Pakar Militer: Muncul Tanda-tanda AS dan Israel Bersiap Luncurkan Serangan Baru ke Iran

Pakar Militer: Muncul Tanda-tanda AS dan Israel Bersiap Luncurkan Serangan Baru ke Iran

Global | sindonews | Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:05
share

Mohamad Elmasry, seorang pakar geopolitik dan militer di Doha Institute for Graduate Studies, mengatakan bahwa perkembangan terkini mengisyaratkan kemungkinan kembalinya perang skala penuh antara Iran dengan AS dan Israel, alih-alih perundingan damai.

“Ada banyak sinyal dan sikap yang ditunjukkan, yang mengisyaratkan bahwa kita sedang menuju babak pertempuran berikutnya,” ujarnya kepada Al Jazeera di Doha.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth baru-baru ini berada di Israel, dan Amerika Serikat tengah mengerahkan kapal induk ketiga ke Timur Tengah. Elmasry mencatat bahwa Washington dilaporkan sedang mengevakuasi “sejumlah lokasi diplomatik dan pangkalan militer mereka di kawasan tersebut”.

“Semua itu menunjukkan bahwa AS dan Israel sedang merencanakan babak serangan baru terhadap Iran, yang mungkin terjadi dalam waktu dekat atau sangat dekat,” katanya.

“Salah satu kekhawatiran adalah bahwa babak pertempuran berikutnya ini bisa jadi jauh lebih berbahaya dan lebih membawa bencana dibandingkan babak sebelumnya.”

Sementara itu, militer Iran telah menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (UAV) di atas kota pelabuhan Bandar Abbas di wilayah selatan, di tengah kekhawatiran akan kembalinya perang skala penuh di Timur Tengah.

Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa UAV tersebut merupakan pesawat nirawak jenis LUCAS yang dikembangkan oleh AS.

Pada hari Sabtu, Trump menyatakan bahwa AS bisa saja menyerang Iran “besok”, atau justru mencapai kesepakatan dengan negara tersebut. The Wall Street Journal melaporkan bahwa pesawat-pesawat yang berada dalam gugus tempur kapal induk USS George Washington tengah disiagakan.

Selain itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali penentangannya terhadap upaya Iran untuk memperoleh senjata nuklir, seraya mengeklaim bahwa tindakan militer AS telah sangat melemahkan kepemimpinan serta kemampuan pertahanan Teheran.“Saya harus berhenti” membunuh para pemimpin Iran, ujar Trump dalam sebuah kampanye di Georgia, “karena saya harus mencari tahu dengan siapa sebenarnya kita bernegosiasi.”

“Mereka tidak punya pesawat, tidak punya kapal, tidak punya apa-apa, tidak punya pemimpin. Pemimpin tingkat pertama sudah tidak ada. Pemimpin tingkat kedua juga sudah tidak ada,” katanya, seraya mengulangi klaimnya mengenai kehancuran militer dan kepemimpinan Iran akibat tindakan AS.

Trump juga membela keputusannya pada tahun 2018 untuk mengakhiri perjanjian nuklir Iran tahun 2015—yang dicapai pada masa pemerintahan Presiden Obama saat itu—dengan mengatakan bahwa langkah tersebut diambil pada saat yang krusial untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.

“Saya mengakhiri salah satu perjanjian terburuk yang pernah dibuat, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) milik Barack Hussein Obama—atau yang oleh sebagian orang disebut sebagai perjanjian nuklir Iran—yang merupakan jalan bagi Iran untuk mendapatkan senjata nuklir. Untungnya, saya mengakhirinya tepat pada waktunya,” ujarnya.

“Kami melenyapkan kapasitas pengayaan nuklir Iran melalui Operation Midnight Hammer dan Operation Epic Fury,” katanya, merujuk pada operasi militer yang dilakukan pada tahun 2025 dan tahun ini.

“Kami mengalahkan mereka secara militer, finansial, dan dalam aspek lainnya. Kita harus memastikan bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” tambah Trump.

Topik Menarik