Inspektur Jenderal Pentagon Akhirnya Akui AS Kekurangan Amunisi akibat Perang Iran

Inspektur Jenderal Pentagon Akhirnya Akui AS Kekurangan Amunisi akibat Perang Iran

Global | sindonews | Selasa, 15 September 2026 - 12:49
share

Inspektur Jenderal Departemen Perang (Pentagon) akhirnya mengakui bahwa Amerika Serikat (AS) kekurangan amunisi sebagai imbas dari perang melawan Iran. Pengakuan ini muncul dalam laporan pertamanya mengenai perang tersebut pada hari Senin.

Laporan tersebut menyebut konflik telah menyebabkan kekurangan amunisi AS serta munculnya “bottleneck” atau hambatan dalam rantai pasokan ketika pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya mengisi kembali persediaan persenjataan.

Baca Juga: Pertama Kali Dibuka, Rekaman Video Tunjukkan Kehadiran Pasukan Darat AS di Iran

“Untuk mengatasi berbagai kendala ini, Pentagon bekerja untuk menyederhanakan proses pengadaan dan memperpendek waktu produksi, serta menimbun bahan-bahan penting, komponen, dan jenis amunisi tertentu agar dapat merespons secara cepat ketika terjadi keadaan darurat," bunyi laporan tersebut, yang dilansir NBC News, Selasa (15/9/2026).

Menteri Perang Pete Hegseth sebelumnya membantah laporan yang menyebut AS mulai kehabisan amunisi.

Presiden Donald Trump juga mengatakan pada Senin melalui Truth Social, "AS memproduksi lebih banyak senjata Eksotis dan Elite dibandingkan kapan pun dalam sejarah kami. Senjata-senjata tersebut dikirim setiap hari kepada pasukan kami di Timur Tengah dan wilayah lainnya.”

Dua pekan sebelumnya, Trump mengatakan: "AS memiliki amunisi dalam jumlah yang nyaris tak terbatas” dan mengecam laporan mengenai kekurangan amunisi.

Laporan Inspektur Jenderal Pentagon yang disusun atas mandat Kongres tersebut mencakup periode sejak dimulainya perang pada 28 Februari hingga 30 Juni. Ini merupakan salah satu laporan publik pertama dari lembaga pemerintah AS yang memerinci biaya, cakupan dan skala konflik yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran, termasuk dampaknya terhadap militer AS, Departemen Luar Negeri dan sejumlah lembaga lainnya.

Laporan tersebut muncul setelah adanya pemberitaan mengenai merosotnya moral pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah, menipisnya persediaan sejumlah amunisi penting, serta kerusakan besar terhadap aset militer dan intelijen Amerika di kawasan tersebut.

Iran Serang Pusat Logistik Angkatan Laut AS

Salah satu temuan penting laporan itu adalah konfirmasi pemerintah AS untuk pertama kalinya bahwa Iran menargetkan pusat logistik utama Angkatan Laut AS di kawasan Timur Tengah, yang berada di Bahrain, menggunakan drone dan rudal balistik.

Pentagon belum segera memberikan tanggapan ketika dimintai komentar mengenai laporan tersebut.

Laporan itu tidak membahas dugaan serangan AS terhadap sebuah sekolah dasar (SD) di Iran pada jam-jam awal perang. Militer AS hingga kini belum merilis hasil investigasi internal mengenai pengeboman tersebut. NBC News melaporkan pada Juni bahwa penyelidikan itu sedang dalam tahap finalisasi.

Laporan Inspektur Jenderal Pentagon merinci kerusakan terhadap peralatan militer, pesawat dan berbagai perlengkapan lainnya selama empat bulan pertama perang, termasuk kehancuran sedikitnya 30 drone besar milik AS.

Perang melawan Iran dilaporkan telah menelan biaya sekitar USD33,4 miliar.

Angka tersebut belum mencakup biaya perbaikan fasilitas yang rusak. Rinciannya meliputi USD22,3 miliar untuk amunisi yang telah digunakan, USD3,7 miliar untuk kehilangan peralatan, dan USD7,4 miliar untuk pengeluaran lainnya.

Sebelumnya, NBC News melaporkan pada Juli bahwa perang tersebut telah menelan biaya antara USD80 miliar hingga USD100 miliar, berdasarkan keterangan tiga pejabat AS dan tiga orang yang mengetahui estimasi biaya internal.

