Prabowo Panggil Kepala BMKG, Bahas Karhutla hingga Persiapan Hadapi Bencana
JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/10/2026). Pertemuan tersebut di antaranya membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta persiapan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Faisal mengaku telah menyiapkan sejumlah bahan untuk dilaporkan kepada Prabowo dalam rapat terbatas tersebut. Salah satu fokus pembahasan adalah perkembangan karhutla dan langkah penanganannya ke depan.
"Saya baru tiba untuk rapat terbatas dengan Bapak Presiden. Saya kira nanti akan ada banyak hal yang dibahas. Kami juga sudah menyiapkan banyak bahan, mulai dari perkembangan karhutla dan bagaimana penanganannya ke depan, kemudian persiapan menghadapi bencana hidrometeorologi," ujar Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan.
Faisal akan memberikan keterangan lebih lanjut kepada awak media setelah rapat bersama Prabowo. Dia mengatakan masih ada sejumlah hal yang perlu dibahas dan dipastikan dalam pertemuan tersebut.
Dalam penanganan karhutla, BMKG akan berfokus pada wilayah yang masih menghadapi kebakaran, khususnya Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Faisal menyebut potensi pertumbuhan awan di kedua provinsi tersebut dapat mendukung upaya penanganan karhutla dalam beberapa hari ke depan.
"Di Kalimantan Tengah, potensi pertumbuhan awan cukup tinggi mulai hari ini hingga lima hari ke depan. Sementara itu, di Sumatera Selatan, potensinya tinggi mulai besok hingga lima hari berikutnya," ujarnya.
Dia menegaskan, BMKG akan berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk mendukung penanganan karhutla sesuai arahan Presiden Prabowo dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
"Sesuai dengan arahan Bapak Presiden dan Bapak Menko PMK, kami bekerja sama dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI," tambah Faisal.
Terkait luas lahan yang masih terbakar, Faisal meminta awak media mengonfirmasi data tersebut kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi. Menurutnya, penyampaian data melalui satu pintu diperlukan untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada publik konsisten.
"Untuk luasannya, nanti silakan dikonfirmasi kepada Kepala BNPB agar informasinya satu pintu. Terkait luasan, memang ada sedikit perbedaan data. Tim teknis biasanya duduk bersama untuk memastikan dan mengklarifikasi secara terperinci berapa luas lahan yang sudah terbakar sejauh ini," pungkasnya.










