Peta Cuan 2026: Saham Kesehatan, Teknologi, hingga Perkapalan Jadi Sorotan
IDXChannel – Sejumlah sektor strategis diproyeksikan memiliki prospek berbeda sepanjang 2026, seiring berlanjutnya penyesuaian ekonomi domestik dan dinamika global.
Stimulus kebijakan, arah suku bunga, serta tren struktural seperti digitalisasi, transisi energi, dan peningkatan belanja kesehatan menjadi faktor utama yang membentuk peluang dan tantangan di pasar saham tahun ini.
Di sektor properti, BRI Danareksa menilai, dalam riset yang terbit pada 13 Januari 2026, industri masih berada dalam fase konsolidasi dan sangat sensitif terhadap daya beli kelas menengah.
Permintaan properti dinilai akan tetap bergantung pada dukungan kebijakan, terutama stimulus fiskal dan moneter.
Perpanjangan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) 100 persen hingga 31 Desember 2026 untuk properti dengan harga maksimal Rp5 miliar menjadi katalis penting.
Selain itu, potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia alias BI Rate menuju kisaran 4,00 persen berpeluang menekan bunga kredit pemilikan rumah (KPR), sementara stabilitas kredit properti tetap terjaga meski pertumbuhan pendapatan masyarakat melambat.
Sementara itu, sektor kesehatan diproyeksikan menjadi sektor defensif sekaligus bertumbuh pada 2026. Peningkatan belanja kesehatan pemerintah, seiring menguatnya tren layanan preventif, menjadi penopang utama.
Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk revitalisasi 32 rumah sakit serta menggulirkan program nasional cek kesehatan gratis.
Di sisi korporasi, adopsi teknologi medis dan layanan kesehatan modern terus meningkat, dengan emiten rumah sakit seperti MIKA dinilai menarik berkat net profit margin (NPM) di atas 25 persen dan efisiensi operasional yang solid.
Untuk sektor teknologi, BRI Danareksa melihat 2026 sebagai fase akselerasi investasi infrastruktur digital.
Indonesia mulai diposisikan sebagai digital hub regional, ditopang pembangunan data center yang siap AI dan ekspansi jaringan 5G.
Regulasi kedaulatan data nasional mendorong peningkatan data center onshore, dengan target IT Load menuju sekitar 2 GW dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Masuknya pemain global serta sinergi BUMN telekomunikasi seperti TLKM, bersama WIFI dan ISAT, turut memperkuat prospek sektor ini.
Di sektor energi, arah transisi struktural semakin jelas, dari ketergantungan pada komoditas mentah menuju hilirisasi dan energi baru terbarukan (EBT). Batu bara mulai menghadapi tekanan struktural.
Katalis sektor ini antara lain penerapan mandatori biodiesel B50, peningkatan green financing, serta pembatasan produksi batu bara nasional di bawah 700 juta ton.
Fokus hilirisasi mineral dan penguatan rantai pasok kendaraan listrik (EV) juga dinilai mampu menciptakan nilai tambah domestik.
Kemudian, sektor minyak dan gas (migas) menghadapi tantangan penurunan alami (natural decline) produksi lapangan tua, namun tetap memiliki peluang melalui upaya pemulihan produksi.
Gas bumi dipandang sebagai energi transisi utama. Pemerintah memberikan dukungan lewat skema Gross Split yang lebih fleksibel, insentif dan pembebasan pajak eksplorasi, serta capaian lifting migas yang melampaui target APBN, untuk pertama kalinya dalam sekitar sembilan tahun.
Stabilitas rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) di kisaran USD70 per barel turut menopang profitabilitas emiten seperti MEDC dan ELSA.
Terakhir, sektor perkapalan diperkirakan memasuki fase pemulihan siklikal seiring meningkatnya aktivitas logistik, energi, dan offshore.
Permintaan kapal terdorong oleh proyek migas, distribusi batu bara, serta hilirisasi mineral seperti nikel dan bauksit.
Program cabotage menjaga dominasi pemain domestik, sementara kontrak jangka menengah hingga panjang memberikan visibilitas pendapatan.
Emiten jasa kapal dan offshore seperti HUMI, SOCI, dan PSSI berpotensi diuntungkan dari peningkatan utilisasi armada sepanjang 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