Pentagon secara terbuka menyatakan pada Juli bahwa perang telah menghabiskan sekitar USD37,5 miliar. Namun, estimasi tersebut tidak mencakup biaya penggantian pesawat, perbaikan pangkalan AS dan pengisian kembali persediaan persenjataan penting.Laporan Inspektur Jenderal Pentagon juga mencatat sejumlah kerusakan terhadap pesawat dan peralatan militer AS, termasuk beberapa pangkalan Amerika di kawasan Timur Tengah.

Untuk kategori pesawat, laporan menyebut empat jet tempur F-15E, satu F-35A Joint Strike Fighter dan satu A-10 Warthog mengalami kehancuran atau kerusakan berat. A-10 tersebut dilaporkan hancur.

Selain itu, 12 pesawat tanker KC-135 dan sembilan pesawat lainnya juga hancur.

Lebih dari 30 drone MQ-9 telah hancur hingga Juni, menurut laporan tersebut yang mengutip Congressional Research Service.

Kerugian tersebut memperlihatkan besarnya tekanan yang ditanggung militer AS selama perang, terutama terhadap persediaan drone dan sejumlah platform udara yang digunakan dalam operasi di kawasan.

Lebih lanjut, perang tersebut menyebabkan lebih dari 20.000 personel militer dan diplomatik AS dipindahkan.

Mereka direlokasi sejak awal konflik dan dalam beberapa hari serta pekan berikutnya karena pertimbangan keamanan.

Sebagian besar evaluasi medis terhadap personel AS yang terluka dilakukan di darat. Beberapa di antaranya bahkan menggunakan ambulans lokal dan pasien dibawa ke fasilitas medis setempat karena kemampuan evakuasi udara telah dipindahkan akibat kekhawatiran keamanan.Pasukan AS juga melakukan hingga 5.000 penerbangan dari pangkalan-pangkalan di Eropa untuk mendukung operasi perang.

Trump sebelumnya berulang kali mengeluhkan bahwa sekutu Eropa tidak berbuat cukup untuk membantu mendukung perang tersebut.

Kerugian tidak hanya dialami militer AS. Departemen Luar Negeri AS mengalami kerugian lebih dari USD208 juta di empat negara, yakni Irak, Kuwait, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Menurut laporan tersebut, sekitar USD184 juta merupakan kerusakan terhadap fasilitas diplomatik, sementara sekitar USD25 juta lainnya berkaitan dengan keterlambatan proyek konstruksi.

NBC News sebelumnya melaporkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan Iran terhadap pangkalan militer AS jauh lebih luas daripada yang diketahui publik.

Iran juga disebut menyebabkan kerusakan lebih besar terhadap aset intelijen dan pengawasan Amerika di kawasan tersebut dibandingkan yang pernah dialami badan-badan intelijen AS sebelumnya. Biaya perbaikannya diperkirakan mencapai miliaran dolar.

Ketika perang dimulai, Trump sempat mengatakan konflik hanya akan berlangsung selama beberapa pekan.Namun, pada akhir pekan lalu, Trump mengatakan perang tersebut mungkin baru berakhir “tepat setelah” pemilu sela November, atau bahkan sebelum pemilu tersebut.

Jika konflik berlangsung lebih lama, tekanan terhadap persediaan amunisi dan rantai pasokan militer AS berpotensi semakin besar.

Laporan Inspektur Jenderal Pentagon secara tidak langsung menunjukkan persoalan tersebut.

Militer AS bukan hanya harus mempertahankan operasi tempur yang sedang berlangsung, tetapi juga harus mengisi kembali stok rudal, bom, drone, suku cadang dan berbagai perlengkapan yang telah digunakan atau hancur.

Laporan itu juga tidak membahas secara khusus moral pasukan AS yang ditempatkan dalam operasi perang.

Dalam beberapa pekan terakhir, kekhawatiran mengenai memburuknya kondisi personel AS di kapal induk USS Abraham Lincoln selama penempatan berkepanjangan di Timur Tengah semakin meningkat.

Pentagon kemudian mengumumkan bahwa kapal induk tersebut akan digantikan. USS Abraham Lincoln kini dalam perjalanan kembali ke pangkalannya di San Diego setelah singgah di Thailand.

Topik Menarik