Rudal Korut Bisa Jangkau Guam, Strategi AS Makin Rumit karena Kim Jong-un Lengket dengan Putin
Militer Korea Utara (Korut) telah menguji tembak misil baru yang disebutnya sebagai rudal strategis jarak menengah pada Sabtu pekan lalu. Seorang pakar Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa rudal tersebut berpotensi menempatkan Guam dan sebagian wilayah Alaska dalam jangkauan Pyongyang, meningkatkan taruhan bagi Washington dan sekutunya ketika Presiden Donald Trump berupaya menghidupkan kembali negosiasi dengan pemimpin Korut Kim Jong-un.
Kim Jong-un secara langsung mengawasi uji tembak misil tersebut, menurut media pemerintah Korut; Korean Central News Agency (KCNA). Sydney Seiler, pakar militer yang juga mantan analis US Forces Korea, mengatakan kepada Fox News Digital bahwa jangkauan rudal terbaru tersebut memiliki implikasi yang jauh melampaui Semenanjung Korea.
Baca Juga: Dituntut Korsel Minta Maaf, Korut Malah Tembakkan Rudal
Dana Kekayaan Negara Terbesar di Dunia Siap Lepas Obligasi Pemerintah AS Senilai Rp1.410 Triliun
Menurut laporan KCNA, rudal tersebut bagian dari "sistem senjata strategis hipersonik" dan terbang sejauh sekitar 1.000 kilometer atau 621 mil sebelum jatuh di perairan lepas pantai timur Korut.
Guam memiliki arti penting secara strategis bagi militer AS karena merupakan wilayah AS di Pasifik Barat dan menjadi lokasi sejumlah instalasi militer utama, termasuk Pangkalan Udara Andersen dan Pangkalan Angkatan Laut Guam."Yang menarik dari peluncuran IRBM—rudal balistik jarak menengah yang terbang sekitar 3.000 hingga 5.000 kilometer—adalah rudal tersebut membuat Guam, sebagian wilayah Alaska, dan Jepang berada dalam jangkauan Korea Utara," kata Seiler, mantan pejabat National Intelligence Council yang berfokus pada Korea Utara.
Namun, dia mengingatkan agar peluncuran tersebut tidak sepenuhnya dipandang sebagai respons langsung terhadap Trump.
"Namun, ketika mempertimbangkan persiapan yang diperlukan untuk sistem rudal balistik jarak menengah, kecil kemungkinan peluncuran ini terutama merupakan respons terhadap pernyataan atau tindakan presiden selama beberapa hari terakhir," ujar Seiler, yang dikutip dari Fox News, Senin (5/10/2026).Beberapa jam setelah peluncuran rudal pada 3 Oktober, Trump memuji hubungannya dengan Kim Jong-un dalam sebuah pertemuan di Vandalia, Ohio.
370 Jet Tempur dan Drone Milik AS Ditembak Jatuh Militer Iran, Kerugian Capai Rp17,4 Triliun
"Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Kim Jong-un. Bukankah menyenangkan bisa berhubungan baik dengan para pemimpin negara-negara nuklir besar?" kata Trump.
Dia juga menambahkan, "Ketika seseorang memiliki 112 rudal nuklir, lebih baik kita berhubungan baik dengan mereka," seraya menunjuk kemampuan nuklir Korea Utara sebagai alasan untuk mempertahankan komunikasi diplomatik yang terbuka.
"Korut memang tidak tertarik untuk berbicara saat ini, jadi mereka tidak memiliki alasan untuk tidak meluncurkan rudal," kata Seiler mengenai uji coba rudal terbaru dan pernyataan terbaru Trump.
"Fakta bahwa mereka melakukan peluncuran rudal di tengah upaya diplomatik Presiden Trump untuk mencoba kembali terlibat dengan Korea Utara, Anda harus melihatnya sebagai sesuatu yang hanya memiliki keterkaitan sebagian."
Uji coba tersebut juga terjadi setelah Korea Utara meluncurkan dua rudal balistik jarak pendek dari wilayah Wonsan pada 20 September.
Pejabat AS, Korea Selatan, dan Jepang mengatakan bahwa uji coba rudal terbaru Korea Utara telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan mengancam keamanan regional maupun internasional.Seiler, yang kini menjadi penasihat senior nonresiden di Korea Chair pada Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan sikap Pyongyang tidak hanya berkaitan dengan hubungannya dengan pemerintahan Trump.
"Peluncuran terbaru tersebut terjadi dalam konteks yang lebih luas, yakni penghentian total dialog dengan Korea Selatan saat ini dan penolakan berulang terhadap tawaran Amerika Serikat untuk berdialog," ujar Seiler.
