya, kita akan menemukan para pembunuh kejam dan gembong narkoba ini kapan saja, di mana saja, dan mengirim mereka ke dasar neraka tempat mereka seharusnya berada," tulis Trump.
"Serangan ini dikoordinasikan erat dengan teman-teman kita di Venezuela, dengan siapa kita bekerja sama dengan sangat baik," paparnya, seperti dikutip dari Fox News, Minggu (14/6/2026).Menteri Perang AS Pete Hegseth mengonfirmasi di X bahwa operasi tersebut dilakukan awal pekan ini bersama dengan pasukan keamanan Venezuela.Pemerintah Venezuela mengakui bahwa mereka berbagi intelijen dan dukungan teknis khusus dalam operasi gabungan tersebut.
"Selama operasi, terjadi bentrokan dengan anggota struktur kriminal ini, yang mengakibatkan kematian Hector Rusthenford Guerrero Flores, alias 'Nino Guerrero', pemimpin organisasi kriminal," kata Kementerian Komunikasi Venezuela dalam sebuah pernyataan.
Komando Selatan AS (SOUTHCOM) dalam sebuah unggahan di X menyatakan bahwa operasi gabungan tersebut berlangsung terhadap kompleks Tren de Aragua.
Trump telah mengambil serangkaian tindakan luar biasa terhadap geng tersebut, termasuk serangkaian serangan terhadap kapal-kapal kecil yang dituduh oleh pemerintahannya menyelundupkan narkoba ke Amerika.
Setidaknya 207 orang telah tewas dalam serangan kapal oleh militer AS di Samudra Pasifik bagian timur dan Laut Karibia sejak pemerintahan Trump mulai menargetkan mereka yang disebutnya "narkoteroris" pada awal September.Trump dan para pejabat pemerintahannya secara konsisten menyalahkan Tren de Aragua sebagai akar penyebab kekerasan dan perdagangan narkoba ilegal yang melanda beberapa kota di AS.
Tentang Geng Tren de Aragua
Didirikan di Venezuela, Tren de Aragua telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan juga aktif di Kolombia, Peru, dan Chile.Jaksa federal di New York mengajukan dakwaan pemerasan, narkoba, dan senjata api terhadap pemimpin geng tersebut pada bulan Desember.
"Guerrero Flores telah menjadi dalang evolusi Tren de Aragua dari geng penjara Venezuela menjadi organisasi teroris transnasional," kata Jaksa AS Jay Clayton dalam sebuah pernyataan ketika dakwaan diumumkan.
"Tren de Aragua, di bawah kepemimpinan Guerrero Flores, telah melakukan tindakan kekerasan, pemerasan, dan perdagangan narkoba yang tak terhitung jumlahnya di seluruh Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Eropa," katanya.Departemen Luar Negeri AS telah menawarkan hadiah USD5 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan atau penghukumannya.
Menurut laporan dari lembaga think tank InSight Crime, Guerrero menjadikan Tren de Aragua seperti sekarang ini selama masa penahanannya di Tocoron.
"Di bawah kepemimpinannya, Tocoron menjadi salah satu penjara paling terkenal di negara itu, sebagian besar karena kebijakan tidak resmi pemerintah Venezuela yang menyerahkan kendali penjara-penjara tertentu kepada para pemimpin kriminal yang dikenal sebagai pranes," bunyi laporan tersebut.
"Kebebasan ini dan pendapatan kriminal geng tersebut memungkinkan pembangunan kebun binatang, kolam renang, taman bermain, restoran, dan klub malam di dalam penjara," imbuh laporan itu.
Operasi gabungan ini merupakan tanda terbaru membaiknya hubungan antara Caracas dan Washington sejak penculikan Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Januari lalu.
Kedua negara memulihkan hubungan diplomatik pada bulan Maret, yang telah terputus pada tahun 2019. Amerika Serikat sedang dalam proses mengaktifkan kembali kedutaan besarnya di Caracas.









