Geger! Fahira Almira Sebut Dokter Indonesia Tak Sarankan Tes Darah usai Didiagnosis Usus Buntu

Geger! Fahira Almira Sebut Dokter Indonesia Tak Sarankan Tes Darah usai Didiagnosis Usus Buntu

Gaya Hidup | inews | Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:19
share

JAKARTA, iNews.id - Influencer Fahira Almira membuat geger media sosial usai mengaku tidak disarankan tes darah setelah dokter Indonesia mendiagnosis dirinya usus buntu mengacu pada temuan ukuran apendiks sekitar 8,1 milimeter.

Hasil pencitraan apendiks itu pun, kata Fahira Almira, yang membuat dokter menyarankannya operasi. Tapi, Fahira memutuskan untuk terbang ke Penang, Malaysia, demi mendapatkan second opinion sebelum benar-benar memutuskan untuk operasi usus buntu. 

Seperti apa pernyataan Fahira Almira selengkapnya? Baca beritanya hanya di artikel ini. 

Fahira menceritakan pengalaman tersebut sebagai bagian dari kronologi ketika dirinya pertama kali mendapatkan diagnosis usus buntu. Dia menegaskan bahwa cerita yang disampaikan merupakan pengalaman pribadi dan bukan bertujuan menyalahkan pihak tertentu.

"Sebelumnya aku mau meminta maaf terhadap pihak yang tersinggung dalam cerita ini. Aku ingin menegaskan bahwa apa yang aku sampaikan di sini murni pengalaman pribadi yang aku alami. Bukan untuk menyalahkan atau menjatuhkan pihak manapun," ujar Fahira, dikutip Rabu (12/8/2026). 

"Aku minta dokter untuk melakukan pemeriksaan darah, khususnya untuk melihat leukosit supaya aku lebih yakin dengan kondisi aku," lanjut Fahira.

Namun, menurut penuturannya, dokter mengatakan pemeriksaan yang telah dilakukan sudah cukup untuk menentukan diagnosis.

"Dokter mengatakan dengan pemeriksaan yang sudah dilakukan, diagnosisnya sudah cukup jelas jadi tidak diperlukan untuk pemeriksaan darah," tuturnya.

Fahira mengaku mengikuti keputusan tersebut karena dirinya bukan tenaga medis dan mempercayai dokter yang menanganinya.

"Aku pun mengikuti arahan dokter karena aku bukan tenaga medis dan aku percaya dengan dokter yang menangani aku," katanya.

Fahira mengaku ketika itu dirinya merasa lemas dan takut. Bahkan, dia langsung mendatangi bagian administrasi untuk menanyakan perkiraan biaya operasi dan kamar.

Namun, setelah mempertimbangkan situasinya, Fahira memilih mencari pendapat medis kedua sebelum menjalani tindakan operasi. Dia kemudian memutuskan terbang ke Penang, Malaysia, beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit di Indonesia.

Keputusan tersebut diambil karena Fahira mengaku khawatir kondisi usus buntunya semakin memburuk dan berpotensi pecah.

Jalani Pemeriksaan CT Scan di Penang

Setibanya di Penang, Fahira berkonsultasi dengan dokter dan meminta izin untuk merekam proses konsultasi tersebut.

Setelah melihat hasil pemeriksaan sebelumnya, dokter di Penang kemudian menyarankan Fahira menjalani CT scan untuk memastikan kondisi apendiks.

Hasil pemeriksaan tersebut, menurut Fahira, menunjukkan temuan yang berbeda. Berdasarkan penjelasan dokter, apendiksnya tampak normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda peradangan yang jelas.

Fahira juga menyebut terdapat pengukuran sekitar 2,02 milimeter pada gambar CT scan. Namun, dia menekankan bahwa dokter tidak hanya berpatokan pada satu angka tersebut.

"Yang menjadi dasar fokus dokter adalah hasil keseluruhan CT scan, bukan hanya satu angka tersebut," ujarnya.

Berdasarkan keseluruhan hasil pemeriksaan itu, Fahira mengatakan dokter menyatakan dirinya tidak perlu menjalani operasi usus buntu.

Meski pengalaman tersebut viral dan memicu perdebatan, Fahira meminta masyarakat tidak menjadikan kisahnya sebagai acuan untuk mengambil keputusan medis.

Dia secara khusus mengingatkan orang yang telah didiagnosis mengalami usus buntu dan membutuhkan tindakan operasi agar tetap mengikuti arahan dokter.

"Untuk teman-teman yang sudah didiagnosis usus buntu dan membutuhkan segera dilakukan operasi, ikuti arahan dokter dan jangan menunda operasi jika sudah direkomendasikan," kata Fahira.

Fahira menegaskan pengalaman yang dibagikannya bukan upaya mencari pihak yang salah atau benar.

"Ini murni cerita dan pengalaman pribadi aku, bukan diagnosis atau saran medis untuk orang lain. Hanya berbagi perjalanan yang aku alami, bukan mencari siapa yang salah, siapa yang benar," ujarnya.

Dia juga berharap kisah tersebut tidak membuat masyarakat takut berobat atau ragu terhadap dokter.

"Justru sebaliknya, dengarkan dokter, tanyakan hal-hal yang belum kalian ketahui dan jangan ragu mencari second opinion ketika itu memang diperlukan," tutur Fahira.

Topik Menarik