BMKG Ungkap Penyebab Gempa M 5,3 di Laut Cilacap, Getaran Terasa hingga Pacitan

BMKG Ungkap Penyebab Gempa M 5,3 di Laut Cilacap, Getaran Terasa hingga Pacitan

Nasional | inews | Jum'at, 4 September 2026 - 17:55
share

CILACAP, iNews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab gempa dengan magnitude 5,3 mengguncang wilayah Selatan Jawa, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (4/9/2026). 

BMKG memastikan gempa bumi yang terjadi di laut ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami. 

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,27° LS dan 109,02° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 59 km arah Selatan Kota Cilacap, Jawa Tengah, dengan kedalaman hiposenter 69 km.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, peristiwa ini merupakan jenis gempa bumi menengah. 

"Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia," papar Wijayanto dalam keterangan resminya.

Dia menuturkan, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki pergerakan turun (normal fault).

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap) serta laporan dari masyarakat, guncangan gempa bumi ini dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Tengah, DIY, hingga Jawa Barat dengan skala intensitas bervariasi yakni, Skala III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa seakan-akan ada truk berlalu) dirasakan di Cilacap, Kebumen, Purwokerto, Bantul, dan Kulonprogo.

Skala II-III MMI dirasakan di wilayah Pangandaran. Skala II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang) dirasakan di Pacitan, Sleman, dan Wonogiri.

Belum Ada Gempa Susulan

BMKG mencatat hingga pukul 12.40 WIB, hasil pemantauan belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).

Pihak BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Warga juga diminta untuk memeriksa kondisi bangunan rumah masing-masing dan menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan.

"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi terverifikasi," kata Wijayanto.

Topik Menarik