Warga Demo Polresta Pati, Desak Kapolresta Dicopot Buntut Kasus Kiai Cabul

Warga Demo Polresta Pati, Desak Kapolresta Dicopot Buntut Kasus Kiai Cabul

Nasional | inews | Rabu, 13 Mei 2026 - 17:55
share

PATI, iNews.id – Ribuan warga melakukan aksi demonstrasi di Mapolresta Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/5/2026). Aksi tersebut dipicu kekecewaan masyarakat terhadap lambannya kinerja kepolisian dalam menangani sejumlah kasus hukum. Massa pun menuntut Kapolresta Pati untuk segera mundur dari jabatannya. 

Pantauan iNews, massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) bersama berbagai lapisan masyarakat lainnya datang mengendarai truk bak terbuka sambil membentangkan spanduk berisi nada protes dan tuntutan. 

Dalam orasinya, massa mendesak Polresta Pati untuk segera menuntaskan kasus dugaan pencabulan santriwati yang melibatkan oknum kiai dan belakangan viral di media sosial. Warga menilai proses hukum seolah jalan di tempat, sementara korban harus menanggung trauma mendalam. 

Tak hanya kasus asusila, massa juga mengungkit kembali kasus pembunuhan yang terjadi di Pati beberapa tahun silam. Warga sangat menyayangkan fakta bahwa pelaku utama dari kasus berdarah tersebut hingga kini masih bebas berkeliaran dan gagal ditangkap oleh pihak kepolisian. 

Tuntutan warga tak berhenti di sana. Massa aksi juga mempertanyakan kejelasan kasus illegal logging atau pembalakan liar di kawasan Sukolilo. Massa mencurigai lambannya penanganan kasus ini disebabkan oleh adanya dugaan keterlibatan sejumlah oknum kepolisian yang bermain di belakang layar. 

Rentetan persoalan hukum yang tak kunjung tuntas ini membuat warga mendesak agar Kapolresta Pati segera meletakkan jabatannya karena dianggap gagal menyelesaikan berbagai permasalahan krusial di Bumi Mina Tani.

Koordinator aksi, Supriyono alias Botok, dengan lantang menyuarakan mosi tidak percaya masyarakat terhadap kepemimpinan di Polresta Pati saat ini. Ia menuntut pembenahan nyata di institusi penegak hukum tersebut. 

"Usir Kapolresta Pati karena tidak bisa mengatasi permasalahan di sini! Banyak kasus yang tidak terselesaikan dan tidak dituntaskan. Revolusi Polri harus berawal dari Pati!" kata Supriyono di hadapan ribuan massa aksi. 

Senada dengan sang koordinator, Fajar, salah seorang peserta aksi, juga menyampaikan rasa frustrasinya atas hilangnya keadilan bagi para korban tindak kejahatan di wilayahnya. 

"Kami menuntut keadilan dari Polresta Pati. Kasus pembunuhan hingga kiai cabul kemarin, para pelakunya masih bisa tertawa di luar sana. Banyak permasalahan di Pati yang harus segera diselesaikan dengan tegas," keluh Fajar di tengah jalannya unjuk rasa.

Aksi unjuk rasa ini mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan setempat guna mencegah terjadinya kericuhan. Warga mengancam akan terus mengawal kasus-kasus tersebut hingga ada kejelasan status hukum dan keadilan bagi para korban.

Sebelumnya, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea menyoroti tajam kinerja Polres Pati terkait penanganan kasus pencabulan santriwati yang dilakukan oleh oknum kiai, Ashari (51), pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo. Hotman mempertanyakan mengapa laporan yang sudah masuk sejak Juli 2024 baru membuahkan hasil penangkapan di bulan Mei 2026.

Kritik pedas tersebut disampaikan Hotman saat mendampingi ayah salah satu korban dalam konferensi pers Hotman 911 di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (7/5/2026). Hotman menilai ada keterlambatan yang signifikan dalam proses hukum tersebut.

“Coba bayangkan, Juli 2024 baru sekarang ditangkap. Begitu lama di Polres Pati. Di mana ini Polres Pati? Mungkin Kapolresnya pun sudah ganti waktu itu ya,” ujar Hotman Paris dengan nada menyindir.

Topik Menarik