Implementasi ESG Sektor Batu Bara Perlu Pantau Seluruh Rantai Pasok

Implementasi ESG Sektor Batu Bara Perlu Pantau Seluruh Rantai Pasok

Ekonomi | sindonews | Rabu, 13 Mei 2026 - 21:22
share

Praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor batu bara dinilai perlu dipantau secara menyeluruh, mulai dari proses produksi hingga dampak penggunaan energi di hilir. Pengawasan yang komprehensif dinilai penting untuk memastikan target pengurangan emisi dan agenda transisi energi berjalan kredibel serta berdampak nyata.

"Sering kali perusahaan hanya melihat emisi langsung atau listriknya saja. Padahal kita juga harus melihat emisi dari transportasi, limbah B3, hingga bagaimana batu bara itu digunakan di pembangkit," kata Ahli Life Cycle Expert Panel KESGI, Jessica Hanafi, dalam Workshopbertajuk "Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan", dikutip pada Kamis (13/6/2026).

Baca Juga:KESGI Dashboard Dorong Transparansi ESG di Pasar Modal

Jessica menjelaskan pendekatan dekarbonisasi industri batu bara harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup industri, mulai dari produksi, distribusi, hingga dampak setelah energi digunakan. Karena itu, perusahaan dinilai perlu memiliki sistem pengelolaan data dan pemantauan emisi yang kuat agar target penurunan emisi dapat diukur secara transparan dan akurat.

Selain aspek lingkungan, Jessica menilai dimensi sosial masih menjadi tantangan dalam implementasi ESG di sektor pertambangan. Menurut dia, isu kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar tambang, seperti gangguan pernapasan akibat paparan debu, masih minim dibahas dalam laporan keberlanjutan perusahaan.

Ia juga mengingatkan bahwa agenda transisi energi harus memperhatikan dampak sosial-ekonomi terhadap pekerja dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertambangan. “Jangan sampai wilayah tambang menjadi kota mati ketika industri berhenti,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, menilai tantangan utama implementasi ESG di Indonesia terletak pada kesenjangan antara komitmen perusahaan dan kondisi nyata di lapangan. Menurut dia, praktik ESG seharusnya dapat diukur, diverifikasi, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Victoria mengatakan masyarakat sipil dan jurnalis memiliki peran penting untuk memverifikasi klaim ESG perusahaan, terutama terkait dampak sosial dan lingkungan di sekitar wilayah tambang. Ia menilai jurnalis perlu melakukan pengecekan lapangan dan membandingkan data perusahaan dengan data independen.

Baca Juga:ESG-IN dan IDCTA Kolaborasi Akselerasi Ekosistem Kredit Karbon Berbasis AI

Sementara itu, Program Manager for Climate & Circular Economy IBCSD, Lusye Marthalia, mengatakan kesiapan perusahaan batu bara dalam menerapkan ESG masih beragam. Perusahaan besar dinilai relatif lebih siap karena tuntutan kepatuhan dan pelaporan, sedangkan perusahaan yang lebih kecil masih menghadapi kendala dalam penghitungan emisi dan strategi dekarbonisasi.

Menurut Lusye, implementasi ESG tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga kapasitas internal perusahaan dan dukungan manajemen puncak. Ia menilai transisi menuju industri rendah karbon membutuhkan investasi besar, mulai dari audit, pengukuran emisi, hingga penerapan teknologi bersih, sehingga diperlukan dukungan pembiayaan dan insentif yang memadai.

Topik Menarik