Sesama Sekutu NATO tapi Musuhan, Kanada Akui Sudah Bersiap Jika Diinvasi AS

Sesama Sekutu NATO tapi Musuhan, Kanada Akui Sudah Bersiap Jika Diinvasi AS

Global | sindonews | Jum'at, 25 September 2026 - 06:50
share

Kanada dan Amerika Serikat (AS) merupakan sekutu di keanggotaan NATO, namun keduanya sekarang menunjukkan sikap bermusuhan. Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney bahkan mengakui bahwa Ottawa sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan invasi militer Washington.

Carney mengatakan pemerintahnya telah mengkaji secara cermat kemungkinan adanya tindakan militer Washington meskipun Presiden AS Donald Trump telah menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menghadapi tetangga utara Amerika tersebut.

Baca Juga: Perseteruan Memanas, Kanada Ancam Putus Pasokan Listrik ke AS

Mengutip laporan dari The New York Times, Jumat (25/9/2026), Carney menggambarkan skenario semacam itu sebagai "risiko ekstrem yang jarang terjadi"—sebuah peristiwa yang kemungkinannya sangat kecil namun cukup serius untuk memerlukan perencanaan kontingensi.

"Itu hanyalah manajemen risiko," ujarnya. "Merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab jika tidak [melakukan persiapan]," lanjut dia.

Carney menolak untuk membahas rincian persiapan Kanada.Trump telah berulang kali melontarkan gagasan untuk menjadikan Kanada sebagai negara bagian AS ke-51, namun secara tegas menepis penggunaan kekuatan militer untuk mewujudkannya. Pada Januari 2025, dia menyatakan akan menggunakan "kekuatan ekonomi" sebagai gantinya.

Presiden AS tersebut telah lama menuduh Ottawa melakukan praktik perdagangan yang tidak adil, khususnya terkait produk susu dan otomotif, serta telah memberlakukan serangkaian tarif terhadap barang-barang Kanada sejak awal 2025. Washington meningkatkan eskalasi sengketa tersebut pada Agustus 2026 dengan mengenakan bea masuk tambahan sebesar 50 terhadap berbagai produk Kanada.

Pengungkapan Carney ini disampaikan hanya beberapa hari setelah dia melakukan perjalanan ke Uni Eropa untuk mempererat hubungan dengan blok tersebut.

Saat berpidato di hadapan Parlemen Eropa pekan lalu, Carney berpendapat bahwa integrasi ekonomi semakin sering "dijadikan senjata"; di mana tarif digunakan sebagai alat tawar-menawar dan ketergantungan rantai pasok dimanfaatkan sebagai titik kerentanan. Itu adalah pernyataan yang secara luas dipandang sebagai sindiran tersirat terhadap tekanan ekonomi Washington terhadap Ottawa.

Isu pertahanan juga menjadi bagian dari pembicaraan Carney di Strasbourg, di mana dia dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen membahas perluasan kerja sama militer serta pengadaan bersama antara Kanada dan Uni Eropa demi memperkuat apa yang disebut Carney sebagai "otonomi strategis" mereka.Kerja sama tersebut kini mulai terwujud melalui program pengadaan pertahanan SAFE milik Uni Eropa yang bernilai €150 miliar (USD170 miliar), di mana Kanada menjadi negara non-Eropa pertama yang turut serta. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya militerisasi yang lebih luas oleh Brussels di bawah strategi Readiness 2030, yang bertujuan menangkal dugaan ancaman dari Rusia—sebuah tuduhan yang telah berulang kali dibantah oleh Moskow.

Ottawa juga berupaya menjalin hubungan lebih erat dengan struktur militer Eropa di luar lingkup Uni Eropa. Pekan lalu, Kanada secara resmi mengajukan diri untuk bergabung dengan Joint Expeditionary Force (JEF) yang dipimpin Inggris.

JEF adalah kelompok militer tanggap cepat beranggotakan sepuluh negara yang melengkapi peran NATO dan beroperasi terutama di wilayah Arktik, Atlantik Utara, serta Baltik—area-area krusial di sisi utara blok tersebut yang membentang hingga ke perbatasan Rusia.

Topik Menarik