Menteri Jumhur Libatkan Wanadri Dorong Pemulihan Lingkungan
JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menggandeng Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri untuk memulihkan lingkungan. Ia menilai, Wanadri memiliki pengalaman panjang dalam mendekatkan manusia dengan alam sekaligus membangun karakter bangsa melalui kecintaan terhadap lingkungan Indonesia.
Kekayaan alam dan keindahan lingkungan hidup, kata Jumur, merupakan salah satu keunggulan Indonesia yang perlu dijaga bersama. Wanadri lama dikenal sebagai organisasi kegiatan alam bebas tertua di Indonesia dengan berbagai aktivitas yang berkaitan erat dengan alam dan lingkungan.
"Wanadri mengajak kita semua untuk memahami, mengakui dan mencintai dan tentu akhirnya menjadi patriot untuk menjaga bangsa ini melalui alam," ujar Menteri Jumhur dalam keterangannya, dikutip Rabu (30/9/2026).
Jumhur mengatakan kehadirannya dalam kegiatan Wanadri di Bandung Barat, Jawa Barat, pada Selasa 29 September sekaligus menunjukkan bahwa organisasi tersebut memiliki perhatian yang sangat kuat terhadap isu lingkungan hidup. Ia pun menyambut baik kesempatan untuk bertemu dan membahas peluang kerja sama antara pemerintah dan Wanadri.
"Jadi saya berbahagia bisa berkumpul bersama Wanadri di sini," katanya.
Menurut dia, pembahasan bersama Wanadri telah mengarah pada rencana kolaborasi strategis dengan memanfaatkan sumber daya dan jejaring yang dimiliki kedua pihak. Kerja sama tersebut ditujukan untuk memuliakan bumi, alam, sekaligus manusia. Sejumlah kegiatan yang disiapkan antara lain penanaman mangrove, revegetasi hutan, pemulihan terumbu karang, susur sungai, serta berbagai kegiatan pemulihan lingkungan lainnya.
"Saya terima kasih bisa diundang ke sini dan bisa bersama-sama punya kegiatan-kegiatan strategis yang baik untuk kita semua," tuturnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan program akan melibatkan pemerintah serta berbagai pihak secara sukarela, termasuk mereka yang sebelumnya memperoleh keuntungan dari aktivitas yang berdampak terhadap lingkungan. "Nanti detailnya akan dirumuskan Tim LH dan Tim Wanadri," katanya.
Jumhur juga memaparkan konsep tobat ekologis nasional yang mencakup tiga perspektif. Pertama, perspektif moral, yakni setiap orang maupun lembaga, termasuk pemerintah, harus mengakui kesalahan terhadap bumi dan tidak mengulanginya.
Kedua, perspektif imbauan religius karena seluruh agama mendorong manusia untuk memuliakan bumi. Ketiga, pengakuan atas kesalahan yang diwujudkan melalui tindakan restorasi atau mengembalikan kondisi lingkungan yang telah rusak.
Ia mengatakan, pendekatan tersebut terutama akan diterapkan kepada entitas bisnis yang pernah melakukan aktivitas yang berdampak pada lingkungan. KLH akan mendorong pihak yang pernah menambang atau merusak lingkungan untuk menggunakan sumber daya yang dimiliki guna melakukan pemulihan, termasuk reklamasi, revegetasi, penanaman kembali, dan pemulihan mangrove.
"Besok KLH akan menegur orang itu, misalnya kamu dapat duit banyak, dapat keuntungan besar sekali, nah sekarang waktunya untuk memperbaiki. Caranya dengan memanfaatkan law enforcement atau penegakan hukum. Di KLH ini perintah untuk menegakkan hukum baik secara preventif maupun represif itu ada. Kasarnya KLH bisa menjarain orang. Itu kita akan gunakan," tegasnya.
Meriahkan Muktamar ke-35 NU, Silatnas Lazisnu Sedunia Perkuat Gerakan Filantropi Berbasis Riset
Dalam gerakan tobat ekologis nasional tersebut, Jumhur menyebut terdapat pula potensi pengembangan kegiatan ekonomi, mulai dari penciptaan lapangan pekerjaan hingga pengadaan berbagai peralatan untuk mendukung pemulihan lingkungan. Pada kesempatan yang sama, Jumhur menyumbangkan Rp50 juta dari gajinya kepada Wanadri untuk mendukung kegiatan.








