Iran Ancam Perluas Perang ke Samudra Hindia Jika AS Menyerang Lagi
Iran telah mengancam akan memperluas cakupan perang Timur Tengga hingga ke Samudra Hindia jika Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan. Ancaman ini dilontarkan Yahya Rahim Safavi, salah satu penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei, pada Kamis.
"Mengingat konflik telah meluas dari Teluk Persia dan Selat Hormuz hingga ke Laut Merah, ada kemungkinan bahwa sebagai tanggapan atas eskalasi perang, garis depan pertempuran akan meluas lebih jauh lagi, mencapai Samudra Hindia dan bahkan mungkin wilayah di luarnya," kata Safavi dalam sebuah video yang dirilis oleh Fars News Agency.
Baca Juga: Unit 4000 IRGC Iran Dituduh Targetkan Tanjung Priok, Ahlubait Indonesia Pertanyakan Pengaitan Ketua Umumnya
Kelompok Houthi pro-Iran, yang memerangi pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, baru-baru ini menguasai garis pantai Laut Merah, sehingga memperketat kendali mereka atas Selat Bab al-Mandab yang strategis—jalur penghubung antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Iran telah lama memberikan dukungan militer kepada Houthi namun membantah terlibat langsung dalam konflik Yaman.Republik Islam tersebut juga telah memblokir akses di Selat Hormuz, di lepas pantai Iran, sebagai tindakan balasan atas serangan AS-Israel yang memicu perang Timur Tengah pada akhir Februari lalu.Saat ini, Iran dan Amerika Serikat tengah berebut kendali atas Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang menjadi rute utama bagi sebagian besar pasokan minyak dan gas dunia.
Para pejabat Iran sebelumnya telah mengancam akan memperluas cakupan geografis konflik jika serangan AS kembali terjadi.
Namun, ancaman pada hari Kamis tersebut menandai kali pertama seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran secara eksplisit menyebutkan Samudra Hindia—wilayah yang menjadi lokasi pangkalan militer strategis AS-Inggris di Diego Garcia, yang berjarak hampir 4.000 kilometer dari Iran.
Pejabat AS dan Iran telah mengadakan pembicaraan di New York pekan ini di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB sebagai upaya lanjutan untuk mengakhiri konflik.
Iran telah mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri perang, termasuk pencabutan sanksi ekonomi dan pelepasan tanpa syarat atas aset-asetnya yang dibekukan di luar negeri.Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengaitkan ketidakamanan yang terjadi di Selat Hormuz dengan tindakan agresif AS. Dia menekankan bahwa semua negara, termasuk negara-negara Eropa, harus mengambil sikap berprinsip untuk mengutuk agresi militer terhadap Iran dan kejahatan yang dilakukan selama agresi tersebut.
Di sisi lain, laporan dari RIA Novosti mengungkap bahwa AS telah meningkatkan aktivitas militernya di sekitar pulau-pulau milik Iran di Selat Hormuz. Setidaknya pesawat mata-mata telah terdeteksi berkeliaran di dekat wilayah tersebut.
Sumber-sumber yang mengetahui perkembangan tersebut mengatakan pesawat mata-mata AS terpantau pada malam hari di dekat pulau-pulau Iran; Qeshm dan Hengam. Sementara itu, pesawat dan drone kecil juga terlihat terbang di atas Provinsi Kermanshah, Iran bagian barat.
Washington, lanjut sumber-sumber tersebut, juga telah memindahkan 12 jet tempur F-16 dari Pangkalan Udara Spangdahlem di Jerman ke kawasan tersebut. Peningkatan aktivitas militer ini dapat menjadi sinyal kemungkinan eskalasi baru.
Aktivitas militer yang dilaporkan itu terjadi ketika lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz meningkat tajam. TankerTrackers, layanan pelacakan kapal, mengatakan pekan ini bahwa arus minyak mentah yang melintasi garis blokade Angkatan Laut AS telah meningkat dua kali lipat dalam waktu kurang dari sebulan menjadi sekitar 13 juta barel per hari (bph).Layanan tersebut memperkirakan volume sebenarnya yang melewati Selat Hormuz sekitar 10,35 juta bph, setelah mengecualikan ekspor dari Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), dan Mina al-Fahal, Oman.
Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling penting di dunia, menjadi titik konflik utama sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada Februari.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian berupaya membatasi pelayaran melalui jalur tersebut setelah serangan awal, sementara Washington selanjutnya memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.










