Klarifikasi Fahira Almira soal Kasus Usus Buntu yang Kontroversial, Makin Blunder?

Klarifikasi Fahira Almira soal Kasus Usus Buntu yang Kontroversial, Makin Blunder?

Gaya Hidup | inews | Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:36
share

JAKARTA, iNews.id - Influencer Fahira Almira akhirnya memberikan klarifikasi terkait kisahnya yang viral setelah mengaku didiagnosis usus buntu oleh sejumlah rumah sakit di Indonesia, tetapi memperoleh hasil pemeriksaan berbeda saat mencari second opinion di Penang, Malaysia.

Klarifikasi disampaikan Fahira melalui media sosial setelah ceritanya menuai sorotan dan memicu perdebatan di kalangan dokter dan warganet. Bahkan, Nalar Rawat mengeluarkan teguran hukum terbuka kepada Fahira.

Lantas, seperti apa klarifikasi Fahira terkait kasus usus buntu yang viral ini? Simak berita selengkapnya hanya di artikel ini. 

Fahira Almira Beberkan Proses Diagnosis dari Indonesia hingga Malaysia

Dalam pernyataan terbarunya, Fahira menegaskan bahwa cerita yang disampaikannya merupakan pengalaman pribadi dan bukan bertujuan menyalahkan ataupun menjatuhkan pihak tertentu.

"Sebelumnya aku mau meminta maaf terhadap pihak yang tersinggung dalam cerita ini. Aku ingin menegaskan bahwa apa yang aku sampaikan di sini murni pengalaman pribadi yang aku alami. Bukan untuk menyalahkan atau menjatuhkan pihak manapun," ujar Fahira, dikutip Rabu (12/8/2026).

Fahira kemudian menceritakan kembali kronologi sejak awal. Setelah pulang ke Indonesia, dia disebut mendapat diagnosis apendisitis atau radang usus buntu dengan ukuran apendiks sekitar 8,1 milimeter.

Dokter yang menanganinya saat itu menyarankan Fahira menjalani operasi. Dalam kondisi panik dan khawatir, Fahira sempat meminta dilakukan pemeriksaan darah, khususnya untuk melihat kadar leukosit.

Namun, menurut Fahira, dokter menilai pemeriksaan yang telah dilakukan sudah cukup untuk menentukan diagnosis, sehingga pemeriksaan darah tambahan tidak diperlukan.

"Aku pun mengikuti arahan dokter karena aku bukan tenaga medis dan aku percaya dengan dokter yang menangani aku," katanya.

Fahira mengaku ketika itu merasa lemas dan takut. Dia bahkan langsung mendatangi bagian administrasi rumah sakit untuk mengetahui perkiraan biaya operasi serta kamar yang tersedia.

Meski demikian, Fahira mengatakan dirinya masih memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan keputusan tersebut dan mencari pendapat medis lain.

Fahira Pilih Terbang ke Penang

Setelah mempertimbangkan kondisinya, Fahira akhirnya memutuskan mencari second opinion ke Penang, Malaysia.

Dia mengaku sengaja berangkat beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit di Indonesia karena khawatir kondisi apendiksnya memburuk hingga pecah.

Sesampainya di Penang, Fahira berkonsultasi dengan dokter. Dia juga mengaku telah meminta izin untuk merekam proses konsultasi karena sejak awal memang berniat membagikan pengalaman tersebut kepada publik.

Dokter kemudian melihat hasil pemeriksaan sebelumnya dan menyarankan Fahira menjalani CT scan untuk memastikan kondisi apendiks.

Hasil CT Scan Indonesia dan Malaysia Berbeda!

Hasil CT scan di Penang kemudian menjadi titik penting dalam cerita Fahira. Menurut penjelasan yang diterimanya, apendiks Fahira tampak normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda peradangan yang jelas.

Fahira juga menyebut terdapat pengukuran sekitar 2,02 milimeter pada gambar CT scan yang kemudian dia sertakan dalam unggahannya.

Namun, Fahira menegaskan bahwa dokter tidak menjadikan satu angka tersebut sebagai satu-satunya dasar penilaian.

"Yang menjadi dasar fokus dokter adalah hasil keseluruhan CT scan, bukan hanya satu angka tersebut," ujar Fahira.

Berdasarkan keseluruhan hasil pemeriksaan tersebut, dokter di Penang menyatakan tidak ditemukan tanda peradangan pada apendiks. Fahira pun akhirnya diberi tahu bahwa dirinya tidak perlu menjalani operasi usus buntu.

Keputusan tersebut membuat Fahira mengaku cukup syok. Pasalnya, dia sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk menjalani operasi.

Di sisi lain, Fahira mengaku sangat bersyukur karena tindakan operasi akhirnya tidak perlu dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan yang diterimanya.

Fahira Tegaskan Tak Ingin Publik Takut Berobat

Dari pengalaman tersebut, Fahira mengatakan dirinya mendapatkan pelajaran penting mengenai perlunya pasien memahami kondisi kesehatan sebelum mengambil keputusan medis yang besar.

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak takut bertanya kepada dokter dan mempertimbangkan second opinion apabila memang diperlukan dan memungkinkan.

"Kalau kita mendapatkan diagnosis yang membuat kita harus mengambil keputusan besar, jangan takut untuk bertanya dan mencari second opinion jika itu memungkinkan," katanya.

Fahira juga menegaskan bahwa pengalaman yang dialaminya tidak seharusnya membuat masyarakat takut berobat atau kehilangan kepercayaan kepada dokter.

"Justru sebaliknya, dengarkan dokter, tanyakan hal-hal yang belum kalian ketahui dan jangan ragu mencari second opinion ketika itu memang diperlukan," ujarnya.

Fahira Ingatkan Pengalamannya Bukan Saran Medis

Di akhir pernyataannya, Fahira kembali memberikan penegasan bahwa apa yang disampaikannya merupakan perjalanan medis yang dialami secara pribadi.

Dia juga meminta masyarakat yang telah didiagnosis mengalami usus buntu dan membutuhkan operasi agar tetap mengikuti arahan dokter serta tidak menunda tindakan medis yang telah direkomendasikan.

Menurut Fahira, kondisi usus buntu yang sampai pecah dapat menimbulkan komplikasi serius.

"Ini murni cerita dan pengalaman pribadi aku, bukan diagnosis atau saran medis untuk orang lain. Hanya berbagi perjalanan yang aku alami, bukan mencari siapa yang salah, siapa yang benar," kata Fahira.

Topik Menarik