Obama Kecam Habis Trump dan Hegseth soal Perang Iran: 'Mereka Bukan Orang yang Serius!'
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengecam keras Presiden Donald Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth terkait perang melawan Iran. Obama menyebut pemerintahan Trump sebagai “orang-orang yang tidak serius” dan mengatakan rakyat Amerika harus menanggung akibat dari keputusan mereka.
Obama menyampaikan kecaman tersebut dalam sebuah kampanye di Cleveland, Ohio, pada Sabtu waktu setempat. Dia hadir bersama kandidat gubernur dari Partai Demokrat, Amy Acton, dan kandidat Senat AS, Sherrod Brown.
Baca Juga: Kapal Induk AS Sudah Ancang-ancang Menyerang Iran, Teheran Malah Menantang
Saat membahas konflik Iran, Obama menilai Trump telah meninggalkan jalur diplomasi dengan Teheran dan justru menjerumuskan Amerika Serikat ke dalam perang, berbulan-bulan setelah pemerintahannya menyatakan kemenangan.
“Ini sesuatu yang sedikit saya pahami. Mari kita pikirkan perang Iran ini,” kata Obama. “Alasan awalnya adalah kita akan masuk ke sana dan membuat mereka menyerahkan program nuklir serta senjata nuklir mereka,” lanjutnya.Obama kemudian menyinggung kesepakatan nuklir Iran yang dicapai pada masa kepresidenannya. Menurut dia, diplomasi telah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
“Saya tidak perlu menembakkan satu rudal pun untuk melakukannya. Saya hanya perlu terlibat dalam diplomasi,” ujar Obama, seperti dikutip dari Newsweek, Minggu (25/10/2026).
“Dia menarik diri dari kesepakatan itu, lalu memulai perang ini,” kata Obama, merujuk pada keputusan Trump. Dia kemudian menyinggung deklarasi kemenangan yang sebelumnya disampaikan pemerintahan Trump.
“Jadi, tujuh bulan kemudian, bagaimana perkembangan perang itu?” tanyanya.
Obama selanjutnya menyoroti dampak konflik tersebut terhadap manusia dan kekuatan militer AS.“Sekutu-sekutu kita dan pangkalan-pangkalan kita telah diserang. Warga Amerika telah tewas, ratusan warga Amerika terluka. Persediaan rudal kita telah terkuras,” imbuh Obama.
Obama Ejek Hegseth soal Testosteron
Obama kemudian mengalihkan kecamannya kepada Hegseth. Dia mengejek menteri perang tersebut karena dinilai terlalu berfokus pada kadar testosteron di lingkungan militer.
“Dia sangat berfokus pada hal-hal penting seperti garis rahang dan kadar testosteron para prajurit kita. Serta menyiarkan eksekusi secara langsung,” kata Obama.
“Karena menurutnya, begitulah cara menumbuhkan semangat kesatria yang jantan,” lanjutnya.
Pada Juli, Hegseth mengumumkan bahwa anggota militer aktif berusia 30 tahun ke atas akan diwajibkan menjalani pemeriksaan tahunan untuk mendeteksi kekurangan testosteron sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan berkala.
“Saya mengizinkan program pemeriksaan baru untuk mendeteksi kekurangan testosteron bagi anggota militer kita, guna memastikan Anda memiliki kadar testosteron yang tepat agar dapat beroperasi dengan kemampuan terbaik,” kata Hegseth kala itu saat mengumumkan kebijakannya.
Obama kemudian melontarkan kritik yang lebih personal.
“Menurut Anda, berapa banyak waktu yang dihabiskan menteri pertahanan ini untuk memandangi dirinya sendiri di cermin pada pagi hari?” kata Obama.“Maksud saya, dia sibuk menata rambutnya karena begitulah penampilan seorang pejuang,” lanjutnya.
“Mereka ini bukan orang-orang yang serius. Mereka bukan orang-orang yang serius. Dan masalahnya, pada akhirnya Anda harus menanggung akibat dari ketidakseriusan mereka,” ujar Obama.
