Zulhas Sebut Fungsi Kopdes Merah Putih untuk Salurkan Barang Subsidi: Bukan Supermarket!

Zulhas Sebut Fungsi Kopdes Merah Putih untuk Salurkan Barang Subsidi: Bukan Supermarket!

Terkini | inews | Selasa, 28 Juli 2026 - 14:35
share

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) bukan minimarket maupun supermarket. Dia menyebut koperasi dibangun untuk menyalurkan subsidi, bantuan, sekaligus menyerap hasil pertanian.

Menurut Zulhas, masih banyak masyarakat yang memiliki persepsi keliru terhadap fungsi koperasi.

“Koperasi ini bukan supermarket, karena di benaknya teman-teman dulu itu koperasi itu supermarket. Jadi sekali lagi, koperasi ini adalah infrastruktur pemerintah untuk nanti menyalurkan barang-barang subsidi, ya, dan barang-barang bantuan pemerintah,” kata Zulhas dalam konferensi pers, Selasa (28/7/2026).

Selain menjadi jalur distribusi program pemerintah, KDKMP juga akan berfungsi sebagai offtaker komoditas pertanian, terutama gabah dan beras. Melalui mekanisme tersebut, koperasi diharapkan mampu melindungi petani dari pembelian dengan harga rendah oleh tengkulak.

Ia mencontohkan, saat Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah ditetapkan Rp6.500 per kilogram, namun tengkulak hanya membeli Rp5.000 per kilogram, koperasi dapat menyerap gabah sesuai HPP melalui kerja sama dengan Bulog.

“Tentu yang paling mendasar itu dulu yang akan dijalankan, nanti dilihat perkembangannya. Kalau koperasinya sudah bagus, di desa itu ada potensi berbagai hal, bisa saja koperasinya mengembangkan ada desa wisata, ada desa tematik, ada macam-macam. Tetapi yang paling mendasar tadi, infrastruktur dan sebagai offtaker,” sambung Zulhas.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan keberadaan koperasi desa akan mempersingkat rantai distribusi komoditas pertanian.

“Ini koperasi sebenarnya kalau sektor pertanian, ini adalah fungsi utamanya memotong ssupply chain, rantai pasok. Itu dari delapan menjadi tiga. Jadi dari delapan rangkaian menjadi tiga. Tiga itu dari petani ke koperasi, koperasi ke masyarakat,” ungkap Amran.

Dia menjelaskan rantai distribusi yang terlalu panjang membuat keuntungan lebih banyak dinikmati para perantara. Berdasarkan perhitungan pemerintah terhadap sembilan komoditas pertanian, keuntungan yang diperoleh middleman mencapai sekitar Rp313 triliun.

Amran menilai sebagian keuntungan tersebut dapat dinikmati petani jika koperasi berperan sebagai penghubung distribusi.

“Artinya apa? Ada Rp263 triliun itu bisa dinikmati petani, harga komoditas bisa naik, kemudian konsumen yang daya belinya naik, konsumen yang biasanya beli 1 kg bisa menjadi 1,5 kg,” sebutnya.

Selain menyerap hasil panen, koperasi juga akan mempermudah distribusi pupuk hingga tingkat desa. Petani pun dapat menjual gabah langsung ke koperasi tanpa harus menuju gudang Bulog.

Amran menambahkan koperasi juga akan menjalankan fungsi distribusi melalui Agrinas Pangan untuk menyalurkan komoditas dari daerah surplus ke wilayah yang kekurangan pasokan.

“Jadi ada dua fungsi, offtaker. sayur-sayuran yang selama ini biasa kita lihat tomat dibuang, sayur dibuang, cabai dibuang karena harganya murah. Tapi di Timur, di Aceh murah tapi di Timur mahal. Nah, inilah fungsi Agrinas Pangan nanti mengorganize dari Sabang sampai Merauke,” ucap Amran.

Topik Menarik