2 Tentara Israel Tewas, Netanyahu: Kejutan Besar Menanti Otoritas Palestina

2 Tentara Israel Tewas, Netanyahu: Kejutan Besar Menanti Otoritas Palestina

Global | sindonews | Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:42
share

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan sebuah “kejutan besar” telah disiapkan untuk Otoritas Palestina (PA). Itu menyusul perintahnya untuk melancarkan operasi militer skala besar setelah serangan terhadap tentara di Tepi Barat yang diduduki.

“Dalam pemilihan umum ini, kita harus mencegah berdirinya negara Palestina,” ujar Netanyahu dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Israel, i24 News, pada Jumat malam.

Beberapa hari menjelang pemilihan umum legislatif, ia menghindari jawaban langsung mengenai apakah ia berniat membubarkan Otoritas Palestina, namun mengisyaratkan bahwa ia lebih memilih pendekatan berupa “kejutan dan penyergapan.”

“Saya akan berupaya menetralisir ancaman tersebut dengan langkah-langkah yang menurut saya lebih baik dirahasiakan untuk saat ini, agar kita tetap bisa menjaga unsur kejutan,” katanya. “Dan ada satu lagi kejutan besar yang menanti Otoritas Palestina.”

“Kita bisa membawa lebih banyak negara ke dalam Abraham Accords (Perjanjian Abraham), dan negara-negara tersebut tidak akan menjadikan pembentukan negara Palestina sebagai syarat, karena mereka tahu kita tidak akan menyetujuinya. Dan kita berbicara tentang lebih dari dua negara.”

“Kita telah mengubah Timur Tengah. Saya pernah mengatakan bahwa kita akan melakukan perubahan, dan itulah yang telah kita lakukan,” tambahnya.

Sebelumnya, dua tentara Israel tewas dalam sebuah serangan di Tepi Barat yang diduduki pada Jumat pagi. Dalam insiden yang sama, dua orang yang diduga sebagai pelaku penyerangan juga tewas, menurut keterangan militer. Kekerasan ini kemungkinan akan meningkatkan ketegangan politik dan kekhawatiran keamanan menjelang pemilihan parlemen pekan depan.

Militer menyatakan bahwa Sersan Staf Ron Yonatan Roytman (23) dan Sersan Yuval Shai Svilem (20) tewas, sementara tiga tentara lainnya mengalami luka ringan dalam serangan yang terjadi di dekat Persimpangan Yehuda, di luar kota Hebron, Tepi Barat.

Pihak militer menyebutkan bahwa para tentaranya telah mencegah "serangan teror terhadap warga sipil Israel". Kedua tersangka, yang merupakan warga Palestina asal Hebron, diketahui menggunakan senapan M16 dan pistol.Menurut militer, para pelaku tiba di sebuah pos militer Israel pada pagi hari, yang memicu baku tembak selama sekitar 20 menit. Setelah itu, kedua pelaku tewas di tangan pasukan Israel. Militer menyatakan bahwa pasukan mereka berhasil mencegah para pelaku untuk bergerak lebih jauh ke arah warga sipil.

Kemudian, Otoritas Palestina telah memperingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh eskalasi Israel yang terus berlanjut di seluruh Tepi Barat yang diduduki—terbaru di Hebron—di mana "langkah-langkah hukuman kolektif mencakup pengusiran paksa penduduk di seluruh lingkungan, penghancuran rumah dan bangunan, serta penutupan dan pengepungan kota-kota Palestina."

Langkah-langkah ini merupakan bagian dari kebijakan sistematis yang dijalankan oleh "pemerintah pendudukan Israel" di seluruh Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza, demikian pernyataan Otoritas Palestina sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Palestina, Wafa.

Sejak awal tahun 2025, lebih dari 40.000 warga telah dipaksa meninggalkan rumah mereka, dan pengusiran paksa tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini, ungkap pernyataan itu.

Otoritas Palestina menyatakan bahwa mereka menganggap Israel bertanggung jawab penuh atas eskalasi ini dan mendesak komunitas internasional untuk segera melakukan intervensi guna menghentikan Israel melakukan kejahatan lebih lanjut di Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza.Otoritas Palestina menegaskan bahwa eskalasi ini tidak akan menghadirkan keamanan maupun perdamaian bagi siapa pun, dan kelanjutannya hanya akan memicu ketegangan serta eskalasi yang lebih besar.

Sementara itu, Pasukan Israel menangkap sekitar 70 warga Palestina di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki sejak hari Jumat. Itu diungkapkan menurut Palestinian Prisoner’s Society (Lembaga Tahanan Palestina).

Sebagian besar dari mereka yang ditahan adalah mantan narapidana, dan ratusan lainnya telah menjalani interogasi di lapangan, ungkap kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa beberapa di antaranya telah dibebaskan. Di Hebron, pasukan Israel menggerebek ratusan rumah, memaksa penduduk meninggalkan bagian-bagian kota tersebut, dan mengubah puluhan rumah menjadi pusat interogasi militer, tambah kelompok itu.

Penggerebekan juga terjadi di Ramallah, Jenin, Nablus, Betlehem, Yerusalem, dan wilayah lainnya; menurut kelompok tersebut, banyak dari mereka yang dibebaskan sempat mengalami kekerasan, ditutup matanya, dan diancam.

Lembaga Urusan Tahanan (Prisoner’s Society) menyatakan bahwa lebih dari 26.000 warga Palestina telah ditangkap di Tepi Barat yang diduduki sejak perang Israel di Gaza dimulai.

Topik Menarik