Pemimpin Oposisi Israel Bertekad Gulingkan Netanyahu di Pemilu: Perusak Reputasi!

Pemimpin Oposisi Israel Bertekad Gulingkan Netanyahu di Pemilu: Perusak Reputasi!

Terkini | inews | Senin, 26 Oktober 2026 - 06:38
share

TEL AVIV, iNews.id - Pemimpin oposisi Israel, Yair Golan, bertekad menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melalui pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober mendatang. Dia menilai pemerintahan Netanyahu telah merusak reputasi Israel di mata internasional hingga memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan sanksi ekonomi.

Golan, yang memimpin Partai Demokrat, menyoroti anggapan mengenai “terorisme Yahudi” yang menurutnya telah mencoreng citra Israel di kancah internasional. Dia menilai pemerintah perlu mengambil langkah untuk mengatasi persoalan tersebut guna mencegah Israel menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar.

Selain memperbaiki reputasi Israel dan memperkuat aliansi strategis, Golan menyerukan pembentukan pemerintahan baru tanpa Netanyahu. Dia juga menolak keterlibatan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pemimpin Partai Shas, Aryeh Deri, dalam pemerintahan mendatang.

Seruan Golan muncul di tengah peringatan Netanyahu bahwa Israel harus bersiap menghadapi kemungkinan berakhirnya bantuan militer Amerika Serikat (AS) serta pemberlakuan sanksi ekonomi dan perbankan terkait perang di Jalur Gaza.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Israel, Channel 10, Netanyahu mengatakan bantuan militer AS senilai puluhan miliar dolar AS kemungkinan tidak akan lagi diterima Israel.

“Jika Anda berpikir kita akan terus menerima apa yang telah saya amankan dua kali, dan itu adalah puluhan miliar dolar bantuan Amerika untuk anggaran pertahanan, persiapkan diri Anda dan membiasakan diri menghadapi kenyataan bahwa itu tidak akan terjadi, karena Amerika telah berubah,” kata Netanyahu.

“Ini sudah berakhir, dan akan berakhir. Ini hanya masalah waktu,” ujarnya.

Meski demikian, Netanyahu tidak menyebutkan tanggal berakhirnya bantuan tersebut dan tidak mengumumkan adanya keputusan resmi pemerintah AS untuk menghentikannya. Pernyataannya mencerminkan kekhawatiran terhadap meningkatnya penentangan di kalangan politik AS atas bantuan militer kepada Israel, terutama terkait perang di Jalur Gaza.

Netanyahu juga memperingatkan kemungkinan sanksi ekonomi dan perbankan. Dia meminta pemerintah Israel menyiapkan sistem ekonomi dan keuangan alternatif agar mampu menghadapi tekanan jika sanksi benar-benar diberlakukan.

“Anda harus memahami bahwa mungkin ada sanksi, termasuk sanksi perbankan. Anda harus mempersiapkan ekonomi yang dapat mengatasi sanksi tersebut,” katanya.

Ketika ditanya apakah rantai pasok dapat menjadi salah satu cara menghadapi sanksi, Netanyahu menjawab, “Iya, itu salah satu caranya. Saya sudah meminta rencana untuk mempersiapkannya.”

Berdasarkan pakta yang ditandatangani Israel dan AS pada 2016, Washington berkomitmen memberikan bantuan militer senilai 38 miliar dolar AS selama periode 10 tahun yang akan berakhir pada 2028.

Netanyahu sebelumnya juga menyerukan pengurangan ketergantungan Israel terhadap bantuan militer AS serta penguatan industri pertahanan dalam negeri.

Di tengah ancaman tekanan ekonomi dan ketidakpastian dukungan Washington, Golan mendorong perubahan kepemimpinan di Israel. Dia menginginkan pemerintahan baru yang, menurutnya, dapat memperbaiki hubungan strategis dan mencegah reputasi negara tersebut semakin terpuruk di mata internasional.

Topik Menarik