LPOI Gelar Konsolidasi untuk Perdamaian dan Peradaban Humanis

LPOI Gelar Konsolidasi untuk Perdamaian dan Peradaban Humanis

Nasional | sindonews | Sabtu, 2 Mei 2026 - 16:27
share

Lembaga Persahabatan Ormas Islam Indonesia (LPOI) melakukan konsolidasi untuk memperkuat visi Islam rohmatan lil aalamiin (blessing for all), merajut ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). LPOI memandang penting untuk melakukan konsolidasi dunia Islam ditengah pergolakan global yang semakin tidak menentu.

LPOI melakukan dialog publik dan menandatangani naskah kesepemahaman (MOU) dengan Muassasah Risalatussalam Al Alam dari Mesir,di Pesantren Al Tsaqofah, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Jumat 1 Mei 2026. Kegiatan ini untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan peradaban global yang menjunjung tinggi nilai Islam rohmatan lil alamiin.

Baca juga: LPOI: Penyalahgunaan Kekuasaan adalah Bentuk Kezaliman

Kehadiran Delegasi Risalatussalam Al Alam dari Mesir yang di pimpin oleh Dr Majdy Thontowy bersilaturrahmi dengan Pimpinan LPOI Prof KH Said Aqil Siroj yang di Dampingi Sekjen LPOI Gus Imam Pituduh, Bendahara Umum LPOI dan sejumlah petinggi LPOI Lainnya, bersama para santri, berlangsung dengan khidmat.

Said Aqil dalam penjelasannya menyampaikan bahwa kini saatnya konsolidasi dunia Islam wajib untuk disegerakan. Perjuangan untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan peradaban global yang menjunjung tinggi nilai Islam rohmatan lil aalamiin (blessing for all) yang damai dan menyejukkan, serta memberi manfaat bagi kemanusiaan dan keberlangsungan kehidupan, harus terus digaungkan.

"Perdamaian dan peradaban humanis harus menjadi pilar utama perjuangan kaum muslimin sepanjang masa. Islam hadir di semua peradaban di dunia dengan misi salam (misi perdamaian) dan misi insan kamil mukamil (the perfect human being) misi kemanusiaan yang memanusiakan manusia," katanya, dikutip Sabtu (2/5/2026).

Baca juga: LPOI Sampaikan Surat Terbuka untuk Presiden Prabowo, Begini Isinya

Oleh karena itu, dialog peradaban yang bernafaskan spirit perdamaian dan peradaban humanis harus segera digelar, agar ketegangan geopolitik tidak mengarah pada pecahnya perang dunia ke tiga yang lebih parah dan lebih menghancurkan”.

Said Aqil yang juga menjadi Ketua Umum Madjlis Islam Al’la Indonesia (MIAI) menegaskan, kesadaran global dan partisipasi lintas negara harus digalang, agar konflik global segera berakhir. Dibutuhkan terobosan strategis yang mampu mengkompromikan berbagai perbedaan kepentingan dan dibutuhkan pula juru damai terpercaya (trusted peacemaker) yang bisa di terima secara global. State and Non State Actor harus bekerja bersama untuk menghimpun kekuatan strategis yang mampu mendamaikan atau setidaknya agar konflik tidak meluas dan mengarah pada kehancuran total. "Pararel dengan hal tersebut, Tidak dibenarkan atas nama apapun melakukan penjajahan diatas dunia dan tidak dibenarkan atasnama apapun menindas dan mendiskeditkan suatu negara dan suatu bangsa," tandasnya.

Oleh karenanya tindakan provokatif dan intimidasitif serta pelanggaran-pelanggaran hukum internasional yang berpotensi memicu meningkatnya eskalasi, harus segera di hentikan. Diruang ini Indonesia sangat berpotensi menjadi Konsolidator Perdamaian Dunia dan peran ini harus diambil dengan langkah-langkah strategis yang berdampak nyata. Said Aqil sebagai sesepuh Nahdlatul Ulama dan Mustasyar PBNU menyampaikan; kerja bersama semua pihak, khususnya untuk mewariskan nilai-nilai perdamaian dan peradaban humanis kepada lintas generasi, harus terus dilakukan.

"Spirit Islam yang memihak pada perdamaian dan juga memihak kepada kaum tertindas harus disebar luaskan. Konsolidasi dunia Islam untuk perdamaian dan peradaban humanis harus dilihat sebagai langkah awal (starting point) untuk selanjutnya dilakukan konsolidasi lintas iman (interfaith consolidation), karena kerja-kerja perdamaian dan peradaban humanis adalah tanggung jawab Bersama warga dunia dan harus dilakukan oleh semua pihak dengan tanpa terkecuali.

Konsolidasi harus dilakukan secepatnya agar langkah untuk membangun peradaban masa depan (civilizational engineering) tidak terlambat. Sekali lagi kami tegaskan dunia Butuh pendekatan baru “Spritual and natural lifestyle”. Hal ini harus segera digerakkan oleh kaum agamawan. Kaum agamawan tidak boleh hanya menjadi penonton atas realitas global dan tidak boleh hanya bertopang dagu saja”.

Sementara itu, Sekjen LPOI Gus Imam Pituduh menambahkan; “Kerjasama LPOI dengan Risalatussalam Al Alam berfokus pada program (1) Diplomasi Budaya dan Peradaban Islam (2) Dakwah Transnasional berbasis narasi moderasi (3) Pengembangan Riset, Publikasi dan Pusat studi (4) Pertukaran Indonesia-Mesir (5) Pendidikan Formal dan Informal. Visi kerjasama ini didedikasikan untuk membangun ekosistem global pemikiran islam moderat yang berpengaruh dan berkelanjutan dengan sasaran strategis untuk peningkatan sumberdaya manusia, penguatan jaringan internasional dan kontribusi nyata dalam perdamaian global," tandasnya.

Pada saat yang sama Majdy Thontowy, pimpinan Risalatussalam Al Alam menyampaikan bahwa sebagai langkah kongkrit dari kerjasama ini kami akan mengundang LPOI ke Mesir untuk melakukan dialog peradaban, memberikan beasiswa studi Kemesir untuk para santri. Melakukan publikasi karya Ilmiah bersama dan juga melakukan kerja kerja perdamaian yang diharapkan dapat berdampak nyata bagi kemaslahatan kehidupan global.

Di akhir penjelasannya, Majdy Thntowy menegaskan bahwa Indonesia dan Mesir akan menjadi episentrum peradaban Islam di masa depan. Peran serta keduanya dalam menjadi juru damai dan mendamaikan konflik global sangat dinantikan semua warga dunia.

Islam harus selalu hadir menjadi rohmat bagi semuanya dan saatnya tunjukkan kepada dunia bahwa cita diri Islam itu adalah citra diri yang humanis ramah damai dan toleran, seperti wajah Islam di Indonesia yang ramah damai dan toleran.

Topik Menarik