Mitigasi Dampak Kemarau Panjang, Begini Inovasi pada Sentra Produksi Cabai
IDXChannel - Iklim ekstrem, khususnya kemarau panjang akibat dampak El Nino, memberikan tekanan berat bagi sektor hortikultura nasional. Selain persoalan krisis air, cuaca panas yang ekstrem menjadi pemicu ledakan populasi hama vektor, seperti kutu daun (aphids), thrips, dan kutu kebul (Bemisia tabaci).
Lonjakan populasi vektor ini membuat penyebaran infeksi virus tanaman terutama Geminivirus serta ancaman penyakit layu bakteri meluas di berbagai wilayah sentra produksi cabai.
Salah satu inovasi teknologi benih yang kini hadir sebagai solusi di musim kemarau adalah varietas Laba TAVI F1. Cabai keriting hibrida ini dirancang khusus untuk memiliki ketahanan tinggi terhadap penyakit utama yang kerap menggagalkan panen di musim kering, yaitu layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busuk batang atau akar (Phytophthora capsici), serta infeksi virus kompleks (TAVI - Tanaman Tahan Virus).
Selain tahan penyakit, Laba TAVI F1 dirancang unyuk memiliki produktivitas tinggi. Varietas ini mampu menghasilkan buah cabai keriting dengan bobot rata-rata 8 gram per buah. Dengan potensi panen mencapai 18 - 23 ton per hektar, varietas ini menawarkan tingkat efisiensi usaha tani yang tinggi bagi para petani.
Ketahanan genetik yang dimilikinya membuat tanaman tetap mampu tumbuh optimal, menjaga performa pembentukan buah, dan mempertahankan kualitas panen meskipun ditanam di bawah tekanan suhu tinggi dan keterbatasan pasokan air.
General Manager (GM) Commercial PT East West Seed Indonesia (EWINDO), Budi Hariyono mengatakan kehadiran varietas adaptif ini merupakan wujud nyata kontribusi riset dan teknologi dalam mendukung ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis iklim. Penemuan varietas unggul ini tidak lepas dari konsistensi pengembangan riset pemuliaan tanaman yang disesuaikan dengan kondisi agroklimat lokal di Indonesia.
Budi menegaskan bahwa pengembangan varietas ini difokuskan penuh untuk membantu petani menghadapi tantangan iklim yang makin berat.
"Varietas Laba TAVI F1 ini merupakan hasil dari proses riset mendalam yang kami dedikasikan sebagai solusi nyata bagi para petani dalam menghadapi tantangan musim kemarau panjang seperti yang terjadi saat ini. Kami memahami betul bahwa iklim ekstrem dan serangan penyakit menjadi ancaman terbesar bagi pendapatan petani. Melalui inovasi benih unggul yang tahan penyakit dan adaptif di cuaca kering, kami ingin memastikan produktivitas serta kesejahteraan petani tetap terjaga,selain itu kelebihan adaptif ini akan membantu petani mengurangi biaya," ujar Budi.
Untuk memastikan pemanfaatan inovasi ini, Ewindo juga secara masif memberikan edukasi kepada petani untuk menggunakan benih berkualitas unggul, efisiensi irigasi, dan manajemen pola tanam yang tepat yang terbukti menjadi formula efektif untuk menekan tingkat kerugian akibat ancaman kemarau panjang. Pengalaman penggunaan varietas unggul di lapangan juga menjadi salah satu referensi bagi petani dalam menghadapi tantangan budidaya.
Sawal, petani cabai asal Jawa Tengah mengaku gagal panen akibat tanaman cabainya sebagian besar mati. Tanaman yang mengalami stres kekeringan memiliki daya tahan yang relatif lemah, sehingga rentan terhadap serangan penyakit. Hasil panen cabai pun dapat turun drastis hingga lebih dari 50 persen, bahkan tidak sedikit yang mengalami gagal panen total.
“Akibat tidak ada hujan kami gagal panen. Ada Sebagian kecil tanaman yang bisa dipanen tapi itu pun hasilnya tidak bagus,” katanya.
Menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian tak menentu, penerapan teknologi pertanian berbasis pemuliaan tanaman (plant breeding) menjadi salah satu langkah mitigasi strategis. Penggunaan benih varietas unggul yang tahan penyakit terbukti efektif menekan risiko kerugian petani tanpa bergantung penuh pada penggunaan pestisida kimia berlebihan.
Jowo, seorang petani cabai, membagikan pengalamannya menggunakan varietas Laba TAVI F1, khususnya terkait performa tanaman dan hasil panen di tengah kondisi cuaca yang menantang.
“Saya melihat Laba TAVI F1 memiliki performa tanaman yang baik. Bagi kami petani cabai, kondisi cuaca yang tidak menentu dan serangan penyakit menjadi tantangan tersendiri karena bisa memengaruhi hasil panen. Karena itu, memilih varietas yang memiliki ketahanan terhadap penyakit menjadi salah satu pertimbangan penting dalam budidaya cabai. Harapannya, dengan varietas yang tepat dan perawatan yang baik, kami bisa menjaga produktivitas dan mendapatkan hasil panen yang lebih optimal,” ujar Agus, petani cabai.
Salah satu kegiatan edukasi diantaranya dilakukan di Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang diikuti oleh sekitar 230 petani yang berasal dari tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Simalungun, Kabupaten Batubara, dan Kabupaten Deli Serdang.
Selain di Sumatera Utara, kegiatan edukasi juga dilakukan di sejumlah sentra cabai nasional. Langkah mitigasi berbasis teknologi ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas produksi dan pasokan cabai di pasar nasional, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha petani kecil di tengah dinamika perubahan iklim global.
(kunthi fahmar sandy)









