Baskara Putra Tak Keberatan Lagu Hindia Jadi Musik Aksi Demonstrasi: Punya Semangat Sama

Baskara Putra Tak Keberatan Lagu Hindia Jadi Musik Aksi Demonstrasi: Punya Semangat Sama

Gaya Hidup | inews | Kamis, 5 November 2026 - 07:52
share

JAKARTA, iNews.id - Musisi Baskara Putra mengaku tidak keberatan karya-karyanya kerap digunakan sebagai musik latar video dokumentasi aksi demonstrasi maupun narasi perlawanan di media sosial. Vokalis .Feast sekaligus penyanyi solo Hindia itu justru merasa penggunaan lagunya dalam aksi massa menunjukkan kesamaan semangat dengan pendengarnya.

Baskara menilai, ketika musik digunakan untuk menyuarakan pesan sejalan dengan isi lagu, hal tersebut menjadi bukti ada kesamaan rasa antara dirinya dan masyarakat.

"Di saat musik itu digunakan untuk menyuarakan hal yang sama dengan apa isi musiknya, semangatnya sama, saya rasa saya menemukan common ground dengan pendengar atau pengguna lagu-lagu tersebut," ujar Baskara saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Pelantun lagu 'Secukupnya' itu bahkan menganggap penggunaan musiknya untuk mengiringi aksi demonstrasi sebagai sesuatu yang wajar. Menurutnya, justru akan terasa aneh jika karya-karyanya digunakan untuk kepentingan yang bertolak belakang dengan pesan dalam lirik lagu.

"Yang aneh itu sebenarnya kalau dipakai untuk kebutuhan yang sebaliknya. Dan sebenarnya sering (tertawa). Cuma itu cerita untuk lain waktu," katanya.

Baskara juga berpandangan musik dan seni tidak bisa dipisahkan dari dinamika sosial politik. Menurut dia, setiap karya seni memiliki keterkaitan dengan kondisi masyarakat dan situasi yang berkembang di sekitarnya.

"Kalau buat saya pribadi seni itu selalu inheren dengan politik dan sebaliknya gitu. Kayak akan sangat sulit untuk memisahkan kesenian dengan sosial politik, karena jelas sekarang bersikap atau menjadi politis itu bukan cuma... kan bersuara saja itu merupakan sebuah sikap politik menurut saya," ujarnya.

Dia menegaskan, sikap yang ditunjukkan bersama sejumlah musisi lain di atas panggung belakangan ini bukan semata-mata ekspresi sebagai seniman. Hal tersebut juga menjadi bentuk keresahan sebagai warga negara yang merasakan dampak kebijakan pemerintah.

Baskara mempertanyakan bagaimana masyarakat bisa membicarakan cinta dan kehidupan jika ruang publik terus tergerus dan kebijakan yang ada dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.

"Gimana kita bisa ngomongin cinta kalau misalnya ruang publik aja nggak ada dan selalu direbut, dan kebijakan tidak berpihak kepada kita semua. Sebelum menjadi seniman atau musisi, kami orang Indonesia," katanya.

Topik Menarik