Mengenal Walang Goreng, yang Dimakan Veda Ega saat Selebrasi Jadi Runner-Up di Moto3 Malaysia 2026

Mengenal Walang Goreng, yang Dimakan Veda Ega saat Selebrasi Jadi Runner-Up di Moto3 Malaysia 2026

Gaya Hidup | okezone | Selasa, 3 November 2026 - 15:05
share

NAMA walang goreng atau belalang goreng mendadak menjadi perbincangan publik Indonesia dan dunia. Hal ini terjadi karena pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, menyantap kuliner khas daerah asalnya tersebut saat merayakan keberhasilan meraih posisi runner-up Moto3 Malaysia 2026.

Momen unik itu terjadi di area parc fermé Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, pada Minggu 1 November 2026. Setelah menyelesaikan balapan dengan hasil gemilang, Veda terlihat membawa sebuah wadah transparan berisi walang goreng.

Kemudian, Veda menikmati camilan tradisional tersebut di tengah suasana perayaan bersama tim dan para pembalap lainnya. Menariknya, Veda juga sempat menawarkan walang goreng kepada Maximo Quiles, pembalap asal Spanyol yang keluar sebagai pemenang Moto3 Malaysia 2026. Namun, Quiles tampak terkejut ketika melihat isi wadah yang disodorkan kepadanya.

Momen tersebut menjadi perhatian karena Veda tidak hanya merayakan prestasi di ajang balap internasional. Dia juga memperkenalkan salah satu kekayaan kuliner dari kampung halamannya, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lantas, apa itu walang goreng?

1. Apa Itu Walang Goreng?

Dilansir dari laman Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda & Olahraga Kabupaten Gunungkidul, walang goreng merupakan makanan tradisional berbahan dasar belalang yang diolah dengan cara digoreng hingga kering dan renyah. Kuliner ini dikenal sebagai salah satu makanan khas Kabupaten Gunungkidul.

Bagi sebagian orang yang belum pernah mencobanya, mengonsumsi belalang mungkin terdengar tidak biasa. Namun, bagi masyarakat Gunungkidul, belalang telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan lauk pendamping nasi.

Jenis belalang yang umumnya diolah adalah belalang kayu. Serangga ini banyak ditemukan di kawasan pepohonan jati dan semak-semak yang tumbuh di wilayah Gunungkidul.

Walang goreng memiliki cita rasa gurih dan tekstur renyah. Bahkan, sebagian orang yang pernah mencicipinya menyebut rasa belalang goreng hampir menyerupai udang.

2. Diolah dengan Bumbu Sederhana

Proses pembuatan walang goreng terbilang sederhana. Sebelum dimasak, belalang terlebih dahulu dibersihkan untuk membuang kotoran yang terdapat di dalam tubuhnya.

Setelah dibersihkan, belalang digoreng hingga kering. Bumbu yang digunakan biasanya terdiri dari bawang putih, ketumbar, dan garam.

Untuk menghasilkan cita rasa yang lebih beragam, pedagang juga menyediakan beberapa pilihan rasa, seperti gurih, pedas, dan manis atau pedas manis. Penambahan cabai dan gula menjadi salah satu cara untuk menghasilkan variasi rasa tersebut.

Seluruh bagian tubuh belalang dapat dikonsumsi setelah diolah dengan benar. Dalam hal ini, termasuk kepala, sayap, dan kakinya.

 

3. Mengapa Walang Goreng Banyak Dijual di Gunungkidul?

Walang goreng tidak hanya menjadi makanan rumahan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu produk kuliner dan oleh-oleh khas Gunungkidul. Wisatawan dapat menemukan penjual walang goreng di sejumlah lokasi, terutama di sepanjang jalur menuju kawasan wisata.

Makanan ini biasanya dijual dalam kemasan plastik maupun stoples sehingga praktis dibawa pulang. Namum, ketersediaan belalang sangat dipengaruhi oleh musim.

Pada musim penghujan, jumlah belalang biasanya lebih melimpah sehingga harganya relatif lebih murah. Sebaliknya, saat musim kemarau, belalang lebih sulit ditemukan dan harganya cenderung meningkat.

Daya tahan walang goreng yang dapat mencapai beberapa minggu hingga sekitar satu bulan. Hal ini bergantung pada proses pengolahan dan penyimpanannya, menjadikannya pilihan oleh-oleh yang cukup populer.

4. Kaya Protein, tetapi Perlu Memperhatikan Alergi

Salah satu alasan belalang dimanfaatkan sebagai bahan pangan adalah kandungan proteinnya. Serangga yang dapat dikonsumsi, termasuk belalang, berpotensi menjadi sumber protein alternatif.

Meski demikian, tidak semua orang cocok mengonsumsi makanan berbahan dasar serangga. Orang yang memiliki alergi terhadap serangga atau krustasea seperti udang dan kepiting perlu berhati-hati karena dapat mengalami reaksi alergi.

Karena itu, wisatawan yang baru pertama kali mencoba walang goreng sebaiknya memperhatikan kondisi kesehatan dan riwayat alerginya.

5. Dari Gunungkidul ke Panggung Dunia

Aksi Veda Ega Pratama menyantap walang goreng setelah meraih podium kedua Moto3 Malaysia 2026 menjadi momen menarik yang mempertemukan dunia olahraga dengan kekayaan kuliner tradisional Indonesia.

Prestasi Veda di Sirkuit Sepang tidak hanya membanggakan Indonesia, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas daerah asalnya kepada masyarakat internasional. Walang goreng yang selama ini dikenal sebagai kuliner khas Gunungkidul kini mendapat perhatian lebih luas berkat selebrasi sederhana sang pembalap muda.

Dari lintasan balap internasional hingga meja makan, walang goreng membuktikan bahwa kuliner tradisional Indonesia memiliki keunikan dan cerita tersendiri yang layak dikenal dunia.

Topik Menarik