Detik-detik Dramatis Drone Rusia Hantam Jembatan Kyiv, Meledak Jadi Bola Api Raksasa

Detik-detik Dramatis Drone Rusia Hantam Jembatan Kyiv, Meledak Jadi Bola Api Raksasa

Global | sindonews | Senin, 5 Oktober 2026 - 10:17
share

Sebuah drone Rusia telah menghantam Jembatan Utara di Kyiv, Ukraina, pada Minggu pagi. Rekaman video menunjukkan detik-detik dramatis ledakan yang mengubah jembatan itu menjadi bola api raksasa saat kendaraan masih melintas.

Video tersebut awalnya memperlihatkan mobil-mobil melaju di Jembatan Pivnichnyi atau Jembatan Utara, Kyiv. Tiba-tiba, sebuah drone menghantam langsung badan jalan. Sesaat kemudian ledakan terjadi, memicu bola api dan kepulan asap hitam tebal yang membubung di atas Sungai Dnipro.

Baca Juga: Kanselir Jerman Berkunjung ke Kyiv, Rusia Luncurkan 52 Drone Bertenaga Jet

Itu merupakan hari kedua berturut-turut Jembatan Utara menjadi sasaran serangan Rusia. Jembatan Pivdennyi atau Jembatan Selatan di Kyiv juga telah beberapa kali menjadi target dalam beberapa hari terakhir.

Dua orang terluka dalam serangan pada Minggu tersebut, menurut Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko.

Foto-foto setelah serangan menunjukkan lubang besar menganga di salah satu jalur kendaraan. Otoritas setempat kemudian membatasi pergerakan melintasi jembatan ketika tim tanggap darurat menangani dampak serangan.

Serangkaian serangan tersebut menyebabkan gangguan parah di Ibu Kota Ukraina, Kyiv. Kyiv memiliki delapan jembatan yang melintasi Sungai Dnipro yang membentang luas dan menghubungkan bagian barat serta timur kota.Sekitar 500.000 kendaraan menggunakan jembatan-jembatan Kyiv setiap hari. Sementara itu, sekitar 3 juta penduduk kota tersebut juga sangat bergantung pada kereta api dan layanan metro untuk menyeberangi sungai.

Seorang warga Kyiv menggambarkan perjalanan antara kedua sisi kota di tengah gangguan tersebut sebagai "benar-benar seperti neraka."

Jembatan-jembatan tersebut masih berdiri. Namun, para pakar memperingatkan bahwa serangan berulang dapat melemahkan struktur jembatan dan memaksa penutupan dalam waktu lama, meskipun drone Rusia kemungkinan tidak mampu menghancurkannya sepenuhnya.

Otoritas Ukraina sedang mempertimbangkan pembangunan jembatan ponton sementara, layanan feri, bahkan terowongan di bawah Sungai Dnipro untuk mempertahankan konektivitas antara dua bagian ibu kota.

Serangan tersebut merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas, setelah Rusia memperingatkan akan meningkatkan intensitas serangan di seluruh Ukraina.Angkatan Udara Ukraina pada hari Minggu mengatakan Rusia meluncurkan 135 drone dalam semalam, termasuk 52 drone bertenaga jet. Ukraina mengeklaim telah menembak jatuh 125 di antaranya.

Serangan terbaru terjadi ketika Kanselir Jerman Friedrich Merz melakukan kunjungan mendadak ke Kyiv. Dia bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan kembali menegaskan dukungan Berlin untuk Ukraina.

Sirene serangan udara terdengar ketika kedua pemimpin mengunjungi sebuah bangunan yang rusak akibat serangan drone Rusia sebelumnya yang menewaskan dua orang.

Zelensky kemudian mengumumkan paket bantuan baru dari Jerman senilai lebih dari 1,3 miliar euro, yang mencakup senjata serta bantuan bagi sektor energi Ukraina menjelang musim dingin.

Rusia Perketat Wajib Militer

Namun, tekanan yang semakin besar tidak hanya terjadi di Ukraina.Sebuah dokumen yang bocor dan dilaporkan The Times, Senin (5/10/2026), menunjukkan bahwa Rusia mengambil langkah yang semakin drastis untuk memaksa para pemuda masuk dinas militer. Calon wajib militer berpotensi menghadapi pembatasan dalam membeli dan menjual properti, mengajukan kredit hipotek, serta mendaftarkan diri sebagai pemilik usaha kecuali mereka dapat membuktikan status militernya.

Langkah tersebut dilaporkan berlaku bagi pria Rusia berusia 18 hingga 30 tahun yang memenuhi syarat untuk wajib militer.

Perkembangan itu terjadi di tengah meningkatnya jumlah korban Rusia dan kekhawatiran mengenai kemampuan Kremlin mempertahankan upaya perangnya.

Pejabat Rusia telah mengumumkan rencana untuk merekrut 120.000 tentara pada musim gugur ini. Sementara itu, para analis yang dikutip The Times meyakini pemerintah mungkin berupaya memperluas perekrutan hingga melampaui kelompok masyarakat miskin dan wilayah pedesaan yang selama ini memasok pasukan secara tidak proporsional.

Pada saat yang sama, perang Rusia di Ukraina memicu kekhawatiran yang semakin besar di sisi timur NATO.Sebuah laporan The Atlantic dari Lithuania menggambarkan latihan militer yang menyimulasikan invasi Rusia ke negara-negara Baltik. Dalam latihan tersebut, warga sipil sukarelawan dilatih untuk menghadapi pasukan Rusia bersama militer reguler mereka.

Negara-negara Baltik—Lithuania, Latvia, dan Estonia—telah bertahun-tahun mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan agresi Rusia. Berbagai persiapan dilakukan, termasuk pembangunan penghalang pertahanan, rintangan antitank, sensor, kemampuan perang siber, serta milisi sukarelawan di sepanjang perbatasan.

Kekhawatiran utamanya adalah Rusia dapat melancarkan serangan cepat untuk merebut wilayah sebelum NATO mampu memberikan respons secara penuh.

Bagi Lithuania dan negara-negara tetangganya, perang di Ukraina membuat ancaman tersebut terasa semakin nyata.

Ketika drone-drone Rusia terus menghantam infrastruktur penting di Kyiv, konflik tersebut menunjukkan semakin sedikit tanda-tanda akan mereda.

Topik Menarik