Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Kementerian Keamanan Negara China mengeklaim bahwa badan-badan mata-mata dan intelijen asing menggunakan metode baru yang inovatif untuk memantau perairan komunis itu, termasuk mengerahkan hewan “mata-mata” yang dilengkapi sensor.
Dalam sebuah unggahan di platform WeChat, kementerian itu memperingatkan bahwa “perang rahasia tak terlihat” diam-diam terjadi di laut sekitar China karena badan-badan asing mengumpulkan data sensitif melalui berbagai perangkat mata-mata baru. "Untuk menghasilkan peta bawah air yang menimbulkan ancaman serius bagi keamanan nasional kami," katanya.
Baca Juga: Trump Blakblakan AS-China Perang Siber dan Spionase: 'Kami Memata-matai Mereka Habis-habisan!'
Di antara teknik spionase yang digunakan, klaim kementerian tersebut, adalah hewan laut besar, termasuk "kura-kura mata-mata" dan "ikan mata-mata", yang ditemukan "terpasang sensor" saat berenang di perairan China.
"Hewan-hewan tersebut mengumpulkan data lingkungan laut yang sensitif seperti suhu air, salinitas, dan arus laut secara real-time, dan mengirimkannya ke luar negeri melalui satelit," katanya, tanpa memberikan rincian spesifik tentang di mana hewan-hewan itu ditemukan, atau siapa yang menggunakannya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Minggu (14/6/2026).
Tuduhan penggunaan hewan laut untuk tujuan spionase bukanlah hal baru. Pada tahun 2023, intelijen Inggris mengatakan Rusia meningkatkan keamanan di pangkalan armada Laut Hitam Sevastopol—sebuah pelabuhan di semenanjung Crimea—dengan mengerahkan lumba-lumba terlatih. Laporan dari badan intelijen pertahanan Inggris mengatakan Rusia telah melatih lumba-lumba hidung botol, yang dipelihara di kandang apung di pelabuhan, untuk "menghadapi penyelam musuh".Kementerian Keamanan Negara China juga mengatakan telah menemukan pelampung yang ditempatkan oleh lembaga penelitian kelautan luar negeri yang dilengkapi dengan paket sensor meteorologi yang memungkinkan mereka untuk melacak tanda akustik kapal selam China secara real-time.Kementerian tersebut turut menyebutkan jenis baru "kendaraan luncur gelombang" yang ditenagai oleh gerakan gelombang dan energi matahari, yang menurutnya ditempatkan oleh aktor asing untuk mengirimkan data lingkungan maritim terkait militer dan informasi tentang aktivitas kapal.
China secara teratur mengeklaim adanya upaya spionase yang terjadi di perairan terdekat termasuk Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Selat Taiwan, yang merupakan beberapa perairan paling sensitif secara militer dan paling diperebutkan di dunia. Pada tahun 2024, China mengatakan telah mengidentifikasi "mercusuar" yang tersembunyi di dasar laut yang dapat memandu transit kapal selam asing, dan "mempersiapkan medan pertempuran".
Menurut laporan media China, pemerintah menawarkan imbalan finansial kepada nelayan mulai dari 50.000 hingga 500.000 yuan untuk mengungkap perangkat mata-mata di perairannya.









