Cadangan Melimpah, Borneo Prima Proyeksikan Pasok Batu Bara Kokas ke Pasar Global Puluhan Tahun
IDXChannel - PT Borneo Prima memastikan kesiapan fasilitas dan rantai pasok untuk memproduksi batu bara kokas (hard coking coal) dalam jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan industri baja di kawasan Asia, ditopang oleh cadangan batu bara yang melimpah di Kalimantan Tengah.
Kepastian kesinambungan suplai tersebut bertumpu pada besarnya basis cadangan serta sumber daya tambang yang telah terverifikasi secara internasional.
"Borneo Prima memiliki cadangan yang sangat mencukupi untuk menopang produksi hingga puluhan tahun ke depan, di mana sebagian besar sumber daya berpotensi dikonversi menjadi cadangan terbukti melalui eksplorasi lanjutan," ujar Chief Finance Officer PT Borneo Prima Ilham Nugraha dalam diskusi media di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Berdasarkan laporan audit berstandar JORC per Februari, entitas anak usaha IMR Resources Group yang didirikan sejak 2004 dan telah berstatus perusahaan publik ini mengantongi total cadangan sebesar 87,7 juta ton. Jumlah tersebut mencakup cadangan terbukti 42,4 juta metrik ton dan cadangan terduga 45,3 juta metrik ton.
Adapun total sumber daya perseroan mencapai 202 juta ton, yang terbagi atas kategori terukur 49,4 juta ton, tertunjuk 56,8 juta ton, serta tereka 95,7 juta ton.
Seluruh potensi tambang tersebut berada di dalam konsesi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) seluas 15.000 hektare di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Area tambang berjarak 600 kilometer sebelah utara Banjarmasin dan 300 kilometer sebelah utara Palangka Raya, dengan akses transportasi melalui penerbangan ke Palangka Raya atau Balikpapan sebelum dilanjutkan ke Muara Teweh atau Puruk Cahu.
Kedekatan posisi konsesi dengan pusat-pusat manufaktur utama dinilai menjadi keunggulan komersial yang signifikan dalam mendistribusikan komoditas tersebut.
"Target konsumen utama kami berada di China, Korea Selatan, Jepang, dan India, di mana posisi geografis Indonesia jauh lebih dekat dibandingkan produsen utama dari Australia," kata Ilham.
Ilham menjelaskan soal dari segi mutu komoditas, batu bara Borneo Prima memiliki kandungan fosfor sangat rendah sebesar 0,005 persen, kadar abu (ash) 4 hingga 8 persen, tingkat vitrinite 95 persen, serta Crucible Swelling Number (CSN) berskala 7 sampai 9.
Karakteristik ini memberi fleksibilitas tinggi bagi fasilitas blast furnace saat melakukan pencampuran. Berdasarkan riset independen ACIRL (Australian Coal Industry Research Laboratories), Tata Steel, dan SAIL, produk ini terbukti mampu menggantikan hingga 30 persen proporsi batu bara kokas keras impor sekaligus memangkas biaya peleburan baja.
Saat ini aktivitas penambangan berstatus operasi penuh menggunakan metode tambang terbuka bersama kontraktor rekanan, dengan total kapasitas penampungan mencapai 320.000 metrik ton berprinsip good mining practice.
Rantai angkut dimulai dari pit menuju mine stockpile sejauh 2 kilometer, melewati unit pencucian, singgah di intermediate stockpile kilometer 58, lalu menempuh jalan angkut sepanjang 138 kilometer menuju pelabuhan Muara Tuhup di tepi Sungai Barito.
Terminal muat Muara Tuhup yang beroperasi sejak 2023 tersebut dilengkapi barge loading conveyor berkapasitas 2.000 ton per jam. Dari dermaga, tongkang melayari Sungai Barito sejauh 590 kilometer menuju titik lego jangkar Taboneo di muara laut sebelum batu bara dipindahkan ke kapal pengangkut besar.
Di sisi pengolahan, perseroan mengoperasikan fasilitas washing plant berkapasitas 1,5 juta ton per tahun yang dirancang menggunakan tenaga surya hibrida. Pabrik pencucian ini mencatatkan efisiensi daur ulang air hingga 99 persen dengan sistem tanpa limbah cair.
Efisiensi pengolahan dan spesifikasi batu bara yang terjaga tersebut diposisikan perseroan sebagai solusi bahan baku peleburan ramah lingkungan.
"Alasan kami mengklaim produk ini sebagai premium coking coal adalah kemampuannya dalam mendukung efisiensi serta keberlanjutan proses produksi baja," kata Ilham.
Dalam kesempatan sama, Ketua Komite Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hendra Sinadia menekankan pentingnya memperkuat penetrasi ke pasar industri baja China dan India untuk menjaga tingkat permintaan batu bara metalurgi nasional di tengah dinamika pasar global.
Hendra menilai kedua negara tersebut memegang kendali dominan terhadap rantai pasok baja dunia sehingga stabilitas permintaan dari kedua pasar menjadi penentu utama kelangsungan ekspor batu bara kokas Indonesia.
"Data World Steel Association menunjukkan sekitar 65 persen atau dua pertiga kebutuhan baja dunia dihasilkan oleh China sebesar 53 persen dan India sembilan persen, sehingga meskipun krisis properti memperlambat China, agresivitas India yang masih mengandalkan teknologi blast furnace mampu mengimbangi pasar kita menjelang proyeksi lonjakan permintaan di 2027," ujar Hendra.
(kunthi fahmar sandy)









