Trump: Saya Harus Berhenti Membunuh Para Pemimpin Iran karena...
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dia merasa perlu berhenti membunuh para pemimpin Iran. Tujuannya adalah untuk memastikan dengan siapa Amerika sedang bernegosiasi.
Dia juga menegaskan kembali pendiriannya bahwa Iran tidak boleh dibiarkan mengembangkan senjata nuklir. “Saya harus berhenti [membunuh para pemimpin Iran]," ujar Trump dalam sebuah kampanye di Georgia pada Sabtu waktu setempat. “Karena saya harus mencari tahu dengan siapa sebenarnya kita bernegosiasi," lanjut Trump.
Baca Juga: Kapal Induk AS Sudah Ancang-ancang Menyerang Iran, Teheran Malah Menantang
ASEAN Terbelah di Ruang Sidang PBB: 4 Negara Walkout, 7 Tetap Hadir Saat Netanyahu Berpidato
“Mereka tidak punya pesawat, tidak punya kapal, tidak punya apa-apa, tidak punya pemimpin. Pemimpin tingkat satu sudah tidak ada, pemimpin tingkat dua juga sudah tidak ada,” imbuh dia, seraya mengulangi klaimnya mengenai penghancuran militer dan kepemimpinan Iran oleh AS.
Trump juga membela keputusannya pada tahun 2018 untuk mengakhiri perjanjian nuklir Iran tahun 2015—yang dicapai pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama—dengan mengatakan bahwa langkah tersebut diambil pada saat yang krusial untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.“Saya mengakhiri salah satu kesepakatan terburuk yang pernah dibuat, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) milik Barack Hussein Obama—atau yang oleh sebagian orang disebut sebagai perjanjian nuklir Iran—yang sebenarnya merupakan jalan bagi Iran untuk mendapatkan senjata nuklir. Untungnya, saya mengakhirinya tepat pada waktunya,” ujarnya.“Kami melenyapkan kapasitas pengayaan nuklir Iran melalui Operation Midnight Hammer dan Operation Epic Fury,” katanya, merujuk pada operasi militer yang dilakukan pada tahun 2025 serta antara bulan Februari hingga Mei tahun ini.
“Kami telah mengalahkan mereka secara militer, finansial, dan dalam aspek lainnya. Kita harus memastikan bahwa mereka tidak akan pernah, sama sekali tidak akan pernah, memiliki senjata nuklir,” sambung Trump, seperti dikutip dari Anadolu, Minggu (25/10/2026).
Sementara itu, pada hari yang sama, Mantan Presiden AS Barack Obama mengecam keras Presiden Donald Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth terkait perang melawan Iran. Obama menyebut pemerintahan Trump sebagai “orang-orang yang tidak serius” dan mengatakan rakyat Amerika harus menanggung akibat dari keputusan mereka.
Obama menyampaikan kecaman tersebut dalam sebuah kampanye di Cleveland, Ohio. Dia hadir bersama kandidat gubernur dari Partai Demokrat, Amy Acton, dan kandidat Senat AS, Sherrod Brown.
Saat membahas konflik Iran, Obama menilai Trump telah meninggalkan jalur diplomasi dengan Teheran dan justru menjerumuskan Amerika Serikat ke dalam perang, berbulan-bulan setelah pemerintahannya menyatakan kemenangan.“Ini sesuatu yang sedikit saya pahami. Mari kita pikirkan perang Iran ini,” kata Obama. “Alasan awalnya adalah kita akan masuk ke sana dan membuat mereka menyerahkan program nuklir serta senjata nuklir mereka,” lanjutnya.
Obama kemudian menyinggung kesepakatan nuklir Iran yang dicapai pada masa kepresidenannya. Menurut dia, diplomasi telah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
“Saya tidak perlu menembakkan satu rudal pun untuk melakukannya. Saya hanya perlu terlibat dalam diplomasi,” ujar Obama.
“Dia menarik diri dari kesepakatan itu, lalu memulai perang ini,” kata Obama, merujuk pada keputusan Trump. Dia kemudian menyinggung deklarasi kemenangan yang sebelumnya disampaikan pemerintahan Trump.
“Jadi, tujuh bulan kemudian, bagaimana perkembangan perang itu?” tanyanya.
Obama selanjutnya menyoroti dampak konflik tersebut terhadap manusia dan kekuatan militer AS.
“Sekutu-sekutu kita dan pangkalan-pangkalan kita telah diserang. Warga Amerika telah tewas, ratusan warga Amerika terluka. Persediaan rudal kita telah terkuras,” imbuh Obama.