Trump Sebut Perang Iran sebagai "Latihan Militer"
Kritik Obama muncul setelah Trump berulang kali menggambarkan konflik Iran dengan istilah yang tidak secara tegas menyebutnya sebagai perang, meskipun jumlah korban tewas di pihak militer AS terus bertambah.
Dalam kampanye di Georgia pada 16 Oktober, Trump menyebut konflik tersebut sebagai “latihan militer” ketika membahas kinerja pasar saham.
“Jadi, pasar saham kita berada pada level tertinggi sepanjang sejarah. Dan ini terjadi di tengah perang,” kata Trump.
“Tetapi ini bukan...ini hanya latihan militer, oke? Ini latihan militer,” lanjutnya.
Pernyataan itu muncul kurang dari sepekan setelah Pentagon menaikkan jumlah resmi personel militer AS yang tewas terkait operasi melawan Iran menjadi 21 orang. Pentagon juga melaporkan sebanyak 865 personel militer mengalami luka-luka.Trump sebelumnya menyebut konflik tersebut sebagai persoalan “kecil” dan berpendapat bahwa situasi itu lebih tepat dianggap sebagai konflik militer daripada perang.
Penasihat Mojtaba: Jika Iran Tak Bisa Lakukan Penerbangan, maka Tak Ada Pihak Lain yang Bisa Terbang
“Banyak orang tidak menyebutnya perang,” kata Trump kepada wartawan pada September.
“Saya menyebutnya konflik militer karena bagi kami ini masalah kecil. Ini bukan persoalan besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Obama berupaya menghubungkan perang Iran secara langsung dengan meningkatnya biaya hidup yang dihadapi warga Amerika menjelang pemilu sela pada 3 November.
Setelah menyinggung pengaruh Iran terhadap Selat Hormuz, Obama mengatakan, “Inilah alasan harga minyak naik. Tidak ada yang membantahnya. Inilah alasan harga solar naik. Inilah alasan harga hampir semua barang naik.”
“Kenaikan harga minyak bukan satu-satunya alasan harga terus meningkat,” lanjutnya. “Ada juga persoalan tarif ini.”
Obama berpendapat bahwa pada akhirnya konsumenlah yang menanggung biaya tarif, termasuk ketika produsen Amerika menggunakan komponen yang diimpor dari luar negeri.
Dia kemudian mengejek perselisihan dagang Trump dengan Kanada.“Perang dagang besar yang sekarang dia mulai adalah dengan kerajaan jahat yang terkenal itu, Kanada,” kata Obama.
“Kanada. Maksud saya, mereka adalah orang-orang yang memberi kita sirup maple,” ujarnya. Pernyataan tersebut merujuk pada sirup maple, salah satu produk khas Kanada.
Penampilan Obama pada Sabtu membawanya ke Ohio untuk berkampanye bagi Acton dan Brown. Partai Demokrat berupaya meningkatkan jumlah pemilih yang datang ke tempat pemungutan suara pada tahap akhir pemilu sela.
Kampanye di Cleveland itu disebut sebagai pembuka rangkaian kegiatan pada fase terakhir pemilu, dengan 10 hari tersisa sebelum hari pemungutan suara.
Obama memenangkan Ohio dalam pemilihan presiden 2008 dan 2012.
Brown berupaya mengalahkan Senator Partai Republik Jon Husted, sedangkan Acton mencalonkan diri sebagai gubernur Ohio. Obama sebelumnya telah menyatakan dukungannya kepada Brown dan menekankan pentingnya persaingan kursi Senat tersebut bagi politik nasional.
“Persaingan ini akan berlangsung ketat,” kata Obama ketika menyatakan dukungannya kepada Brown.
“Persaingan ini dapat menentukan partai mana yang mengendalikan Senat, serta apakah warga Ohio dapat mengandalkan orang-orang di Washington untuk memperjuangkan kepentingan Anda,” ujarnya.









