Benarkah Sering Pakai Fast Charging Bikin Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak? Ini Hasil Studinya
JAKARTA - Studi menunjukkan mobil listrik yang sering isi daya menggunakan isi daya cepat (super flash charging) dapat menurunkan kapasitas baterai hingga 3 persen setiap tahunnya.
1. Isi Daya Cepat
Hal ini berdasarkan studi Geotab yang dilakukan tahun ini. Studi itu melibatkan hampir 23 ribu mobil listrik. Melansir Carscoops, dalam studi terungkap, mobil listrik yang sering di-charge dengan daya di atas 100 kW di stasiun pengisian DC mengalami penurunan kapasitas hingga 3 setiap tahunnya. Penurunan kapasitas ini berarti jarak tempuh kendaraan pun berkurang.
Sebagai perbandingan, mobil yang diisi daya dengan kecepatan lebih rendah hanya mengalami penurunan kapasitas baterai sebesar 1,5.
Pengguna mobil listrik lebih disarankan untuk isi daya secara perlahan di rumah untuk dapat menggunakan kendaraan tersebut dalam jangka waktu lama.
Hal yang sama berlaku untuk pengisian daya hingga 10. Baterai jenis LFP (lithium iron phosphate) jauh lebih toleran terhadap pengisian daya penuh dibandingkan jenis NMC (nickel manganese cobalt). Meski begitu, baterai jenis NMC pun tetap bisa diisi hingga penuh sesekali tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti.
Sementara itu, Tesla menyarankan pemilik kendaraan untuk lebih sering isi daya di rumah dan menggunakan jaringan fast charging untuk perjalanan jarak jauh. Tesla juga menyarankan agar baterai diisi hingga 100 ketika benar-benar diperlukan, seperti untuk persiapan perjalanan jauh. Hal ini untuk menjaga agar level daya baterai tidak terlalu rendah.
2. Isi Daya 10-80
Saat mengisi daya baterai kendaraan listrik, ion litium akan berpindah ke elektroda grafit di dalam sel baterai. Pengisi daya cepat mempercepat proses ini, namun juga dapat menyebabkan penumpukan litium pada permukaan elektroda, yakni fenomena yang dikenal sebagai "plating" (pelapisan). Proses ini dapat mengurangi jumlah litium yang tersedia untuk menyimpan energi secara permanen.
Selain itu, pengisian daya cepat menimbulkan masalah lain yakni panas. Peningkatan suhu yang drastis dapat mempercepat penurunan kualitas (penuaan) baterai. Itulah sebabnya banyak kendaraan listrik dilengkapi fitur untuk mengondisikan suhu baterai sebelum pengisian dimulai dan mengapa kecepatan pengisian daya tidak selalu konstan dari awal hingga akhir. Bahkan kendaraan listrik yang diklaim mampu mengisi daya dengan kecepatan 320 kW, seperti Porsche Taycan, hanya dapat mencapai angka tersebut dalam durasi singkat, yakni maksimal lima menit.
Oleh karena itu, produsen kendaraan listrik selalu mencantumkan kecepatan pengisian daya berdasarkan rentang 10 (atau 20) hingga 80. Di luar rentang tersebut, kecepatan pengisian daya dibatasi secara sengaja demi menjaga kesehatan baterai, dan mengisi daya hingga 100 dapat memberikan tekanan yang tidak perlu pada sel-sel baterai.







