Perubahan AS dalam Perang Iran 2026: Tanda Kekalahan?

Perubahan AS dalam Perang Iran 2026: Tanda Kekalahan?

Nasional | sindonews | Senin, 6 April 2026 - 16:33
share

Ridwan al-MakassaryDosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

PADA setiap perang yang berkecamuk, termasuk perang antara Iran-Amerika Serikat (AS), terdapat dua medan yang selalu berjalan beriringan, yaitu medan tempur dan medan kepercayaan. Adapun medan tempur dipenuhi dentuman, sedangkan medan kepercayaan dilingkupi keraguan.

Dan, acap kekalahan pertama satu pihak yang lebih dahulu mengangkat senjata terjadi di medan kepercayaan, sebelum kekalahan menjelma nyata di medan tempur. Tanda-tanda kekalahan di medan kepercayaan jarang diumumkan secara terang-terangan.

Namun, ia acap hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti kebingungan strategi, perubahan tujuan perang, demonstrasi domestik yang masif, dorongan gencatan senjata, klaim dan narasi kemenangan, dan—yang paling simbolik—pergantian jenderal. Hal terakhir inilah yang akan dijelaskan dalam opini singkat ini.

Lebih dari sebulan perang Iran 2026 telah terjadi, Amerika Serikat (AS) di bawah komando Donald Trump memperlihatkan pola itu secara jelas di medan kepercayaan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth memimpin perombakan untuk menempatkan jenderal yang lebih selaras dengan agenda serangan cepat yang dikehendaki Trump. Sejumlah jenderal yang diganti adalah Jenderal George, Jenderal David Hodn, dan Mayor Jenderal William Green Jr. Di sini, pergantian sejumlah jenderal bukan lagi sekadar dinamika organisasi militer, melainkan juga cermin retaknya kepercayaan antara kekuasaan politik dan rasionalitas strategis militer. Singkatnya, bagi Trump, pergantian itu refleksi dari kegelisahan yang lebih dalam: krisis kepercayaan dalam tubuh kekuasaan itu sendiri.

Sejak awal, seperti kebanyakan pandangan analis, termasuk penulis, perang Iran ini berdiri di atas fondasi yang tidak kokoh. Ia seperti istana pasir di pantai yang mudah hancur oleh terjangan ombak. Perang ini tidak memiliki garis depan yang jelas, dan juga tidak memiliki musuh yang sepenuhnya konvensional. Narasi pemerintah AS acap bergeser, sejak dari serangan “pembelaan diri”, pembatasan program nuklir, hingga regime change (perubahan rejim).

Perubahan tujuan ini tampaknya menciptakan ambiguitas yang berbahaya. Sebab dalam perang, ketidakjelasan tujuan adalah awal dari kebuntuan. Inilah yang dialami AS dalam perang ini. Justru, AS sendiri yang mengalami “perubahan rejim” seperti dituding Iran.

Para jenderal, yang diganti tersebut, yang dibentuk oleh disiplin strategi jangka panjang, memahami kompleksitas Iran, yaitu geografi dan benteng alam yang sulit, jejaring proksi yang luas, serta daya tahan (resiliensi) politik yang tidak mudah dipatahkan. Mereka tidak melihat perang ini sebagai operasi cepat dengan kemenangan instan, melainkan sebagai konflik berlapis dengan risiko eskalasi regional. Namun, politik tidak selalu memiliki kesabaran yang sama.

Di bawah tekanan domestik dan ekspektasi publik, perang acap dipaksa menjadi panggung demonstrasi kekuatan. Ia harus terlihat tegas, cepat, dan menang. Dalam logika ini, kehati-hatian militer bisa dibaca sebagai keraguan. Analisis strategis bisa dianggap sebagai hambatan. Karenanya, mereka acap diganti, dikorbankan atau dipensiunkan dini.Di titik inilah ketegangan antara militer dan politik menjadi tak terelakkan. Dalam situasi seperti ini, militer menghadapi dilema klasik. Apakah jenderal militer tersebut tetap menjaga integritas profesionalnya—dengan risiko tersingkir—atau menyesuaikan diri dengan kehendak politik demi mempertahankan posisi yang diemban?

Sejarah menunjukkan bahwa ketika militer terlalu tunduk pada logika politik, maka ia kehilangan fungsi kritisnya. Ia berhenti menjadi institusi yang memberi pertimbangan strategis, dan juga berubah menjadi instrumen yang mengeksekusi kehendak politik pemimpin tertinggi militer (presiden).

Dalam konteks ini, keputusan Trump tampak sebagai upaya untuk membangun lingkaran kepercayaan yang lebih sempit, loyal, dan sejalan dengan visi politiknya. Ini bukan lagi tentang siapa yang paling memahami medan perang, tetapi siapa yang paling memahami kehendak presiden. Dan, ketika standar itu berubah, militer tidak lagi berdiri sebagai institusi profesional yang otonom, melainkan sebagai perpanjangan tangan dari kehendak politik presiden.

Lebih jauh, pergantian jenderal juga acap menjadi alat politik untuk mengelola persepsi publik. Ketika perang tidak menghasilkan kemajuan signifikan di medan tempur, maka mengganti komandan dapat menciptakan ilusi bahwa perubahan sedang terjadi. Seolah-olah masalah terletak pada individu, bukan pada desain strategi. Padahal, jika tujuan perang itu sendiri tidak jelas dari awal, maka siapa pun yang memimpin akan menghadapi kebuntuan yang sama.

Sementara itu, ada dimensi lain yang tidak kalah penting dalam pergantian jenderal, yaitu konsolidasi kekuasaan. Dalam kondisi tekanan politik yang kuat, pemimpin cenderung memperkuat kontrol terhadap institusi-institusi kunci, termasuk militer. Mengganti jenderal bukan hanya soal efisiensi atau kinerja. Ia adalah cara untuk memastikan tidak ada deviasi. Tidak ada suara yang terlalu berbeda, dan juga tidak ada keberanian untuk mempertanyakan arah perang. Pergantian jenderal, karenanya, dapat menjadi cara untuk memastikan bahwa tidak ada resistensi internal terhadap arah kebijakan perang.

Namun, langkah ini membawa konsekuensi serius. Ia menggeser keseimbangan antara kekuasaan sipil dan profesionalisme militer, yaitu sebuah keseimbangan yang selama ini menjadi fondasi penting dalam sistem demokrasi Amerika. Dalam sistem demokrasi, militer berada di bawah kendali sipil—tetapi bukan tanpa ruang untuk profesionalisme. Ia harus tunduk, tetapi tidak kehilangan integritas.

Ketika jenderal diganti karena perbedaan pandangan strategis, batas itu mulai kabur. Militer tidak lagi menjadi penyeimbang rasional, tetapi hanya sebagai pelaksana. Dan, ketika itu terjadi, keputusan perang menjadi semakin sempit yang dibentuk oleh lingkaran kecil kekuasaan tanpa koreksi internal.

Pungkasannya, sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa perang yang diputuskan dalam ruang sempit seperti itu jarang yang berakhir baik, dan juga sinyal kekalahan yang memalukan untuk diakui. Apakah AS sedang menuju kekalahannya pada medan tempur ini? Mahkamah sang waktu yang akan menjawabnya.

Topik Menarik