"Namun, Korea Utara menahan diri dari sejumlah tindakan yang lebih agresif selama masa jabatan presiden ini; kita belum melihat peluncuran ICBM selama hampir dua tahun."
Seiler memperingatkan bahwa sikap menahan diri tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai kesediaan Pyongyang untuk meninggalkan program nuklir dan rudalnya.
"Bagi Korea Utara, strategi diplomatik mereka secara keseluruhan adalah membuat dunia menerima mereka apa adanya: negara yang tidak melakukan denuklirisasi, meluncurkan rudal, sesekali melakukan provokasi, dan menggunakan tekanan retoris," kata Seiler.
"Seiring berjalannya waktu, tujuan mereka adalah membuat kita menyerah terhadap harapan denuklirisasi atau perubahan struktural apa pun. Hal itu sejalan dengan upaya mereka menetapkan kondisi dasar: apakah diplomasi berjalan atau tidak, mereka akan terus mengembangkan dan menunjukkan teknologi rudal," imbuh da.
Sementara itu, Trump terus menekankan hubungannya dengan Kim sembari menunjukkan keinginannya untuk menghidupkan kembali diplomasi personal yang dilakukan pada masa jabatan pertamanya.Trump dan Kim menggelar pertemuan tingkat tinggi di Singapura pada 2018 dan Hanoi pada 2019, sebelum bertemu di Panmunjom, Zona Demiliterisasi Korea, pada tahun yang sama. Saat itu, Trump menyeberang ke wilayah Korea Utara.
"Presiden telah menunjukkan komitmen yang konsisten untuk melibatkan Korea Utara dalam dialog—yang terbaru dengan menyatakan dirinya terbuka untuk melakukan panggilan telepon," kata Seiler.
"Meski panggilan telepon mungkin tidak langsung menghasilkan kemajuan dalam denuklirisasi, hal itu dapat membantu mengurangi ketegangan dan membangun hubungan langsung yang diperlukan untuk menangani krisis di Semenanjung Korea pada masa depan."
Menurut pakar AS tersebut, strategi Washington semakin rumit karena kedekatan Kim dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Korea Utara telah mengirim pasukan dan peralatan militer untuk mendukung perang Rusia di Ukraina. Menurut Seiler, hal tersebut mengurangi insentif Kim untuk berhubungan dengan AS.
"Saat ini, Kim Jong-un, terutama dengan hubungan yang semakin erat dengan Vladimir Putin dan segala sesuatu yang dia dapatkan dari hubungan dengan Rusia, memang tidak membutuhkan pembicaraan dengan Amerika Serikat," ujar Seiler.
Mantan bintang NBA Dennis Rodman juga memiliki hubungan unik dengan Kim Jong-un dan mungkin dapat memberikan Trump jalur lain untuk menjangkau pemimpin Korea Utara tersebut. Rodman telah beberapa kali mengunjungi Korea Utara dan bertemu langsung dengan Kim Jong-un.Rodman bergabung dengan Trump di pabrik Peterbilt di Denton, Texas, pada 1 Oktober sebelum bepergian bersama presiden menuju sebuah pertemuan di Durant, Oklahoma.
Ketika ditanya di Texas apakah dirinya memanfaatkan Rodman, yang pernah bertemu langsung dengan Kim Jong-un, untuk membantu menengahi perdamaian dengan Pyongyang, Trump justru menekankan hubungannya sendiri dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
"Selama saya berada di sini, Anda tidak akan mengalami masalah. Kalau orang lain yang datang, Anda akan menghadapi masalah besar," kata Trump.
Trump juga menyoroti hubungan pribadi Rodman dengan Kim Jong-un.
"Ketika saya ingin mengenal Kim Jong-un saat kami sedang menghadapi masalah—Kim Jong-un dan saya memiliki hubungan yang baik—tetapi orang yang paling mengenalnya adalah Dennis Rodman," ujar Trump.
"Dennis Rodman memiliki perspektif yang sangat menarik karena dia dapat berinteraksi dengan Kim Jong-un dalam sejumlah kunjungan dan mengenalnya secara pribadi, membangun hubungan tanpa beban diplomatik," kata Seiler.
"Dia mungkin memberikan wawasan kepada Presiden Trump mengenai kepribadian, nilai-nilai, dan kemungkinan pendekatan Kim Jong-un. Namun, seperti yang disampaikan perwakilan Dennis Rodman, dia masih sangat jauh dari mendapatkan tiket pesawat."







