Reaksi Baskara Putra saat Lagu-lagunya Kerap Dipakai untuk Video Aksi Demo
Musisi Baskara Putra akhirnya buka suara menanggapi karya-karyanya yang kerap dijadikan musik latar dalam berbagai video dokumentasi aksi demonstrasi maupun narasi perlawanan di media sosial.
Vokalis grup musik .Feast yang juga sukses lewat proyek solo Hindia ini mengaku sama sekali tidak keberatan karyanya digunakan untuk mengiringi aksi massa.
Baca juga: Ummi Pipik Tak Lupakan Kebaikan Raffi Ahmad, tapi Pilih Beda Pendapat
Menurut Baskara, penggunaan lagu-lagunya di tengah aksi unjuk rasa justru memperlihatkan adanya kesamaan rasa dan frekuensi antara apa yang ia ciptakan dengan perasaan masyarakat.
"Di saat musik itu digunakan untuk menyuarakan hal yang sama dengan apa isi musiknya, semangatnya sama, saya rasa saya menemukan common ground dengan pendengar atau pengguna lagu-lagu tersebut," ujar Baskara saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan belum lama ini.Pelantun lagu Secukupnya ini justru berseloroh bahwa keanehan baru terjadi apabila karya-karyanya dipakai untuk kepentingan yang justru berseberangan dengan pesan yang tertuang di dalam lirik lagunya.
Baca juga: Kiky Saputri Minta Maaf soal Video Jet Pribadi, Ini Klarifikasinya
"Yang aneh itu sebenarnya kalau dipakai untuk kebutuhan yang sebaliknya. Dan sebenarnya sering (tertawa). Cuma itu cerita untuk lain waktu," lanjut Baskara.
Baginya, musik dan karya seni tidak bisa dipisahkan dari dinamika sosial politik yang sedang terjadi. Bersuara lantang melalui karya dinilainya sebagai bentuk ekspresi yang sangat wajar bagi siapa pun.
"Kalau buat saya pribadi seni itu selalu inheren dengan politik dan sebaliknya gitu. Kayak akan sangat sulit untuk memisahkan kesenian dengan sosial politik, karena jelas sekarang bersikap atau menjadi politis itu bukan cuma... kan bersuara saja itu merupakan sebuah sikap politik menurut saya," ungkapnya.
Lebih lanjut, Baskara menegaskan bahwa apa yang dilakukannya bersama rekan-rekan musisi lain di panggung belakangan ini murni merupakan bentuk keresahan sebagai warga negara yang ikut merasakan dampak dari kebijakan yang ada.
"Gimana kita bisa ngomongin cinta kalau misalnya ruang publik aja nggak ada dan selalu direbut, dan kebijakan tidak berpihak kepada kita semua. Sebelum menjadi seniman atau musisi, kami orang Indonesia," pungkasnya.









