Rupiah Sepekan Tertekan 0,58 Persen, Dipicu Aliran Modal Asing Keluar

Rupiah Sepekan Tertekan 0,58 Persen, Dipicu Aliran Modal Asing Keluar

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 16 Januari 2026 - 17:50
share

IDXChannel - Mata uang rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (15/1/2026).

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot merosot 0,18 persen secara harian ke posisi Rp16.896 per dolar AS. Dalam kurun waktu sepekan, mata uang Garuda telah melemah sebesar 0,58 persen dibandingkan posisi Kamis (8/1) yang masih berada di level Rp16.798 per dolar AS.

Kondisi serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), di mana rupiah terkoreksi 0,05 persen secara harian ke Rp16.880 per dolar AS, atau melemah 0,47 persen dalam sepekan terakhir.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh meredanya ketegangan antara AS dan Iran. Pernyataan Donald Trump terkait jaminan keamanan bagi demonstran di Iran telah meredakan kekhawatiran pasar akan adanya respons militer segera dari Washington.

Selain itu, Ibrahim menyoroti sinyal positif dari hubungan AS dan Venezuela yang turut memengaruhi dinamika pasar valuta asing.

“AS mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela, setelah Presiden AS mengatakan ia berbicara pada hari Kamis sebelumnya dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dan menggambarkan panggilan tersebut sebagai sangat positif,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti kondisi kelas menengah Indonesia yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi namun kini tengah tertekan. Kelompok ini mulai bergeser menjadi kelompok rentan, sehingga memerlukan stimulus tambahan guna menjaga daya beli di tengah gejolak ekonomi global.

Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan berisiko ditutup melemah pada rentang Rp16.840 hingga Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya.

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh aksi jual aset domestik oleh investor asing. Bank Indonesia mencatat terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp7,71 triliun sepanjang periode 12–14 Januari 2026.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, merinci bahwa pelepasan aset tersebut didominasi oleh pasar Surat Berharga Negara (SBN).

"Selama tahun 2026, berdasarkan data setelmen sampai dengan 14 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp5,33 triliun di SRBI dan Rp6,16 triliun di pasar saham, serta jual neto sebesar Rp9,91 triliun di pasar SBN," kata Ramdan dalam keterangannya.

Secara lebih spesifik, aliran modal keluar pada pekan ini terdiri dari jual neto sebesar Rp8,15 triliun di pasar SBN dan Rp2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang sedikit tertahan oleh beli neto asing di pasar saham senilai Rp3,08 triliun.

Memasuki Kamis pagi (15/1), rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.840 per dolar AS dengan yield SBN 10 tahun yang merangkak naik ke level 6,23 persen, menunjukkan pasar masih dalam posisi waspada terhadap pergerakan dolar global. (Wahyu Dwi Anggoro)

Topik Menarik