Penasihat Mojtaba Khamenei: Trump Setuju Cairkan Aset Iran Rp426,7 Triliun yang Dibekukan AS
Mohsen Rezaei, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah setuju untuk mencairkan aset Iran senilai USD24 miliar (Rp426,7 triliun) yang dibekukan Washington.
"Trump telah menyetujui pelepasan aset Iran yang dibekukan senilai USD24 miliar, tetapi dia tidak secara eksplisit menyatakan hal ini," katanya, yang dilansir Fars News Agency. Klaim tersebut disampaikan dalam sebuah upacara di kota Dezful.
Baca Juga: Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
Rezaei mengatakan konflik baru-baru ini telah meningkatkan kedudukan Iran secara global, mengeklaim kapasitas pencegahan negaranya telah tumbuh hingga titik di mana Trump, yang dia sebut "si penjudi", sekarang takut bernegosiasi dengan Teheran.
Dia juga berpendapat bahwa kebijakan AS semakin dibentuk oleh pengaruh Israel, menegaskan bahwa Amerika secara efektif telah menjadi "koloni" dari rezim Zionis karena lobi di dalam lingkaran pengambilan keputusannya.Pernyataan Rezaei menyusul pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahwa usulan memorandum kesepahaman dengan AS akan secara resmi mengakhiri konflik di semua front, termasuk Lebanon, dan membuka jalan bagi negosiasi tentang pencabutan sanksi.Sementara itu, Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa kesepakatan dengan Iran yang telah lama ditunggu-tunggu untuk mengakhiri perang di Timur Tengah akan ditandatangani pada hari Minggu (14/6/2026). Trump juga mengeklaim bahwa Selat Hormuz akan dibuka untuk semua segera setelah kesepakatan itu diteken.
Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan: "Kesepakatan itu dijadwalkan akan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz akan dibuka untuk semua." Klaim Trump tersebut tanpa menyinggung nasib aset Iran senilai USD24 miliar yang dibekukan Amerika.
Membandingkan kesepakatan tersebut dengan kesepakatan mantan Presiden AS Barack Obama, Trump mengatakan bahwa kesepakatannya adalah kebalikannya. Dia mengatakan bahwa kesepakatan Obama akan membantu Iran mencapai tujuan senjata nuklirnya lebih cepat.
"Kesepakatan Barack Hussein Obama dengan Iran, JCPOA, adalah jalan yang mudah, indah, dan mulus menuju senjata nuklir, yang akan dimiliki Iran enam tahun lalu, dan akan digunakan jauh sebelum sekarang. Perjanjian saya dengan Iran adalah kebalikannya, tembok yang tidak akan menghasilkan senjata nuklir!" tulisnya.
Trump mengatakan bahwa Iran sekarang tidak lagi menginginkan senjata nuklir dan tidak akan memilikinya di masa depan, baik melalui pembelian, pengembangan, atau pengadaan.Presiden dari Partai Republik tersebut selanjutnya mengeklaim bahwa pemerintahan saat ini menikmati hubungan yang jauh berbeda dan lebih baik daripada pemerintahan sebelumnya.
Dalam unggahannya, Trump juga mengindikasikan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih dan menghancurkan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.
"Pada waktu yang tepat, ketika semuanya tenang, kita akan masuk dan mengambil debu nuklir, yang terkubur jauh di bawah pegunungan granit yang tenggelam, berkat pesawat pengebom B-2 kita yang indah dan pilot-pilotnya yang brilian, dan mencampurnya serta menghancurkannya, baik di Iran, atau di Amerika Serikat," kata Trump.
"Kami berharap dapat bekerja sama dengan Iran, dan seluruh Timur Tengah, untuk waktu yang lama di masa depan," ujarnya.
Namun unggahan Trump juga berisi peringatan kepada Republik Islam Iran untuk sepenuhnya menerapkan rencana tersebut atau menghadapi konsekuensi serius."Semoga proses ini akan berjalan dengan cepat, mudah, dan lancar," imbuh presiden AS tersebut. "Jika tidak, kita memiliki alternatif terakhir, yang semoga tidak akan pernah digunakan lagi!"
Kendati demikian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa penandatanganan memorandum Islamabad dengan Amerika Serikat tidak akan dilakukan pada hari Minggu.
Baghaei mengatakan kemungkinan penandatanganan memorandum Islamabad dalam beberapa hari mendatang tidak dapat dikesampingkan, tetapi menambahkan bahwa kehati-hatian diperlukan terkait komentar apa pun tentang tanggal penandatanganan karena keraguan dari pihak lain.







