Prabowo Segera Resmikan Pabrik Baterai Mobil Listrik Antam-CATL, Nilai Investasi Rp95 Triliun
JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat dijadwalkan meresmikan pabrik baterai kendaraan listrik hasil kerja sama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan perusahaan asal China, Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL).
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, pihaknya telah melaporkan persiapan peresmian proyek tersebut kepada Prabowo.
"Saya melaporkan kepada Bapak Presiden mengenai kesiapan peresmian pabrik baterai hasil kerja sama CATL dengan Antam, yang satu tahun lalu sudah groundbreaking. Dalam waktu dekat pabrik tersebut akan diresmikan," ujar Bahlil di Istana Negara, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Bahlil menambahkan, kehadiran pabrik tersebut akan melengkapi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, mulai dari penambangan bahan baku nikel hingga pengolahan dan produksi baterai.
"Mungkin tidak banyak negara yang memiliki ekosistem terintegrasi seperti ini. Ini merupakan bagian dari upaya kita melakukan hilirisasi," tuturnya.
Proyek tersebut memiliki nilai investasi sebesar 5,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp95 triliun, dengan kapasitas produksi yang diperkirakan mencapai 15 gigawatt-jam (GWh) per tahun.
Proyek ini dikembangkan melalui konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL) bersama Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC). CBL merupakan perusahaan patungan yang melibatkan CATL, Brunp, dan Lygend.
Bahlil mengatakan, tambahan fasilitas tersebut akan memperkuat kapasitas produksi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Dia juga menyebut sejumlah fasilitas baterai lain yang telah dikembangkan di dalam negeri, termasuk pabrik sel baterai HLI Green Power di Karawang.
Menurutnya, pengembangan fasilitas baterai dalam negeri diharapkan mendorong terbentuknya ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi. Selain membuka lapangan kerja, upaya tersebut juga ditujukan untuk mendukung elektrifikasi kendaraan dan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
"Ekosistem baterai mobil kita sudah benar-benar terintegrasi, mulai dari pertambangan (mining), peleburan (smelter), HPAL, prekursor, katoda, hingga sel baterai (battery cell)," ucapnya.










