BNPB: 237 Warga Maumere Pengungsi Gempa M7,7 Mulai Pulang ke Rumah
JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 84 kepala keluarga (KK) atau 237 jiwa penyintas gempa bumi magnitudo (M) 7,7 Flores yang sebelumnya mengungsi di GOR Samador, Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai kembali ke rumah masing-masing. Kepulangan para penyintas tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan pascagempa.
BNPB memastikan warga yang kembali ke rumah tetap mendapatkan dukungan sesuai kondisi dan kebutuhannya.
“Kepulangan ini menjadi bagian dari proses pemulihan bertahap setelah kondisi rumah mereka dipastikan masih aman untuk ditempati,” ungkap Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, dikutip Minggu (30/8/2026).
Sebelum meninggalkan lokasi pengungsian, para penyintas terlebih dahulu menerima bantuan kebutuhan pokok. Bantuan tersebut diberikan untuk mendukung warga selama kembali menjalani aktivitas di rumah masing-masing.
“Sebelum meninggalkan lokasi pengungsian, para penyintas dipanggil satu per satu berdasarkan data kartu keluarga dan menerima bantuan kebutuhan pokok untuk mendukung mereka selama kembali menjalani aktivitas di rumah masing-masing,” kata Berton.
Proses kepulangan difasilitasi BNPB bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka, Dinas Sosial, TNI AL, Satpol PP, dan Basarnas. Armada disiapkan untuk mengantarkan para penyintas beserta barang-barang pribadi dan bantuan sembako menuju rumah masing-masing.
Berton mengatakan kepulangan diprioritaskan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan dan berdasarkan hasil pemeriksaan masih memiliki struktur yang aman untuk ditempati.
Langkah tersebut dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan keselamatan warga. Pemerintah juga terus melakukan pendataan dan verifikasi kondisi bangunan untuk menentukan bentuk dukungan yang diberikan kepada masyarakat terdampak.
Sejak gempa bumi M7,7 Flores terjadi pada Sabtu (15/8/2026), tercatat sebanyak 300 KK atau 1.290 jiwa mengungsi di GOR Samador.
Dengan kepulangan 84 KK atau 237 jiwa, masih terdapat 216 KK atau 1.053 jiwa yang berada di lokasi pengungsian.
BNPB bersama pemerintah daerah akan terus memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi selama proses pemulihan berlangsung. Pendataan tingkat kerusakan rumah menjadi dasar untuk menentukan bantuan yang diterima masing-masing penyintas.
Untuk rumah dengan kategori rusak ringan, pemerintah menyiapkan bantuan perbaikan sebesar Rp15 juta. Sementara rumah rusak sedang mendapatkan bantuan sebesar Rp30 juta.
Adapun warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akan mendapatkan penanganan melalui pembangunan hunian tetap (huntap).
“Sebelum hunian tetap selesai dibangun, pemerintah juga menyiapkan skema solusi sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Penyintas dapat memperoleh dana tunggu hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan untuk menyewa rumah sebagai tempat tinggal sementara atau menempati hunian sementara (huntara) sampai pembangunan huntap dapat diselesaikan,” katanya.
Berton menegaskan seluruh dukungan diberikan berdasarkan hasil pendataan, verifikasi, dan validasi tingkat kerusakan rumah yang dilakukan bersama pemerintah daerah.
Proses tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan diterima masyarakat yang berhak sekaligus mempercepat pemulihan pascabencana secara tertib dan akuntabel.
“Kepulangan sebagian penyintas dari GOR Samador menjadi salah satu tanda bahwa proses penanganan darurat terus bergerak menuju tahap pemulihan. BNPB bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait akan tetap mendampingi masyarakat, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, serta mempercepat pemulihan hunian agar warga dapat kembali menjalankan kehidupan sehari-hari dengan aman dan nyaman,” pungkasnya.










